Kolom Andi Safiah: AHOK DAN DINAMIKA PUBLIK

1
741

Terlepas dari pro dan kontra terhadap Ahok, secara pribadi saya melihat bahwa ada yang “ABSEN” dalam dinamika publik pasca di tetapkannya Ahok sebagai tersangka penistaan agama dan harus menetap di penjara selama 2 tahun.

Menyebut nama Ahok dalam ruang-ruang publik seperti medsos saja bisa melahirkan begitu beragam perspective, dari yang bangga hingga yang mau muntah berkumpul jadi satu, mereka menciptakan berbagai forum, group baik di WA, hingga di group-group arisan-semua membicarakan sepak terjang Ahok yang membanggakan sekaligus menjengkelkan.

Begitulah karakter publik Indonesia, menarik, asik, menyenangkan hingga pada level menjengkelan. Apakah semua itu bermasalah? Bagi saya pribadi, justru itulah esensi dari keterbukaan di mana siapapun dia bebas untuk melampiaskan ekspresinya secara terbuka. Bebas tapi ingat tetap harus bertanggungjawab.

Kembali ke Ahok, sejak kepindahan dia dari kantor gubernuran ke rumah barunya di Mako Brimob, suara Ahok tidak begitu terdengar lantang seperti biasanya. Banyak spekulasi soal ini, tapi bagi saya absennya Ahok dalam ruang publik justru merugikan publik itu sendiri, terutama warga Jakarta dan Indonesia secara menyeluruh; pasalnya Ahok sering secara alamiah membongkar kebusukan-kebusukan yang selama ini tidak pernah diakses oleh publik.




Satu contoh sederhana, ketika rapat-rapat yang tadinya tertutup dibuat publik olehnya. Bukan untuk sebuah pencitraan, tapi memang begitulah seharusnya. Seorang pejabat publik harus memahami prinsip akuntabilitas dan Ahok mencoba melakukan itu. Pada awalnya publik gagap, namum lama kelamaan publik menjadi paham, bahwa tugas pejabat publik adalah membuka ruang informasi yang seluas-luasnya kepada publik atas aktivitas pejabat publik. Prinsip melayani-bukan mau dilayani adalah spirit dari pemerintahan yang akuntable dan di era Ahok itu coba dilakukan.

Pada konteks ini saja, Ahok sukses membuka ruang diealektika publik yang akhirnya melahirkan dinamika pro dan kontra dalam kesadaran publik. Bagi mereka yang pro tentu saja kebijakan Ahok sangat berguna karena mereka bisa menyaksikan langsung bagaimana proses pengambilan keputusan, tapi bagi mereka yang kontra tentu saja tidak demikian.




Ahok terlepas dari apapun saya sendiri menilai bahwa bangsa ini memang perlu lebih waras dan lebih selektif dalam membungkam rakyatnya, kasus Ahok telah mendidik bangsa ini bahwa yang waras dan berguna bagi bangsa ini selalu menjadi korban dari masyarakat yang nalarnya masih aktif separuh, belum benar-benar aktif secara efisien; sehingga proses pengambilan keputusan terutama di pengadilan menjadi bias akibat ‘nalar separuh’ dari para hakim yang masih terjebak pada conflict of interest secara personal.

Itulah Ahok dan masih banyak lagi manusia macam Ahok yang berkeliaran di dunia maya yang juga dijerat oleh UU yang sama sekali tidak memenuhi unsur UU karena memang pijakannya ABSURD seAbsurd sumbernya.

#Itusaja!

FOTO HEADER: Sepasang penari berbusana Suku Karo (Sumatera Utara)


1 COMMENT

  1. “Ahok sering secara alamiah membongkar kebusukan-kebusukan yang selama ini tidak pernah diakses oleh publik.”

