Dulu, sebelum ada pabrik yang memproduksi batik secara masal, batik dibuat oleh tangan-tangan terampil. Dibuat sangat tradisional dengan cara ditulis, digambar di selembar kain.

Proses yang teramat panjang sehingga menjadi selembar kain batik, tentu butuh ketelatenan. Butuh kesabaran. Butuh nilai estetika dan nilai seni yang luar biasa.

Di sinilah hebatnya leluhur bangsa ini. Batik menjadi trade mark. Menjadi jati diri bangsa ini. Menunjukkan bahwa bangsa ini adalah manusia manusia yang cerdas, yang harus memadukan olah roso, olah pikir dan olah batin sehingga tercipta sebuah maha karya yang diimplementasikan menjadi kain batik.

Apakah ada negara lain yang mempunyai seni dengan cita rasa tinggi seperti batik? Tentu jawabnya tidak ada.

Ketika ada Seorang ustadz yang seakan mendeskreditkan batik dengan dalih agama, ketika peninggalan leluhur seakan disepelekan, tentu merupakan sebuah hal yang sangat tidak terpuji dan sangat menyakitkan.

Ini adalah soal moral. Ini adalah soal etika dan estetika dalam berbangsa dan bernegara menyikapi dan menjunjung tinggi warisan leluhur yang harus dijunjung tinggi. Yang harus diuri-uri, yang harus dijaga kelestariannya sebagai bangsa yang mempunyai peradaban. Sekali lagi, peradaban.

Diturunkannya agama jelas untuk memperbaiki akhlak manusia. Jika ada seorang tokoh agama namun justru sangat tidak menghargai warisan leluhur, rasanya harus mempertanyakan akhlak sang ustadz.

Jika budaya membentuk manusia beradab, seharusnya agama juga malah membentuk manusia labih beradab. Dan, jika orang beragama tidak beradab, lalu jadinya bagaimana?








Leave a Reply