Jelas, teroris adalah perbuatan brutal dengan dalih keyakinan yang membuat kerusakan-kerusakan, membuat banyak orang meregang nyawa, membuat banyak orang menangis pilu kehilangan orang-orang terkasih. Belum lagi korban-korban yang cacat seumur hidup.

Lalu, koruptor apakah beda dengan teroris? Mari kita tinjau bersama dampak yang dilakukan oleh para koruptor.




Pembangungan Jalan yang Dikorupsi.
Tidak lama jalan itu rusak. Berlubang seperti kubangan. Tidak berapa lama, entah itu orang lain, sahabat, keluarga atau bahkan kita sendiri bisa menjadi korban gara-gara jalan yang rusak tersebut. Bisa jadi tewas atau bisa jadi luka-luka dan babak belur.

Pembangunan Jembatan yang Dikorupsi.
Tidak lama jembatan itu juga rusak. Ambrol. Rontok ketika musim hujan dengan derasnya air. Seperti halnya kejadian jalan yang rusak. Tentu rakyat akan sulit. Akan terisolir. Akan susah menjual hasil bumi. Belum lagi saat ambruk, tentu yang lagi lewat akan jadi korban. Akan tewas juga. Jika itu menimpa keluarga, sahabat dan teman, tentu juga sedih bukan main. Bahkan kita juga bisa jadi korban.




Pembangunan Gedung sekolah dan gedung lainnya.

Tidak lama gedung tersebut akan retak-retak. Seperti yang sering diberitakan, ada atap gedung sekolah yang rontok dan menimpa siswa. Sebagian dikabarkan tewas. Sebagian dikabarkan luka-luka. Jika itu menimpa anak-anak kita, tentu kita juga marah. Kita juga sedih. Atau yang paling fenomenal nilai korupsi yang gila-gilaan warisan rezim SBY membuat gedung itu mangkrak hingga sekarang, pembangunan yang di Hambalang, yang ditenggarai sekarang jadi rumah hantu. Rumah para demit, gendruwo dan kuntilanak.

Dan, banyak lagi korban nyawa yang diakibatkan para koruptor.

Jika sekarang Pansus Hak angket KPK sepertinya membela koruptor, padahal koruptor ternyata juga membuat korban di mana-mana, apa bedanya Koruptor dengan Teroris?

Apa coba?


Leave a Reply