Kolom Telah Purba: KEMBALI KE PASAR TRADISIONAL

0
466

Mengamati pemberitaan di media sehubungan dengan terungkapnya permainan beras bersubsidi oleh Kepolisian Republik Indonesia dan yang memainkan peranan dengan menggandeng toko-toko modern. Sangatlah jelas, amat banyak masyarakat Indonesia yang tertipu mentah-mentah.


Di toko modern itu, ternyata kita cuma disuguhi beras kwalitas subsidi dengan harga beli beras premium. Oh, alangkah sedihnya.

Berarti, yang dibeli mahal itu ternyata cuma bungkusnya yang keren dan berwarna-warni.
Coba kita bayangkan, andaikata permainan mereka ini tidak terungkap, maka semakin makmur saja para penipu itu semuanya.

Membaca peta permainan mereka yang sudah terorganisir rapi dan sudah bermain lama, kemungkinan untung yang mereka rahup sudah bernilai ratusan triliun rupiah. Mega Fantastis. Jika kita bandingkan dengan hasil Tax Amnesti yang diprogramkan oleh Presiden Jokowi hasilnya bisa sebanding. Pantas saja rakyat terasa semakin susah!




Uang masyarakat sudah tertimbun di tangan para jahanam penipu itu semuanya. Bisa dipastikan, hanya sedikit sekali yang beredar kembali di tengah masyarakat untuk perputaran roda ekonomi. Ada baiknya, jika anda yang sudah membaca tulisan saya ini agar merenungkan sejenak saja, yakni pantaskah kita ke toko modern jika hanya sekedar membeli sembako?

Di pasar tradisional, anda tidak akan tertipu seperti itu. Coba kita ambil contoh. Di pasar tradisional, paling mahal anda beli beras kwalitas terbaik paling cuma Rp. 10 ribu/ Kg. Lantas, jika anda beli di toko modern, beras kwalitas subsidi tadi sebanyak 5 kilogram seharga Rp. 99 ribu berapa rupiah anda tertipu?

Di pasar tradisional anda mungkin akan masih bisa tawar menawar sedikit, jika kita beli agak banyak. Sedangkan di toko modern, jangan harap anda bisa tawar menawar. Paling duit recehan yang akan dikembalikan kepada anda karena harga di sana tidak pernah harga pas pembulatan, selalu ada angka aneh di belakang harganya. Misalnya Rp. 9.900, sehingga jika anda kasih uang Rp. 10 ribu, akan ada kembalian koin 100 perak, yang tidak bisa digunakan beli apapun juga.

Tahukah anda kelebihan toko modern? Hanya satu yang saya tahu, yakni semua kemasan terlihat cantik. Kalau soal harga? Oh… no… no…. no.

Bisakah anda kalkulasikan harga listrik untuk penerangan toko modern mereka? Mereka tentu tidak pernah perduli dengan harga listrik yang selangit karena yang membayar adalah dari duit anda sendiri.

Bisakah anda bayangkan berapa mereka harus menggaji karyawan tokonya? Mereka tentu tidak akan pernah perduli, karena yang bayar adalah dari duit anda juga.

Sangatlah bijaksana saya lihat pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang sampai saat ini melarang toko modern beroperasi di wilayah mereka. Karena tidak ada faktor plusnya. Pemerintah Provinsi rela tidak mendapatkan pemasukan dari izin dan pajak toko modern, namun lebih memberdayakan ekonomi masyarakat melalui pasar tradisional yang sudah ada sejak dulu.

Semoga tulisan ini bisa jadi bahan renungan buat kita semua, agar kita masyarakat lemah ekonomi ini justru seperti menggarami air laut. Artinya, cuma membuat yang kaya akan semakin kaya.








Leave a Reply