Kolom Andi Safiah: SARA

0
336

“My Brother, My Friends and My Fellow Citizen of the WORLD”

 

Penulis dan istrinya yang vokalis band Left Wing.

Sering kali kita mendiskusikan soal-soal yang menurut banyak orang sensitif, mereka biasa menyebutnya “SARA”. Karena sara pun kamu harus berhadapan dengan hukum dan sekarang kamu menjadi “Criminal by sickness society”. Di mata saya kamu adalah manusia yang suka melompat-lompat kegirangan, karena otakmu memang riang ketika berhadapan dengan hal-hal yang itu menabrak akal sehatmu.

Kamu mungkin selalu lupa bahwa kamu sedang hidup dalam masyarakat yang sedang sakit; tepatnya sakit mental akibat kebanyakan mengkonsumsi bahan pengawet macam agama.

Ingat, bahkan Presiden Joko Widodo sekalipun sebenarnya pusing 1.000 keliling berhadapan dengan doktrin purba dengan bahan pengawet yang luar biasa menembus zaman; itulah agama yang selalu kita diskusikan dengan bahasa “umbul-umbul”. Mereka yang di luar sana yang melihatmu sebagai penjahat tidak mengerti bahwa kamu dan mereka punya hak yang sama. Jika mereka punya hak untuk menghujat, membungkam, menghina, bahkan hendak membunuhmu hanya karena pikiranmu berbeda, berarti ada yang salto secara konsisten dalam pikiran mereka dan saya tidak pernah melihat secara langsung bahwa kamu tertarik menghina balik mereka, atau bahkan membunuh mereka.

Kamu dengan gaya cebong cenge-ngesanmu bikin orang semakin frustrasi dan bersemangat ingin menghabisimu. Itulah mereka dan bukan salah Ibu Pertiwi yang mengandung mereka, tapi salah mereka sendiri karena doyan dengan makanan berformalin dosis “masa allah”, sementara kamu doyan sama nasi uduk ala pinggir jalan. Bagi mereka, kamu itu “ANKER” alias anak kerobokan karena kamu pernah ngekost di sana. Menjadi anak kost itu ternyata sangat menyenangkan, karena kita sering kali berdiskusi di pinggir pantai seminyak sambil menikmati bakso rasa boulevard.




Saya masih ingat pertama kali ke Bali. Orang pertama yang menemui saya di hotel adalah kamu, dengan wajahmu yang sudah menjadi buronan umat yang memegang sertifikat kebenaran dunia akhirat. Dengan wajah santai kamu menyapa saya dan karena wajah saya tidak seterkenal kamu, maka saya bisa langsung memanggil namamu, dengan muka bengong kamu menjawab polos: “Hai Archer, apa kabar?!”

Saat itu, saya tidak melihat manusia yang berkarakter palsu, yang saya lihat adalah manusia yang sama seperti diri saya sendiri. Apa adanya dan tidak basa basi. Itulah kamu, Frans, seorang anak manusia yang tampil apa adanya. Sekarang dengan bergulirnya waktu kita bertemu dengan begitu banyak kejutan, termasuk untuk hal-hal yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Salah satunya adalah memiliki bisnis sendiri dan secara tidak langsung kamu sudah memiliki itu. Tapi, karena memang problem kemanusiaan kamu tidak akan pernah tuntas, sampai soal-soal sensitif macam saya menjadi tidak sensitif lagi untuk dibicarakan di negeri ini, belum tuntas. Maka jiwamu akan selamanya gelisah. Sebagai kawan, saya sangat memahami kegelisahan itu.

Aku tahu, melawan kebusukan agama bukanlah pekerjaan yang mudah. Apa yang kamu lakukan di era ini sudah pernah dilakukan oleh begitu banyak manusia-manusia yang pikirannya bebas. Para free thinkers di masa lalu juga mengalami hal yang sama. Kebenaran yang mereka sampaikan ternyata menabrak tradisi yang sudah dipercaya sejak ribuan tahun lamanya dan hal tersebut adalah pelanggaran ketika seseorang dengan berani menabrak, apalagi membuktikan di mana kelemahan dari ajaran tersebut.

Ada begitu banyak contoh kasus yang akhirnya berujung pada kematian. Tapi ingat, tubuh mereka boleh hilang dan mati tapi semangat dan idea mereka hidup dan menjadi ‘hantu peradaban’ hingga saat ini. Sebut saja mereka yang harus nongkrong di penjara seumur hidupnya, Galileo atau yang dibakar hidup-hidup hanya karena menyampaikan sebuah kebenaran yang diakui saat ini, Giordano Brun. Mereka semua adalah martir atas kebebasan yang dinikmati oleh umat manusia saat ini.

Mungkin bagi mereka yang tidak suka denganmu berpikir bahwa apa yang saya tulis ini terlalu berlebihan, tapi bagi saya apa yang kamu lakukan secara prinsip sama dengan apa yang dilakukan oleh free thinkers di masa lalu. Mereka menyampaikan kebenaran dengan gaya dan caranya sendiri.

Sering kali saya menyampaikan argument ini ke kamu, bahwa bangsa kita masih terjebak dalam era kegelapan berpikir. Otak manusia Indonesia dari tukang becak sampai tukang bikin UU sama saja. Masih terjebak dalam “logico saltominion religioso” dimana kebenaran yang mereka pahami hanya datang dari agama. Di luar logika itu bukanlah sebuah kebenaran dan fakta-fakta itu sudah sering kita diskusikan, bahkan terkadang kita menggunakan bahasa-bahasa mafia untuk mengutuk perilaku tolol mereka secara terbuka.

Tapi karena dasar kamu memang bebal, otakmu tidak bisa diajak “berkompromi” soal kebodohan akhirnya banyak orang yang akhirnya salto bebas dan mengamuk karena kebenaran yang kamu sampaikan menampar mereka bolak-balik, dan begitulah sifat alamiah dari kebenaran “manampar” siapa saja yang ada di hadapannya.

Bagi saya, spirit kemerdekaan berpikir yang hidup dalam diri kamu tidak akan pernah hilang ditelan oleh apapun, termasuk oleh waktu. Secara alamiah manusia memang bebas dan karena kebebasan yang dia miliki species antik satu ini bisa menciptakan banyak hal, termasuk menciptakan pesawat ulang alik yang kita kenal dengan roket dan bahkan bisa mengirim robot ke planet merah MARS.

Di sisi lain, negerimu ini masih terjebak dalam kebodohan dimana mereka memuja sesuatu yang tidak pernah ada dari pada merawat sesuatu yang jelas-jelas ada. Mereka menistakan manusia sementara di sisi lain mereka memuja batu hitam. Sampai memuja Ferari, memuja jabatan dari pada berkarya karena jabatan, membunuh mereka yang berbeda dari pada belajar untuk memahami pikiran dari mereka yang berbeda.

Inilah negerimu, my brother, negeri sampah yang menyanjung manusia sampah dan menistakan manusia yang punya prestasi dan para pemikirnya. Memuja agama dan Tuhan melebihi diri mereka sendiri, sebuah penyakit physicologi serius yang pernah dibongkar habis oleh Sigmund Freud hingga Richard Dawkins.

Tapi, yakinlah bahwa kamu tidak pernah sendirian dalam hal ini, walau seisi dunia membencimu; aku dan vokalis terbaik leftwing akan selalu menjadi teman terbaik dan akan selalu berjalan di sampingmu. Ingatlah bahwa satu energy kehidupan sangat berarti dari seribu Tuhan yang sama sekali tidak pernah berkontribusi dalam peradaban manusia.

#Itusaja!








Leave a Reply