Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Disusupi Hary Tanoe, Jebakan Maut Prabowo?

1
1504

Publik terkejut ketika Hary Tanoe balik badan lalu mendukung Jokowi. Berita balik badannya Hary Tanoe bagai halilintar di siang bolong. Banyak pihak yang percaya bahwa balik badannya Hary Tanoe disebabkan oleh hitung-hitungan bisnis dan politik. Jauh sebelum Antasari menguak peran Tanoe sebagai utusan Cikeas ke KPK, sebetulnya grafik bisnis Hary Tanoe memang telah turun.

Ketika Antasari menguak kebusukan dan kedok Hary Tanoe, saham-saham miliknya di bursa efek, merosot tajam. Kendatipun setelahnya sahamnya kembali naik, namun itu hanya sementara. Ketika ia mem-PHK karyawannya di unit Koran Sindo Juni lalu, ditambah dengan status tersangka yang disandangnya, lengkaplah sudah penderitaan bisnis Hary Tanoe. Saham-sahamnya kembali melemah.

Hary Tanoe pun mencoba menggerakkan massa alumni demo 212 untuk mendukungnya namun gagal. Malah Presidium alumni 212, ustad Sambo, yang membawa kasusnya ke Komnas HAM, berujung pemecatan. Demo 287 yang dipimpin Amin Rais untuk menggoyang Jokowi, juga tak bergigi dan gagal total. Status tersangka Hary Tanoe pun telak menusuknya dan membuatnya menjerit sekaligus angkat tangan dan berbalik mendukung Jokowi.




Alasan lain terkait balik badannya Hary Tano seperti kegagalannya menjegal Jokowi, juga sangat masuk akal. Sejak UU Pemilu disahkan DPR dimana parliamentary threshold 20%, praktis telah menutup langkah Hary Tanoe menjadi calon Presiden 2019. Mimpi besar Hary Tanoe menjadi Presiden, dipastikan gagal.

Iklan Partai Perindo pun hingga kini tak disambut gegap-gempita oleh rakyat, walaupun 24 jam mengudara. Bisa dipastikan pada Pemilu dan Pilpres 2019, Hary Tanoe akan gagal menjadi Capres sekaligus gagal membusukkan nama Jokowi lewat media-medianya. Malahan kepercayaan masyarakat kepada pemerintahan Jokowi, kini mencapai 80%, tertinggi di dunia. Ini jelas menghantam nalar sehat Hary Tanoe.

Publik pun paham bahwa dengan berbaliknya Hary Tanoe sebagai pendukung Jokowi, maka akan ada harapan tipis untuk menjadi wakilnya di Pilpres 2019, atau minimal bisnisnya aman atau paling tidak kasusnya akan dipetieskan.

Pertanyaannya adalah benarkah dukungan Hary Tanoe itu murni alasan di atas?

Banyak pihak menyebut Hary Tanoe sebagai ‘bunglon’. Sebagai pebisnis ulung, manufer lihai Hary Tanoe memang kerap terlihat bunglon. Sepak terjangnya cepat berubah, berbalik, lalu menyusup. Publik masih ingat ketika Hary Tanoe saat mencoba menebeng Nasdem sebelum Pemilu 2014, namun ia balik badan. Ia kemudian menebeng Hanura namun sehabis Pemilu Legislatif, Tanoe balik badan meninggalkan Hanura.

Menjelang Pilpres 2014, Hary Tano pun menebeng KMP, namun dengan cepat ia balik badan. Hary Tanoe kemudian mendirikan Partai Perindo dan diiklankan secara heboh kepada masyarakat. Lewat Perindo, Hary Tanoe bermimpi menjadi Presiden menyaingi Jokowi. Namun, itupun tidak bertahan lama. Hary Tanoe kini balik badan dan mengarahkan Perindo untuk mendukung Jokowi.

Publik mungkin terkecoh oleh manufer Hary Tanoe ini. Akan tetapi jangan lupa bahwa Hary Tanoe adalah sekutu dekat SBY. Ia juga sangat dekat dengan keluarga Cendana. Ada yang percaya kendatipun dibantah sendiri oleh Hary Tanoe bahwa harta kekayaannya adalah warisan kekayaan keluarga Cendana. Jika Hary Tanoe kemudian sangat dekat dengan Prabowo, itu tidak lepas dari keterkaitannya dengan keluarga Cendana.

Mungkin banyak pihak yang percaya bahwa dengan bergabungnya Hary Tanoe di kubu Jokowi, maka Jokowi bertambah kuat. Anggapan itu bisa menjadi blunder. Masih ingatkah kubu Ahok yang disusupi Golkar, partai warisan keluarga Cendana? Apa yang terjadi? Kendatipun banyak partai pendukung Ahok, dan didukung oleh Golkar, Ahok tetap keok. Belakangan diketahui bahwa dukungan Golkar hanya di mulut. Faktanya Golkar sama sekali tidak bekerja mengiklankan Ahok.

