Negara yang sehat tidak mengurusi soal keyakinan rakyatnya, rakyatnya mau atheist, theist, deist, agnostic, moron, stupid, retarded bukan menjadi wilayah kerja aparatus negara.

Urusan utama negara adalah menjamin keamanan semua rakyatnya tanpa terkecuali. Jika ada satu rakyat yang secara menyakinkan merugikan orang lain maka negara punya tugas di sana, bukan mengurusi soal-soal personal (private) dalam berbagai bentuknya.

Soal perdebatan antara keyakinan A dan B itu wajar dalam dinamika peradaban manusia, asalkan dilakukan dalam arena terbuka dengan aturan yang FAIR. Ini penting untuk mendidik kesadaran kita agar semakin luas menyikapi sebuah perbedaan.

Untuk menjadi masyarakat yang rasional memang perlu banyak latihan berbeda. Jika tidak siap berbeda maka jangan hidup dalam era “multikultur, multiethnic, multiras, multitalent, multifaith, multiperspektive, hingga multiverse”. Anda mungkin lebih cocok hidup dalam era “monoculture, monofaith, monotalent, monoras, hingga monoverse”.

#Itusaja!

Foto header: ITA APULINA TARIGAN








Leave a Reply