Ia seorang mahasiswi dan perempuan cerdas dari Uganda. Berwawasan luas. Kenal Bali dan harimau Sumatera. Sangat religius (tipikal kebanyakan orang dari negeri yang ‘kurang maju’). Suka tersenyum. Mandiri. Ambisius. Tekun belajar, bersosialisasi, dan berpolitik. Pastinya kelak akan menjadi tokoh penting di negerinya (setidaknya satu level dengan staf ahli menteri).

Perempuan yang begitu optimis bila kemajuan negerinya (baiknya) dinakhodai oleh British yang pernah menjajah Uganda, namun akhirnya memberi kemerdekaan penuh pada negeri ini di Tahun 1962, dan otomatis bergabung dengan The Commonwealth of Nations (Negara-Negara Persemakmuran Inggris Raya): sebuah organisasi internasional yang terdiri dari negara-negara berdaulat yang didirikan dan pernah dijajah oleh Inggris Raya (Great Britain).




“Mengapa harus begitu? Tidakkah kalian menginginkan dan merindukan otonomi penuh, otoritas superior atas nasib dan jalan bangsa sendiri?” tanya saya suatu siang di kampus.

“Apakah kami bisa makan kenyang dari otonomi? Apakah kami mampu tidur lelap dengan otoritas? Tidak! Ketika Uganda beralih kepada pemerintahan orang-orang lokal, yang ada hanyalah penderitaan, korupsi, sering juga perselisihan. Tak ada kemajuan! Peninggalan British yang begitu bagus mereka hancurkan. Tidakkah kamu juga menginginkan negerimu seperti itu?”

“Kami punya pendiri bangsa Hatta ‘si kutu buku’ yang hebat, Soekarno ‘sang orator mumpuni’ yang dicintai sampai sekarang, Sjahrir ‘politisi sejati’ yang berpihak pada rakyat, dan seterusnya. Otonomi dan otoritas kami bukan diberi tapi direbut dan diperjuangkan. Persoalan kami sekarang, barangkali salah satunya meneguhkan kembali ‘imajinasi positif’ akan arti sebuah bangsa.”

“How lucky you are!” jawabnya singkat dan terdiam lama.

Ah, tidak juga! Indonesia pun masih ‘so-so’ kok hahahahahaaaaa 

Untungnya, kami masih bisa tenang dan sejenak ‘melupakan kenyataan hidup’ dengan makan BPK, saksang, bakso, lontong, sate kambing, gudeg, mie ayam, mie Jowo, dan lanjut….








Leave a Reply