Jika saja hari ini ada petir yang menyambar dan menggelegar, tentu kalah keras. Tentu suara petir itu bak hanya petasan banting. Namun yang membuat terhenyak dan kaget alang kepalang adalah, Harry Tanoe malah mendukung Pak Jokowi.

Jika dicermati, peta perpolitikan akan seru. Akan penuh dengan dinamika. Akan ada gonjang ganjing yang tentu saja untuk di pihak Jokowi merupakan rezeki nomplok. Namun, untuk di pihak Gerindra Cs seperti hantaman badai disertai tsunami.

Yang menjadi tanda tanya besar adalah, kenapa seorang HT berbalik arah kemudi? Toh 2014 HT ada di barisan Gerindra. Bahkan puncaknya adalah, HT di Pilkada DKI Jakarta runtang runtung bersama Gerindra menghabisi barisan Ahok. Ada apa ini? Atau karena HT sedang lagi kesandung masalah hukum sehingga butuh perlindungan?

Semua boleh menganalisa. Semua boleh menduga-duga. Namun, dalam politik, tentu musti dihitung untung dan Rugi. Tidak ada makan gethuk yang gratis. Semua orientasinya kepentingan. Semua karena dapat apa dan untuk apa.

“Waahh… Kasihan Prabowo dan Koalisi Umat, dong, Mas.”

Kasihan memang. Dua kali nyapres gagal. Sekarang malah ditinggal oleh seorang yang diharapkan jadi penyandang dana.

Yg paling mendasar kenapa seorang HT berbalik arah adalah, di mata HT, seorang Prabowo sudah tidak bisa diharapkan lagi.

“Tamat, dong?”

Bukan lagi tamat. Namun kiamat sudah dekat.











Leave a Reply