Kolom Eko Kuntadhi: NONTON TV

0
317

Saya duduk berdua dengan Ibu Pertiwi di ruang keluarga. Dia sedang menjahit bendera yang koyak. Dan, saya menyaksikan berita demi berita dari stasiun TV.

“Siapa lagi yang mau menjahitkan bendera yang koyak ini? Anak-anak sekarang mungkin seumur hidupnya tidak pernah memasukkan benang ke lubang jarum,” dia seperti bicara pada dirinya sendiri.

Saya menangkap helaan nafas tipis. Lalu mencomot nastar.

Televisi menyiarkan berita para politisi yang sibuk melindungi diri. Mereka ingin menelanjangi KPK.

“Bu, mengapa mereka begitu?”

“Sejak kecil mereka memang selalu kelaparan. Dulu dia makan nasi dan sayur. Ketika besar dia memakan apa saja. Gunung, meja, laut, sapi. Mereka juga doyan mengunyah KTP,” jawabnya.




Lalu dia kembali terpaku dengan pekerjaannya.

Televisi menyajikan berita seorang kakek yang mulutnya celemotan. Dia seperti kecewa dengan hidupnya lalu menyemburkan kekecewaan dengan cara menghardik orang lain. Seingatku di masa muda, kakek itu penuh elan perjuangan. Kini dia membela HTI dan menuduh PKI bangkit seperti arwah lompat dari kuburnya.

“Kenapa dia berubah, bu?”

“Manusia, nak, seringkali tidak otentik. Dia berbuat dan bicara sesuai keinginan dan lingkungannya. Bukan nilai yang ditentengnya. Tapi kedengkian yang dipanggulnya.”

Saya hanya diam. Kadang saya memang tidak memahami jawaban-jawabannya. Sementara televisi terus saja menyemburkan berita.

Orang-orang penuh kemarahan mencaki maki bangsanya sendiri. Mereka mencela semuanya yang tidak sepaham. Mereka benci dengan Pancasila. Membenci NKRI. Bahkan membenci batik. Mereka mencemooh semua yang berbau Indonesia dan memuja segala yang berbau Arab.

“Bu, siapa yang menghamilimu hingga lahir anak-anak seperti itu? Mereka seperti membenci dirinya sendiri. Mereka seperti muak dengan darahnya sendiri?”

Ibu Pertiwi yang semula serius menjahit, tetiba mengangkat wajahnya. Dia menatapku dengan pandangan yang entah apa maknanya. Lalu dia membuang muka, mengalihkan pandangan ke jendela.

Matanya menerawang seperti sedang mencari-cari file yang hilang dalam ingatan.

“Malam itu, bapak pulang dalam keadaan mabuk. Dari nafasnya ibu melihat ratusan kecoa berhamburan. Matanya merah dan badannya bau got,” dia membuka cerita.

“Bapak mendatangi ibu seperti sapi yang sedang birahi.”




“Apakah ibu menikmatinya?”

Dia tidak menjawab pertanyaanku. Tapi aku tahu ada guratan pedih melintas di wajahnya.

“Sembilan bulan kemudian ibu melahirkan. Itulah mereka. Anak-anak yang tidak mencintai rumahnya sendiri. Orang-orang yang tidak percaya diri sebagai bangsa Indonesia. Mereka mengira semua yang Arab, atau AS atau Eropa lebih baik dari bangsanya.”

Lalu dia bangkit dari duduknya. Berjalan ke kamarnya. Begitu keluar dia sudah mengganti kebayanya dengan stelan training pack. Lengkap dengan sepatu lari.

“Ibu mau jongging dulu.”

“Bu… nanti pulangnya titip bubur ayam, ya…”







Leave a Reply