Oleh: Meisinta Ayu Teresia (Sp. Rambutan, Jambi)

Rose Bercerita

Aku menyaksikan semuanya. Aku kembali kecewa! Pada akhirnya Nina tak lagi bisa melihatku.

Tiga orang itu benar-benar nyaman dengan ketiadaanku. Baiklah, bersenang-senanglah, Nina! Aku pun akan bersenang-senang dengan duniaku.

Aku mencoba untuk terbang menembus atap rumah ballerina ini.

“Daan.. wow. berhasil!”

Aku menatap ke langit mendung dengan bahagia.

“Kau cukup adil,” aku berseru kepada Tuhan yang tak kunjung memberi tempat keabadianku.

Belum waktunya beristirahat. Mungkin begitu.

Aku mulai berkeliling mencari korban. Aku melirik kediaman Fio Gasparo. Si Danseur mata keranjang. Ia sedang duduk di depan rumahnya, menikmati pemandangan yang digilai semua laki-laki di bumi ini. Pertunjukan ballerina dengan rok mini.

Aku mendekat ke pohon pinus kesayangan Fio. Tepat di sebelah kursi santai tempat ia duduk menikmati pemandangan di depannya. Aku menarik nafas dalam dan mulai tertawa. Angin berhembus kencang diiringi suara yang cukup memekakkan telinga.

“Hei! Turun kau”

Aku terkejut.

Aku melirik ke bawah lalu menunjuk diriku sendiri.

“Kau dapat melihatku? ”

“Kau tidak tau, ya?! Aku bahkan bisa mengurungmu”

Aku kembali tertawa bahkan lebih keras. Aku berusaha untuk kembali terbang tapi gagal melewati kawasan rumahnya. Gantian kini Fio yang tertawa.

“Selamat datang, Ballerina!”

Aku mendekatinya dengan wajah lesu. Saat ini aku ingin sekali menghajarnya. Namun apa daya, aku hanyalah mahluk halus yang tak berdaya.

Malam hari aku baru menyadari bahwa empat belas Ballerina yang menari tadi siang adalah sama sepertiku juga.

Seorang menghampiriku dan bertanya: “Bagaimana perjalananmu?”

“Cukup menyenangkan. Aku mengunjungi Rumah Ballerina,” jawabku sembari aku merapikan dudukku.

Astri namanya, ia sangat tertarik ingin mengetahui rumah adikku.





“Baiklah, karna kau takkan bisa keluar dari rumah danseur ini. Aku akan menceritakannya untukmu.”

Akupun mulai bercerita kepadanya.

Rumah itu sederhana. Awalnya dibuat hanya untuk mengamankan adikku. Lairina takut makamku diketahui masyarakat dan karir adikku hancur. Ia selalu datang tiap hari, menambah garam dalam makamku, tak lupa menyalakan lilin. Kemudian melatih adikku, Nina.

Terakhir, aku melihat perubahan besar terjadi padanya. Ia mulai berani untuk terbuka, jujur, dan lebih dewasa. Bahkan Exy pun ikut berubah. Nina memang hebat. Aku mulai tenang sekarang.

“Kau tau, aku ingin Fio melihat mayatku. Agar ia tak mampu melihat aku lagi.”

Astri tertawa mendengar pernyataanku.

“Kau tau, kau hantu terbodoh yang pernah kujumpai. Orang-orang itu mampu melihatmu bukan karena ia lupa dengan rupamu, tapi karena ia masih belum menerima kepergianmu.”

Aku semakin heran dengan fakta aneh itu. Mengapa Fio belum menerima kematianku?

Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang tak asing bagiku.

“Menurutmu kenapa? Karena aku masih suka dengan penampilanmu?”

Lagi-lagi Fio muncul tiba-tiba dan tertawa renyah.

Aku mulai bingung. Sebenarnya yang hantu itu siapa, aku atau Fio? Dan lagi, aku mulai merasakan kekejaman neraka yang sesungguhnya.

Gerelateerde afbeeldingExy tidak jadi menceritakan kisah ke tiga. Bukan karena ia sadar akan kesalahpahamannya terhadap Lairina. Ia bingung ingin menceritakan tentang siapa. Fio atau Simkin. Ketiga kisah itu bahkan tidak akan menjelaskan apapun tentang kematianku, bahkan ketiga kisah yang ingin Exy sampaikan hanyalah sebuah rayuan untuk Nina agar membenci Lairina, sahabat lamanya yang ia jadikan kebencian.

Ini tentang aku yang terkubur dalam sebuah rumah. Rumah Ballerina. Rumah unik. Rumah yang hanya memiliki dua kusen pintu. Pintu dapur dan pintu depan. Bagaimana dengan kamar mandi? Hanya tirai, karena penghuninya hanya perempuan.

Rumah itu unik, bukan karena keberadaan mayatku di dalamnya, tapi lebih kepada kesan pertama saat kau memasuki tempat itu. Tiga ruang besar. Ruang tengah, kamar tidur, dan dapur yang disekat sebagian untuk kamar mandi. Bahkan saat kau melihat ruang tengah, kau langsung dapat menyimpulkan profesi penghuni rumah ini.

Lairina yang membangun rumah ini. Ia kaya raya, tapi rumah yang ia rancang selalu sederhana dan sesuai kebutuhan.

Selesai

Sebelumnya:






Leave a Reply