Inti dari ajaran fundamental bangsa ini bukanlah bertuhan, tapi bekerjasama sebagai sesama manusia. Bung Karno menyebutnya “gotong royong”, saya menyebutnya “bekerjasama”.

Dalam teori evolusi Darwin, hanya mereka yang bisa beradaptasi yang akan bertahan hidup. Dalam bernegara, mereka yang bekerjasama dalam spirit virtual yang akan bertahan sebagai bangsa.

Bukan bangsa yang disibukkan dengan urusan-urusan ilusif delusional macam dogma agama yang merepotkan sekaligus membingungkan, karena terus menerus meributkan persoalan yang tidak pernah ada selain diada-adakan oleh pikiran manusia sendiri.

Jadi, jika ingin bangsa ini tidak menjadi lelocun di masa depan, maka kita harus berani memisahkan ajaran takyul (baca : Madilog) dengan ajaran real dan probable macam science yang jelas-jelas mengajak manusia untuk berpikir curious, skeptic sekaligus kritis atas semua hal.

Lihatlah bangsa-bangsa yang terbebas dari penjara tahkyul macam China, mereka berlari dengan kecepatan cahaya dalam mengejar ketertinggalan mereka dan hasilnya luar biasa, masyarakatnya menjadi masyarakat yang skeptic kritis.

Kita sebagai bangsa sudah tertinggal terlalu jauh. Pemerintahan kita saat ini sibuk menggenjot pembangunan infra stuktur, tapi lalai dalam membangun suprastruktur. Lihat saja mayoritas rakyat Indonesia masih terjebak dalam ajaran tahkyul yang sukses bikin otak nyungsep hingga terjun pada level kebodohan bergelar MBS.

Tidak ada jalan lain selain membebaskan bangsa ini dari ajaran yang berideologi kematian, yang memuja kematian melampaui kehidupan.

#Itusaja!











Leave a Reply