Bahwa duit, duit, kapital, kapital . . .  telah banyak bikin kematian massal di dunia, telah terjadi memang sejak adanya duit yang pada mulanya diciptakan dengan maksud mengatasi kesulitan manusia, sebagai pengganti cara barter sebelumnya. Tetapi, berangsur-angsur ada ‘orang-orang pandai’ yang memanfaatkan situasi itu untuk bikin duit dan malah jadi kaya dan bahkan bisa jadi berkuasa besar karena itu. Terlihat dari pengakuan bankir Mayer Rothschild bilang “Let me issue and control a nation’s money and I care not who makes the laws”. 

Orang-orang bankir ini bukan hanya tak punya urusan dengan the laws, tetapi jelas juga tidak menginginkan ‘the world goes well’ seperti dibilang Kepala IMF ini:

“When the world around the IMF goes downhill, we thrive. We become extremely active because we lend money, we earn interest and charges and all the rest of it, and the institution does well. When the world goes well and we’ve had years of growth, as was the case back in 2006 and 2007, the IMF doesn’t do so well both financially and otherwise.” — Christine Lagarde

Christina Lagarde Kepala IMF yang tahun lalu datang ke Indonesia, tentunya dalam rangka menjajakan pinjaman ke IMF. Atau, dalam rangka politiknya ‘we thrive’ seperti dia katakan di atas.

Kalau zaman dulu, terus sampai ke Abad 20, bank besar (bankir dan kapital) menciptakan atau menghasut perang untuk ‘pinjamkan duit’ (usury). Bahkan sebelum Masehi sudah pernah dikatakan oleh Aristoteles:

“The most hated sort [of money making], and with the greatest reason, is usury, which makes a gain out of money itself, and not from the natural use of it. For money was intended to be used in exchange, but not to increase at interest. And this term usury which means the birth of money from money, is applied to the breeding of money, because the offspring resembles the parent. Wherefore of all modes of making money this is the most unnatural.” — Aristotle (384-322 BCE)




Orang-orang ini jugalah yang menginginkan perang atau provokasi perang, jelas seperti dikatakan oleh istri bankir Rothschild:

“If my sons did not want wars, there would be none.” — Gutle Schnaper, wife of Mayer Amschel Rothschild and mother of his five sons. 

Financed at virtually no interest by the Rothschild controlled Bank of England, Britain then provoked the war of 1812 to recolonize the United States and force them back into the slavery of the Bank of England, or to plunge the United States into so much debt they would be forced to accept a new private central bank.

Baca lebih lengkap di SINI.

Dari bacaan menarik di web di atas, jelaslah bahwa Perang Dunia 1 dan 2 dan juga perang-perang sebelummnya termasuk perang saudara di AS, terlihat peranan bank/ kapital sangat menonjol sebagai penghasut yang menginginkan adanya perang. Kalau sekarang kita bisa lihat dalam menciptakan ISIS, demi kepentingan war-based industry di satu seginya dan dari segi lain perampokan langsung triliunan dolar dari SDA minyak Syria dan Irak.

Dalam sejarah AS, beberapa presiden AS mati ditembak atau diracuni adalah karena persoalan perlawanan mereka terhadap bank dan bankir AS, atau yang sekarang bergabung dalam ‘deep state‘ musuh utama Trump di Abad 21. Dalam soal utang besar AS terhadap bankir besar ‘deep state‘ ini seorang penulis bilang:

“They want you to think that anything beyond Deep State control is damaging to you. But, whatever your current understanding, make sure you pay attention to the real issue: debt is the lifeblood of the Deep State . . . ” dalam tulisan ‘The Deep State Vs. Trump’.

Lihat di SINI

 

Belakangan ini, Paus Fransiskus bikin kesimpulan soal kapital/ duit ini bilang:

Behind all this pain, death and destruction there is the stench of what Basil of Caesarea called ‘the dung of the devil’. An unfettered pursuit of money rules. The service of the common good is left behind. Once capital becomes an idol and guides people’s decisions, once greed for money presides over the entire socio-economic system, it ruins society, it condemns and enslaves men and women, it destroys human fraternity, it sets people against one another and, as we clearly see, it even puts at risk our common home.

Jadi sejak dulu atau setidaknya sejak adanya duit, memang di kalangan manusia sudah ada dan selalu akan ada atau selalu dilahirkan manusia ‘devil’ atau ‘the dung of the devil’. Dan, hebatnya ialah bahwa manusia devil ini sudah berdominasi dan semakin besar dominasinya sampai akhir Abad 20 dan masih begitu sampai pada permulaan Abad 21.

Sudah banyak ahli dan juga filosof dunia yang berusaha menjelaskan semua persoalan bank, duit, greed, mulai dari Aristoteles sampai ke Paus Fransiskus, hal mana juga sudah berjalan ribuan tahun, tetapi belum pernah ada perubahan perbaikan yang memadai dalam soal itu. Sudah banyak juga presiden atau pejabat yang mati diracuni atau ditembak karena itu. Ini artinya soal saling hubungan antara manusia dengan duit, bank serta kejahatan tak berperikemanusiaan yang inherent di dalamnnya (manusia devil), masih tetap tidak terselesaikan.

Mengapakah bisa terjadi demikian? Sudah ribuan tahun, dan apakah manusia harus menerima nasib ini untuk selama-lamanya?

Pertanyaan yang tak terjawab selama ribuan tahun, tetapi sudah ada titik terang sekarang dengan adanya perubahan kontradiksi pokok dunia abad 21.

Kontradiksi pokok dunia sekarang ialah perjuangan untuk keadilan, tersirat dalam perjuangan kepentingan nation-nation dan rakyat-rakyat dunia melawan kepentingan global neolib multikulti internasional yang selalu jadi sumber ketidakadilan. Dengan kata lain, perjuangan antara kepentingan nasional kontra kepentingan internasional neolib, menggantikan kontradiksi pokok yang lama antara Barat dan Timur atau antara demokrasi kontra kediktatoran tirai besi abad lalu.

Di bawah syarat kontradiksi pokok dunia yang sepenuhnya baru ini, maka dengan sendirinya peranan seorang presiden/ kepala negara nasionalis dari satu nation tertentu akan punya pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan dan perkembangan nationnya sendiri dan juga dunia, terutama tentu dalam perjuangan untuk keadilan itu (mengingat kontradiksi pokok tadi adalah perjuangan untuk keadilan).




“Kalau satu waktu ada presiden negara besar yang mengerti soal ini dan berani memaparkan di atas meja di hadapan publik dunia . . . putaran dunia pasti berubah!” Lihat di SINI.

 

Perubahan kontradiksi pokok dunia itu dimungkinkan oleh era keterbukaan informasi dan era partisipasi publik yang luas, yang pada gilirannya dimungkinkan karena adanya perkembangan teknik informasi digital Abad 21. Perubahan ini mengakibatkan ketertutupan, kegelapan dan ketidak-pengetahuan publik soal kebusukan bank/ bankir besar neolib deep state. Sekarang tidak bisa berlanjut lagi tanpa perlawanan dari publk maupun pemimpin nasionalis dunia. Perlawanan sengit sudah dimulai.

Munculnya Trump sebagai seorang nasionalis presiden negara besar adi daya AS, dan munculnya Jokowi di Indonesia dan Duterte di Filipina . . . sebagai contoh pemimpin nasionalis sejati dunia, putaran dunia pasti berubah . . . .






Leave a Reply