IMANUEL SITEPU. DELITUA. Akibat file data di SMK Singosari Delitua Jl. Besar Delitua (Kecamatan Delitua) tidak jelas, niat seorang siswa lulusan sekolah ini guna melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi Nasional (PTN) menjadi batal. Ini dialami salah seorang wali siswa, Drs. Jenda Bangun, warga Pasar 8 (Kecamatan Biru-biru).

Akibat tidak profesionalnya manajemen sekolah, Jenda Bangun (55) yang juga mantan guru dan merupakan wartawan senior ini, sempat mengajukan kekesalannya kepada Sulastri, selaku PKS 1 SMK Singosari [Kamis 13/7].




Jenda Bangun yang ditemui sejumlah wartawan usai keluar dari Perguruan Singosari Delitua menyebutkan, ketika menyambangi sekolah tersebut, pihaknya berencana menanyakan nomor Surat Keterangan Hasil Ujian (SKHU) putranya.

Hal itu dilakukan karena ketika putranya hendak meminta SKHU, justru mendapat penolakaan dari pihak sekolah.

“Kita meminta SKHU itu karena syarat mendaftar ke PTN harus menuliskan nomornya. SKHU yang pernah dibagikan hilang, sehingga satu-satunya solusi menanyakan ke sekolah. Namun apa mau dikata, pihak SMK Singosari tetap tidak memenuhi permintaan kita,“ ujarnya kesal.

Anehnya lagi sambung Ketua Komunitas Karo Deli ini, hingga beberapa jam ia menunggu di kantin sekolah agar permintaan dipenuhi, namun kehadirannya tak kunjung dilayani. Herannya lagi, sambungnya, ketika seorang bekas siswa SMK diketahui bernama Dewi Lestari keluar ruangan PKS1, Dewi malah mengatakan kalau ia baru saja mengurus SKHU miliknya.

“Betul saya memang mengurus SKHU,“ ujar mantan siswa SMK Singosari yang mengenakan jilbab itu.

Kepala SMA Singosari Gunawan yang kebetulan berpapasan dengan Jenda Bangun, meminta agar menjembatani masalah tersebut. Tapi lagi-lagi, usaha Pak Bangun untuk mengantarkan putranya ke jenjang pendidikan lebih tinggi masih gagal.

“Bahkan salah seorang guru yang sempat saya tanya menjelaskan data tentang SMK Singosari tidak ditemukan. Saya betul-betul seperti dipermainkan,” kesal Jenda Bangun.

Melapor Ke Dinas Pendidikan

Pengalaman kurang menyenangkan atas kelakuan pihak sekolah Singosari Delitua, menurut Bangun bakal dilaporkan ke Dinas Pendidikan Sumut. Menurut Bangun, setiap sekolah wajib memiliki file dan arsip yang tertinggal di sekolah karena hal tersebut adalah data penting guna kebutuhan sekolah dan siswa.

“Data SMK Singosari yang tidak ditemukan menjadi bukti manajamen yang buruk. Kita berencana melaporkan pelayanan sekolah ini agar tidak dialami anggota masyarakat lainnya,” ujarnya.




Jenda Bangun yang merupakan alumni IKIP Medan ini sangat tersinggung dengan pelayanan SMK Singosari. Kegagalan pendaftaran putranya sulit untuk ia lupakan.

“Semoga pengalaman ini menjadi rujukan anggota masyarakat lainnya guna berurusan dengan sekolah ini,” tambahnya.

Kepala SMK Singosari Bambang Santoso ketika hendak dikonfirmasi di ruang kerjanya, dalam keadaan kosong.

Ketika wartawan mempertanyakan kepada sejumlah siswa SMK yang berada di sekitar lokasi sekolah mengatakan oknum kepala sekolah itu jarang ditemukan di sekolah.


Leave a Reply