Kolom Ganggas Yusmoro: ADA APA DENGAN MUHAMMADIYAH?

0
191

Mencermati isi dan materi Perppu Nomor 2 Tahun 2017 yang bisa disimpulkan bahwa siapapun ormas yang radikal, yang bertentangan dengan Pancasila akan dibubarkan. Akan diberangus!!

Yang membuat terhenyak dan terkaget-kaget adalah, kenapa Muhammadiyah tidak berada di barisan NU dan Ormas lainnya berdiri di samping pemerintah mendukung kebijakan yang fenomenal ini? Ada apa? Apakah Muhammadiyah sudah bermain-main dalam lingkaran abu-abu atau sudah tidak “ngeh” lagi dengan Pancasila sebagai landasan dalam berbangsa dan bernegara?

Atau muhammadiyah memandang ada aroma politis dikeluarkannya Perpu ini?

Memang, melihat dinamika politik sejak Pilkada DKI, apalagi selalu ada hingar bingar demo yang tidak berkesudahan. Ditengarai ada kelompok Ormas yang ikut menunggangi bahkan sudah berani ngelunjak ingin mengganti Pancasila dengan Khilafah. Tentu butuh kebijakan yang ekstra berani. Seorang Jokowi telah menorehkan sejarah besar menyelamatkan Pancasila sebagai way Of life demi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Artinya apa?




Jelas, Pancasila adalah pedoman Hidup dalam berbangsa dan bernegara tentu tidak boleh diusik. Tidak boleh diutak-atik atau dirubah. Merubah Pancasila dengan asas lain berarti sama saja ingin meruntuhkan NKRI yang beragam., yang berbhineka Tunggal Ika.

Jika macam-macam, itu harus digebuk!!

Kembali ke awal. Dalam keterangan Press, petinggi Muhammadiyah mengatakan, “pemerintah tidak siap dengan dinamika perpolitikan.” Pemerintah dianggap mengekang dalam berorganisasi untuk mengeluarkan pendapat.

Muhammadiyah boleh dan sah untuk tidak setuju. Muhammadiyah tentu mempunyai hak untuk tidak seiya sekata dalam menegakkan Pancasila. Namun radikalisme sudah merusak tatanan kerukunan. Radikalisme sudah gawat darurat. Radikalisme telah membuat dan merusak kepribadian bangsa ini yang terkenal dengan budayanya dan berbudi luhur.

Pernah kita dengar ucapan yang cenderung radikal dengan mengatakan Pulau Bali tempat maksiat. Pernah kita dengar ucapan radikal kata Campurasun diplesetkan menjadi campur racun.

Dan kalimat di atas disampaikan oleh ketua Ormas tertentu.

Jika mayoritas bagsa ini mengapresiasi keputusan Pak jokowi, kenapa Muhammadiyah malah giginya berkerut-kerut dan gemelethuk? Ada apa dengan Muhammadiyah?








Leave a Reply