Dalam sebuah perjalanan di dalam bus dari Surabaya ke Jakarta. Dis ebelah saya duduk seorang orangtua, yang naik dari daerah Lamongan. Setelah kami bertegur sapa, dia Jelaskan bahwa desa tempat tinggalnya di pinggiran pantai di daerah Tanjung Kodok. Ketika ngobrol itulah, saya sadari ada sesosok gadis belia yang mendampingi dia, namun tidak ada yang menyadarinya. Si orang tua sendiri pun tidak tahu ada yang mengikutinya dalam sosok gaib.


Kami bercerita panjang lebar tentang banyak hal, termasuk ketika dia bilang bahwa dia sangat aktif di pengajian di kampungnya.

Ketika saya tanyakan tentang apa yang didapatnya dari sekian banyak pengajian yang diikutinya, dia tidak bisa jelaskan hasil dan manfaatnya selain hanya soal yang rutin, yakni membaca surat dari kitab suci. Kemudian tampak sekali wajahnya yang tidak pernah mendapatkan kedamaian dan selalu diselimuti kegelisahan. Padahal ngakunya anak-anaknya semua jadi pengusaha di Jakarta.

Seperti biasanya orang Lamongan banyak yang usaha jajanan makanan malam di seputar Jakarta.

Tiba-tiba, saya nyeletuk kepada si Bapak.

“Pak, maaf saya mau bertanya sedikit. Boleh, kan?”




“Ya, boleh saja,” jawabnya.

“Nampaknya bapak pernah punya anak perempuan, yang sewaktu masih kecilnya sudah meninggal dunia.”

“Ya, betul sekali. Dari mana anda tahu?” katanya.

Saya jelaskan bahwa tadi ketika dia naik bus yang saya naiki, si anak itu mengiringi bapak itu. Si orang tua ini kaget luar biasa.

Kemudian, saya jelaskan bahwa si Bapak ini kurang banyak mendoakan si anak. Sedangkan si anaknya itu, setiap saat mendoakan kedua orangtuanya walaupun berbeda alamnya.

Tak disangka, si bapak ini akhirnya menangis di samping tempat duduk saya. Dia terus terang bahwa hal itu memang lalai dia kerjakan dan hanya seperti orang-orang lainnya saja, yakni datang, bawa bunga, baca doa dan pulang.

Saya jelaskan lagi, bahwasanya pangkal kegelisahan hidupnya adalah karena TIDAK memperhatikan keberadaan anaknya di alam yang lain.

Semakin penasaran si Bapak ini dan, lalu, bertanya kepada saya.

“Apa yang harus saya perbuat?”

Saya jelaskan, ketika anaknya itu meninggal semasih berusia di bawah 2 tahun, namun di alam sana dia tetap berkembang jadi dewasa dan kini sudah gadis. Saya sarankan agar sepulangnya dari Jakarta dia harus cepat menziarahi makam anaknya itu, sambil tidak lupa membelikan sebuah baju yang bagus, untuk ditaruh di atas makamnya.

Si Bapak berkali-kali ucapkan terimakasih kepada saya sambil berkata bahwa hal itu akan segera dia lakukan. Si Orang tua bahkan berkata, begitu banyak kyai dan ustad yang dia sudah temukan, namun tidak pernah membicarakan hal yang menentramkan jiwanya.




Saya bertanya lagi, apakah pembicaraan saya menentramkan jiwanya. Dia bilang dia sangat merasa tenteram, ketika sudah tahu kekurangan dalam hidupnya.

Ketika dia bertanya siapa saya sebenarnya, saya cuma katakan bahwa saya adalah penyampai pesan dari langit. Si Bapak berkata bahwa kini dia merasa lebih mantap untuk meyakini bahwa kehidupan ini bukan hanya di alam nyata saja.

Ketika dia turun di Jakarta, tidak lupa dia menjabat tangan saya dan memeluk saya sambil ucapkan terimakasih berkali-kali.

Semoga tulisan ini menambah wawasan anda.


Leave a Reply