Hari ini istri saya bilang gini: “Pak, beras Maknyuss yang biasa kita makan sudah tidak ada. Ganti merk lain, ya?”

Sumpah, ketika istriku bilang begitu, saya sempat tercenung lama. Saya selama ini juga tidak mau tahu beras apa yg kami makan. Namun, ketika ternyata beredar berita bahwa beras “Maknyus” ternyata beras oplosan. Beras dari hasil tipu-tipu, beras biasa yang dijual premium. Dada ini terasa menggelegak. Berbaur dengan rasa amarah, jengkel dan membuat darah ini mendidih.

Bagaimana tidak? Ternyata, kami sebagai konsumen telah dikibuli mentah-mentah. Apalagi diberitakan bahwa kandungan gizi beras tersebut tidak sesuai dengan keterangan yang ada pada kemasan. Tentu hal itu perbuatan yang sangat keji. Biadab. Sangat tidak berperikemanusiaan. Brutal!




Apalagi jika ternyata betul bahwa ada keterlibatan oknum Partai PKS, kemarahan ini semakin menjadi-jadi. Terasa sangat menyakitkan dan dirugikan. Mustinya partai yang berbasis agama adalah ujung tombak nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh agama. Mustinya juga, PKS harus menjadi partai yang bisa menjadi keteladanan buat semua untuk berpolitik atau berbisnis dengan jujur. Jika begini, apa sebagai rakyat tidak boleh marah?

Namun satu hal, kami sebagai rakyat berterimaksih kepada aparat Kepolisian terutama kepada Bpk Jenderal Tito Karnavian yang telah membongkar mafia beras, yang terus berusaha memperbaiki citra kepolisian sebagai pelayan masyarakat, yang terus akan menggebuk para mafia pangan.

Pantas saja, Pak Tito. Meski makan saya banyak, namun tidak juga bisa gemuk. Hanya perut saja yang agak membuncit. Padahal, sumpah, saya tidak sedang cacingan. Lha, wong ternyata dibohongi pakai Maknyuss.

Salam dan hormat buat anda, Pak Tito. Hajar terus para mafioso sekalipun berlindung dalam di baju agama.

Hormat kami buat anda…






Leave a Reply