Saya yakin bahwa sekarang ini, ada penjegalan sistematis kepada Jokowi. Setelah Ahok berhasil digebuk, jenderal-jenderal di pihak lawan sedang mengubah strategi. Strategi menyusup dan pura-pura mendukung akan menjadi pilihan. Strategi itu terbukti telah berhasil melengserkan Ahok di Jakarta. Strategi itu juga akan diterapkan untuk melengserkan Jokowi.

Isu PKI seperti yang dilontarkan Wakil Ketua Umum Gerinda adalah bukan keseleo lidah tetapi by design. Bersama dengan isu  PKI, isu utang dan fitnah kepada Jokowi yang melawan Islam, mengkriminalkan ulama, akan siap meledak menjelang Pilpres 2019. Sekarang di akar rumput, isu-isu itu sedang ditanamkan secara diam-diam.

Jokowi memang menjadi ancaman sisa-sisa kekuatan Orde Baru yang masih kuat. Ketika Jokowi naik menjadi Presiden, pemain-pemain besar yang sebelumnya memonopoli kue lezat ekonomi, kini telah dibantai Jokowi. Mafia-mafia pangan, minyak, kartel ekonomi yang sebagian besar pemainnya dari Zaman Orde Baru, kini menjerit. Jika Glodok sepi, WTC Mangga Dua dan pusat-pusat perbelanjaan sepi, itu karena kue lezat ekonomi sekarang ini mulai berbagi merata.

Bisnis ritel saat ini cenderung turun padahal pertumbuhan ekonomi tetap tumbuh dan tetap ada kemacetan di jalan. Mungkin benar analisis Rheynald Kasali bahwa kini kue ekonomi tidak lagi lewat perantara tetapi sudah langsung dari produsen kepada konsumen atau pengecer-pengecer kecil.  Artinya, perdagangan sekarang tidak lagi lewat mall, agen besar, toko besar, tetapi sudah langsung kepada pengecer atau pedagang kecil. Kini sudah tidak zamannya lagi monopoli seperti permainan Blue Bird Taxi,  tetapi sudah berbagai lewat ojek dan mobil pribadi yang online. Jika tidak berubah seperti perusahaan Nyonya Meneer, maka akan tergerus alias bangkrut.

Hal yang sama dengan bisnis Hary Tanoe, sudah tidak zamannya lagi penguasa media akan mempengaruhi kebijakan politik pemerintah. Sudah bukan zamannya lagi penguasa media akan menjadi pemenang. Siapapun sekarang dengan mudahnya dapat mengakses informasi/ berita tanpa menonton TV, membaca Koran. Lewat smartphone di tangan, setiap orang menjadi sumber berita, penyiar langsung dan bisa memilih berita apapun yang disukainya. Menyadari hal itu, Hary Tanoe cepat balik badan.

Saya yakin bahwa dukungan Hary Tanoe kepada Jokowi selain menyelamatkan bisnisnya, tetapi juga menjadi agen penyusup. Pertama untuk membuat pendukung Jokowi terkecoh dan besar kepala plus ternina-bobo. Ke dua, untuk menjebak Jokowi agar tergoda mengulurkan tangan membantu Hary Tanoe. Ke tiga, untuk membusukkan Jokowi karena ia didukung oleh double minoritas lagi setelah Ahok atau yang sering disebut kaum ‘kafir’. Dan itulah adalah bagian strategi sekutu Hary Tanoe, semacam Prabowo. Lancangnya Hary Tanoe dan tanpa malu mendukung balik Jokowi, bisa jadi strategi jebakan maut Prabowo.




Jadi, Hary Tanoe bisa saja dijadikan sebagai umpan, penyusup, pembusuk oleh para jenderal Orde Baru, untuk menjegal Jokowi. Bagi Hary Tanoe sendiri, balik badan atau penyusupan itu bisa mendatangkan keuntungan ganda. Bisnisnya, status tersangkanya bisa tertahan sekaligus bisa juga membusukkan Jokowi dari dalam seperti permainan Golkar kepada Ahok. Jika pun tujuan penyusupan gagal, tetap saja Hary Tanoe untung. Taktik ini penting dipahami benar oleh Jokowi.

Maka sangat tepat jika Jokowi mengabaikan, mengacuhkan dukungan koak-koak  Hary Tanoe itu. Alasannya dukungan Hary Tanoe itu sama sekali tidak berguna, tidak berfaedah. Dukungan dari medianya juga untuk zaman ini sudah tidak lagi signifikan karena TV dan Koran sudah semakin tidak berguna. Saya lebih setuju lagi jika Jokowi mengatakan kepada Hary Tanoe: “Suka-sukamulah di situ, balik badan ke kiri, ke kanan, terserah maunya akhlak lu”.

Begitulah kura-kura.









1 COMMENT

Leave a Reply