Sebenarnya agama sudah tidak bisa dijadikan sandaran dalam melihat realitas, karena buku-buku yang dicap suci justru suck dalam menjelaskan realitas.

Science memang masih terlalu muda, tapi di usianya yang masih belia science sanggup memberikan banyak pada species manusia. Mulai dari mesin uap sederhana hingga jaringan Internet yang rumit dan kompleks.

Di satu sisi agama justru banyak melahirkan petaka kemanusiaan di mana-mana.

Jadi, kesimpulannya simple, buang agama keruang sunyi yang super private dan replace pahaman kita ke science, terbukti lebih mencerahkan sekaligus menyenangkan.

#Itusaja!








1 COMMENT

  1. “Jadi, kesimpulannya simple, buang agama keruang sunyi yang super private dan replace pahaman kita ke science, terbukti lebih mencerahkan sekaligus menyenangkan.”

    Betul memang begitu dalam kenyataan, seperti di barat (eropah) dimana agama dianggap masalah pribadi dan tak perlu dicampuri orang lain. Juga tidak perlu melibatkan orang lain dalam agama sendiri. Disana masalah science pun jauh lebih maju dari negeri mana saja dimana agama belum dijadikan soal pribadi/privat.

    Agama atau kepercayaan adalah urusan masing-masing secara pribadi dengan Tuhannya masing-masing juga. Lain agama lain Tuhannya. Itulah kepercayaan dan keyakinan berTuhan. Kalau agama sudah menjadi soal pribadi saja, tentu tidak perlu ada orang yang bertanya ‘mana bidannya’ kalau ada ‘anak Tuhan’ menurut kepercayaan lain, sehingga bikin bentrok atau perpecahan dalam satu nation atau satu komuniti.

    Dari segi lain juga tidak boleh melupakan kalau didunia ini tetap masih ada grup atau golongan tertentu yang justru menginginkan perpecahan dan bikin adu domba dari segi apa saja termasuk masih sangat populer dari segi agama/kepercayaan. Karena dengan agama bisa cepat mencapai tujuannya, perpecahan itu total atau sempurna. Orang-orang ini adalah grup ‘divide and conquer’ internasional, yang sejak adanya masyarakat sudah ada terutama setelah lahirnya duit, dan terus mengikuti perkembangan masyarakat yang ada, dan dimana saja akan melaksanakan ‘divide and conqer’ itu demi mencapai tujuannya. Terakhir gerombolan ini terkenal dengan pemerakarsa ISIS di Syria dan Irak. Tujuannya? Duit, duit, duit . . . .

    Indonesia dipecah denga teror 3 juta . . . emas/tambang berharga di Papua dilego neolib Freeport . . . 50 tahun! Orang Indonesia puas berhasil membantai 3 juta ‘orang kafir’ rakyatnya sendiri, Soeharto puas dengan kepresidenannya, neolib puas dengan triliunan dolarnya . . . siapa yang paling pintar? Tak bedanya denga penduduk Syria dan Irak yang puas dengan saling bunuhnya, neolib/ISIS puas dengan melego triliuanan dolar dari minyak mereka. Siapa yang pintar? Atau siapa paling bodoh?

    Ketika berkobarnya gerakan makar 411 dan 212, dari pengakuan panitianya dapat bantuan ratusan juta dari penyumbang ‘suka rela’. Para pemimpinnya puas, dan pendemo juga puas dengan sebuah
    nasi bungkus untuk demo sepanjang hari dijalan panas terik matahri. Pentolannya banyak diciduk dan diadili, ada yang buron sampai sekarang tak berani pulang ke Indonesia. Pemerintah dan aparat juga merasa puas karena berhasil menghindari pertumpahan darah yang sebenarnya sangat diinginkan oleh pemerakarsa ‘divide and conquer’ internasional itu, seperti di Syria dan Irak atau seperti di Indonesia 1965. Puji Tuhan, dan puji pemerintahan Jokoki/JK dan semua aparat keamanannya yang sangat berjasa dalam menjaga keutuhan NKRI tanpa pertumpahan darah atau saling bunuh sesama kita.

    Mengapa gerakan makar ini tidak berhasil seperti di Syria dan Irak atau di Indonesia 1965?

    Sebab utama ialah adanya perubahan besar abad 21: era keterbukaan dan partisipasi publik yang luar biasa luasnya, sehingga apa saja yang tersembunyi dan disembunyikan bisa keluar ke permukaan dan diketahui publik yang luas. Rakyat Indonesia sangat fasih mengikuti perubahan dan perkembangan dunia. Keterbukaan, transparansi dan partisipasi publik sudah berada disini dihadapan kita. Ketertutupan dan banyak rahasia sudah berlalu, sehingga tidak masuk akal akan masih bisa bertahan pada abad ini. Gerombolan ‘divide and conquer’ adalah grup tertutup, grup gelap dan banyak rahasia, mengandalkan organisasi-organisasi mata-mata rahasia ke seluruh dunia.

    Apakah manusia membutuhkan ketertutupan mengembangkan kemanusiaannya? Mengembangkan kemanusiaan lumrah hanya dengan keterbukaan dan kejujuran. Tetapi abad lalu, ketertutupan dan kerahasiaan masih bisa jalan karena belum mungkin ada keterbukaan dan partisipasi publik yang luas. Perkembangan teknik belum mendukung. Sekarang tak perlu lagi ketertutupan. Tranparansi dan kejujuran sudah bisa jalan bagus. Ituah naluri kemanusiaan yang sesungguhnya.

    Tetapi jangan lupa dan lengah! Neolib divide and conquernya masih ada. Dan masih kuat! Kontrdiksi masih sengit atau dalam puncaknya. Kontradiksi ini menggambarkan kepentingan nasional kontra kepentingan internasional neolib. Di AS Trump, kekuatan ini disebut ‘deep state’. Deep state ini sedang gencar-gencarnya bikin serangan kepada Trump sebagai kekuasaan nasionalis AS, kekuatan baru yang sangat dibenci oleh kekuatan neolib deep state. Deep state sekarang ini sedang fokus atas keterlibatan Rusia dalam pilpres yang mengalahkan wakil neolib Clinton Hillary. Pembohongan besar-besaran termasuk caranya. Barusan saja 3 wartawan senior CNN dipecat ketahuan bikin berita palsu soal keterlibatan Rusia itu. Karena berita palsu ini sudah terbongkar, Trump bikin nama CNN jadi FNN (Fake News Network).

    Semua koran neolib deep state dimobilisasi bikin fake news, yang penting berhasil jatuhkan pemimpin nasionalis Trump. Tetapi satu persatu pula taktik bulus ini ditelanjangi. Yang terakhir, berita keterlibatan putra Trump dan menantunya, belum terbongkar. Sangat menarik mengikuti soal ini. Semakin terlihat memang, bahwa KEBENARAN memang susah diputar balik. Terutama karena keterbukaan dan partisipasi publik yang luas tadi. Itu kuncinya.

    MUG

Leave a Reply