Basuki Tjahaja Purnama, adalah sejarah. Kita harus bersyukur di balik semua masalah yang timbul akhir-akhir ini. Kasus Al Maidah, pada akhirnya bangsa Indonesia memetik hasil yang jauh dari prediksi para pengatur serangan penistaan agama yang ditujukan kepada Ahok. Tadinya, mereka yang merencanakan untuk “menghabisi” Ahok dan sekaligus Joko Widodo sudah dengan semangat dan meyakini trik mereka akan berhasil baik.


Mereka senyum sumringah melihat aksi Togel 411 dan 212 yang bisa mendatangkan jutaan orang hadir ke Jakarta. Mereka juga sangat yakin bahwa kedudukan presiden mesti bisa “rontok”. Tidak disangka, Ahok berani “bunuh diri” ke dalam penjara, agar sang Presiden bisa leluasa memainkan bermacam-macam permainan.

Kaburnya Rizieq ke Luar Negeri, adalah pintu kekalahan di pihak lawan politik Presiden Jokowi. Pelan-pelan sang Presiden mengatur serangan balik yang sangat luar biasa dan merontokkan sendi-sendi nyali mereka.

Dimulai dari sikap “wellcome” sang Presiden kepada Bahtiar Natsir dkk di acara open house istana Negara sewaktu lebaran kemarin. Hal itu menyebabkan terjadinya perang dingin di kubu lawan, yang akhirnya Amin Rais “mencabut mandat” Idrus Sambo sebagai Komandan Pasukan Alumni 212 yang tidak punya kampus itu, akibat alumni Wiro Sableng ini mendukung Haji Tanu ke Komnas HAM.




Pukulan “rudal balistik” berikutnya dilepaskan pihak istana Negara kepada pihak lawan dengan keluarnya PERPPU NO 2 2017. Ini menyebabkan pihak lawan politik Jokowi semakin gusar. Sangatlah jelas sasaran tembak rudal balistik tersebut dan tidak meleset satu inci pun.

Ditambah lagi dengan keterangan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, yang segera akan menyiapkan hukuman kepada pendukung HTI dan sejenisnya.

Profesor Sengkuni, hampi saja mau mencampakkan izasah profesornya karena sudah tidak sanggup menelorkan ide-ide cemerlang untuk melawan Jokowi. Nampaknya, di balik tersiarnya kabar masalah dia terciprat uang haram Rp. 600 juta itu, sudah mulai merusak fungsi otak dan organ lain di tubuhnya.

Kemarin, dari Jawa Timur, tepatnya dari Situbondo, si Sengkuni cuma sanggup berkata lirih, tanpa semangat bahwa si Wowo akan menang di Pilpres 2019 melawan Jokowi, karena didukung oleh umat Islam. Katanya! Entah umat Islam yang mana dia maksud, hanya dia yang tahu.

Kasus Ahok yang mereka ciptakan akhirnya berubah menjadi “GARIS PEMISAH” antara pendukung Islam Nusantara plus pendukung Pancasila versus Penduduk paham khilafah! Jika diibaratkan maka kasus Ahok itu bolehlah dianggap laksana tongkat Nabi Musa yang membelah penduduk Nusantara ini menjadi dua.

Kini, tugas pemerintah bersama aparat kepolisian, tentunya jadi lebih bergairah untuk membersihkan seluruh institusi negara yang sudah dimasuki oleh paham intoleransi. Ratusan pengusaha Jawa Barat bahkan kini sedang mencari konsultan untuk memverifikasi karyawannya yang pro HTI, dan selanjutnya akan dibina ataupun dikasih pesangon.




Begitulah dahsyatnya paham radikalisme yang sudah jauh merasuki otak anak bangsa ini. Mereka sangat tahu cara berperang dengan biaya murah, yakni janjikan surga dan 72 bidadari. Si Bodoh tetaplah bodoh jika meyakini suatu kebohongan besar seperti itu. Yang menjanjikan ketemu bidadari di surga malah di bumi ini memperbanyak istri atau haremnya. Hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi.

Ah, sudahlah…. Semoga kepolisian bisa bergerak cepat menangkapi penentang ideologi Pancasila. Andaikata masih ada undang-undang anti subversif, tentu dikau yang menentang Pancasila dijamin wes ewes ewes !!!

VIDEO: Clip lagu Whitney Houston dan Mariah Carrey yang menjadi sound track film The Prince of Egypt (Moses).







Leave a Reply