Kolom Panji Asmoro Edan: Kelak Kecerdasan Buatan Mengambil Alih Pekerjaan Anda!

0
380

Terus berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) akan membuat semakin ketat pula persaingan kehidupan antara sesama manusia di masa mendatang. Salah satu bentuk perkembangan Iptek yang luar biasa adalah dengan penemuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang diprediksi akan banyak mengambil alih pekerjaan manusia.

Seperti dirilis oleh craveonline.com, pada 25 Mei 2017 lalu, seorang profesor Harvard dan pendiri Facebook (Mark Zuckerberg) kepada kelas Harvard berbicara bagaimana generasi mendatang harus berurusan dengan puluhan juta pekerjaan yang digantikan oleh perangkat AI.

Sehari sebelumnya, Katja Grace dari Future of Humanity Institute di University of Oxford dan 4 periset lainnya menerbitkan kajian berjudul “When Will AI exceed Human Performance” yang kajiannya tersedia di Cornell University Library.

Dalam sebuah penelitian, para peneliti mensurvei 1.634 ahli terkemuka dunia di bidang kecerdasan buatan untuk menentukan kerangka waktu penggantian manusia dengan mesin. Temuan mereka sungguh mengejutkan. Tidak butuh waktu lama, kecerdasan buatan mampu menggantikan banyak bidang pekerjaan manusia.




Para ahli memprediksi, selama dekade berikutnya, AI akan mengungguli manusia dalam menerjemahkan bahasa (pada 2024), menulis esai sekolah menengah (tahun 2026), dan auto pilot truk (pada tahun 2027).

Bergerak sedikit lebih jauh ke masa depan, para ahli memprediksi AI akan menggantikan manusia yang bekerja secara eceran (2031), menulis buku terlaris New York Times (2049), dan melakukan operasi (2053).

Studi tersebut menyimpulkan, periset percaya bahwa ada kemungkinan 50% AI mengungguli manusia dalam semua tugas dalam 45 tahun dan mengotomatisasi semua pekerjaan manusia dalam 120 tahun ke depan.

MIT Technology Review bahkan memprediksi 40 tahun ke depan akan terjadi perubahan pada kinerja manusia. Angka itu penting ketika manusia membuat prediksi karena ini adalah masa kerja kebanyakan orang. Setiap perubahan yang diperkirakan jauh dari itu berarti perubahan itu akan terjadi di luar masa kerja semua orang yang bekerja hari ini.

Terjadinya outsourcing (alih daya) pekerjaan manusia dengan AI tetap menuai pro-kontra, sebagaimana terjadi di AS. Akibat adanya alih daya, banyak tugas-tugas warga negara digantikan oleh ‘mesin pintar’. Namun, meski tampak tidak proporsional, banyak juga yang memberi pendapat positif pada kemajuan Iptek tersebut.

Yang belum banyak diketahui umum, Jepang sendiri sudah memulai program AI untuk menulis sebuah novel. Novel tersebut berjudul The Day A Computer Writes A Novel, yang lolos ke putaran pertama untuk sebuah hadiah sastra nasional. Meski tidak menang, itu menunjukkan bukti kemampuan AI dengan kemampuannya menghasilkan konten asli secara mandiri.

Dan yang lebih di luar dugaan, responden Asia mengharapkan kemajuan AI ini lebih cepat daripada orang di Amerika Utara. Apakah AI menjadi gagasan terpintar yang pernah dimiliki manusia atau malah kelak akan memberi problematika baru terhadap aktifitas dan kehidupan sosial manusia itu sendiri?

Mungkin kita jangan terlalu cemas karena transformasi kemajuan peradaban manusia dengan perkembangan AI juga pernah terjadi di masa revolusi industri antara tahun 1750-1850.

Revolusi industri membuat terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi yang berdampak mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia, tetapi manusia mampu beradaptasi dengan kemajuan yang diciptakannya sendiri.

Bagi Indonesia, apa yang telah dicapai di luar sana tidak boleh membuat negara kita lengah sehingga hanya menjadi penonton, bahkan menjadi korban ‘penjajahan’ dari negara-negara yang menguasai AI di masa mendatang.

Di saat sebagian bangsa Indonesia mulai memfokuskan diri ke urusan akhirat, ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) tentu jangan sampai terabaikan karena bisa membuat negara kita digilas oleh kemajuan peradaban global.

Saya tercenung ketika membaca berita seorang anak Indonesia dengan hapalan-hapalan dari ilmu agamanya mampu menangkap jin dan memasukkannya ke dalam botol, sedangkan seorang anak di India dengan usia yang sama sudah mampu menciptakan mini satelit yang berhasil diorbitkan ke luar angkasa.

Negara kita tentu membutuhkan generasi yang lebih dari itu.








Leave a Reply