    Keterbukaan atau transparansi Ahok memang ‘alamiah’ sungguh. Yang lain mencapnya sebagai ‘ceplas-ceplos’ dan malah memanfaatkan menjerat dan menjegal Ahok, seperti terjadi di pulau Pramuka, ayat 51 yang dipakai orang untuk menipu, diplentir Buni Yani dan jadi perkara besar melengserkan dan memenjarakan Ahok 2 tahun. Tentu disini berlaku kepentingan lain dibelakang serangan terhadap Ahok, yaitu sasaran pemerintahan Jokowi/JK.

    Dalai Lama pernah bilang kalau sekarang ‘religion become an instrument to cheat people’, yang secara hakiki sama saja dengan mengatakan bahwa ‘ayat 51 dipakai orang untuk menipu’. Tetapi mengapa ucapan Dalai Lama tidak dibesar-besarkan? Karena ucapan Dalai Lama tidak bisa menyasar pemerintahan Jokowi atau menyingkirkan Ahok.

    Keterbukaan dan transparansi bagi Ahok adalah ‘alamiah’. Tetapi bagi perubahan jaman, juga semacam perubahan alamiah. Keterbukaan (openness) adalah perubahan jaman, perubahan sejarah saling hubungan antara manusia sekarang karena telah dimungkinkan oleh perubahan dan perkembangan teknik (digital) abad 21. Peredaran informasi yang luas dan partisipasi publik yang sangat luas, membikin usaha mempertahankan ‘rahasia dan ketertutupan’, menjadi usaha yang sia-sia untuk dipertahankan. Neolib internasional atau yang di AS sekarang disebut ‘deep state’ masih berusaha keras mempertahankan ketertutupan dan kerahasiaan ini. Dan dengan munculnya Trump sebagai Ahoknya AS (keterbukaan alamian alias ceplas ceplos) bikin gerombolan deep state kalang kabut. Usaha deep state untuk menjatuhkan Trump tidaklah segampang menjatuhkan Soekarno pada jamannya.

    Pemerintahan Obama dalam pengakuannya adalah pemerintahan paling transparan dalam sejarah AS, katanya. Tetapi ketika rakyat AS menuntut transparansi dalam penyiksaan tahanan Guantanamo, Obama bikin banyak alasan untuk tidak membukanya dihadapan publik. Obama takut berhadapan dengan penguasa deep state, karena memang semua presiden AS sejak era Andrew Jackson (1829) sampai ke Obama adalah milik the party of money atau ‘finance element of the large centers’ (istilah presiden Roosevelt) atau yang sekarang disbut ‘deep state’.

    Seperti kita sudah ketahui, Trump tidak mau dimiliki oleh the party of money ini. Dan dia mau digulingkan atau mau di impeach, dengan tuduhan kerja sama dengan Rusia dalam pilpres lalu. Beberapa wartawan kawakan dari CNN baru saja dipecat karena bikin fake news soal keterlibatan Rusia ini. Dan Trump lantas menamakan CNN jadi FNN (Fake News Network).

    Kemudian ada angin baru dalam kolusi Rusia ini, yaitu Trump Jr dituduh bikin pertemuan dengan seorang advokat Rusia ketika pemilihan itu. Kalau menurut koran-koran pro Trump, memang Trump Jr ini sengaja dijebak untuk bikin pertemuan itu dan telah menjadi bahan besar bagi koran-koran MSM (main stream media) milik deep state. Yang dibesar-besarkan ialah pertemuannya, tetapi apa isinya tidak pernah diberitakan, karena memang tidak ada isi yang patut jadi berita besar, apalagi yang katanya merugikan AS.

    Dan Trump Jr terus terang saja katakan apa yang dibicarakan. Dia tidak merahasiakan apapun dari pertemuan itu yang berlangsung cuma belasan menit. Ketika Trump Jr meminta bukti nyata berupa fakta tertulis dari semua keterangan orang Rusia itu, tak ada bukti dan pembicaraan dihentikan oleh Trump Jr. Sampai sekarang yang menjadi berita besar MSM deep state hanya pertemuannya ha ha . . .
    Kelihatannya usah impeach Trump dari pertemuan ini juga akan gagal.

    MUG

Leave a Reply