Sinetron, ludruk, ketoprak atau apapun itu namanya, pentas di panggung terbuka sudah dibuka tirainya. Barangkali jika ada dalangnya seperti halnya OVJ, tentu pentas yang ada di Cikeas agak sedikit ada greget.

Lah ini tidak. Tanpa ada narasi pembuka, tanpa diiringi gamelan, 2 jendral ujug-ujug bersalaman. Ujug-ujug saling menepuk punggung. Lalu duduk diantara para Punakawan yang juga semua berwajah aneh. Apa gak aneh? Tidak ada yang lucu pada senyum-senyum sendiri. Pada ketawa ketiwi sendiri.

Tidak lama kemudian datang hidangan. Katanya sih nasi goreng. Tapi ketika diintip, kok seperti dicampur udang, ya? Bagaimana jika ada yang alergi udang seperti saya, apa gak malah cari penyakit?

“Silahkan disantap, Bapak-bapak,” ucap jendral yang agak tinggi dan juga tambun.




“Terimakasih, Bapak Presiden,” jawab jendral yang di sebelahnya.

Entah jendral apa. Katanya sih jendral yang kena pecat.

Yang dipanggil presiden berubah wajah. Matanya berbinar. Hidungnya kembang kempis. Agak mekrok gitulah.

Ada Jurnalis di belakang saya yang bisik-bisik.

“Mas. Coba tanya kenapa hidangannya nasi goreng? Barangkali ada simbul atau makna tertentu soal goreng menggoreng, gitu.”

Saya melengos. Kupelototi. Dan kujawab. Tapi juga bisik-bisik: “Entar merusak suasana. Toh semua sudah pada ngerti, kalau soal goreng menggoreng itu hobbi mereka.”

“Jangan sungkan. Nasi gorengnya dihabiskan, ya Bapak-bapak.”

“Terimakaish, terimakasih, Tuan Presiden.”

Setelah acara makan-makan usai, tibalah saatnya sessi pemotretan dan tanya jawab. Entah dari media mana, seorang jurnalis tanya gini: “Maaf, Pak, kenapa bapak menyebut dan memanggil Pak Mantan dengan sebutan Presiden?”

Oohhh, kurang ajar. Jurnalis itu bertanya sambil senyum. Sambil klecam klecem seakan ada hal yang lucu dan menggemaskan pada dua jendral tersebut.

Karena saya anggap tidak kondusif, sedangkan saya juga musti mengejar berita tentang demo di depan Gedung MK, saya meninggalkan Cikeas buru-buru.

“Lhooo.. kok yang demo cuman dikit?” Itu pertanyaan dalam hati.

Lalu saya keliling diantara para pendemo yang kira hanya dua tiga ratus orang. Ingin mencari orang tua yang bernama Pak Amin yang konon memimpin demo. Tapi, tidak juga ketemu. Kucari di balik semak-semak, juga gak ada. Kuintip di bawah saluran air, di kampung saya namanya got, juga tidak ada. Eeeee…. siapa tahu ngumpet di situ. Ke mana Pak Amin, ya?

Waaahh, waah mau diwawancarai malah gak nampak. Atau malu karena yang demo ternyata beberapa gelintir manusia?

Saya lalu segera ke cafe. Memesan minuman. Ketika mendengar berita statement dari Pak jokowi soal Presidential Threshold, kenapa 2009 dan 2014 tidak dipersoalkan (?), saya makin ketawa ngakak. Hari ini ternyata ada dua Jendral dan kakek tua yang gagal mempimpin demo. Mereka ternyata lucu dan menggemaskan.

Iiihhhhhh .,..









Leave a Reply