“Ini soal bagaimana agar bisa meraih dan mendulang suara. Dan, itu harus dimaklumi, bahwa sebagian dari bangsa ini masih gelap mata jika semua dikaitkan dengan agama. Mereka seperti kena hipnotis. Mereka seperti hilang kesadaran alias mabok”

“Jadi, agama akan dijadikan kuda tunggangan lagi?” (Ganggas Yusmoro).

 

Dalam politik, semakin jelas memang, apa yang bisa ditunggangi harus ditunggangi he he . . .  Bahkan makhluk kecil-kecilpun juga ditunggangi. Kuman atau bakteri misalnya ditunggangi dalam perang.

Dalam politik anti Jokowi dan anti Ahok, bukan bakteri yang ditunggangi, tetapi makhluk yang lebih besar, umat atau manusia, karena ‘sebagian dari bangsa ini yang masih gelap mata jika dikaitkan dengan agama’. Kuda umat ini cukup diupahi dengan sebungkus nasi campur, bisa ditunggangi sepanjang hari di panas terik atau hujan lebat. Lauk-pauk nasi bungkus itu bisa juga ditambah dengan teriakan ‘jatuhkan Jokowi’, atau ‘penjarakan Ahok’.

Mantap memang bagi umat ‘nasi bungkus’ ini untuk jalankan komando sang ulama yang malah jadi buron tak berani pulang’.

Kalau kita lihat ke belakang dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan, ada juga fenomena kuda tunggangan ini, juga agama. Orang Karo terkenal dengan perlawanan luar biasa menghalau dan melawan penjajah Belanda, seperti Datuk Sunggal Surbakti yang bikin perang dengan Belanda selama 25 tahun, dan akhirnya gugur di pengasingan di Tanah Jawa.




Belanda pakai kuda tunggangan agama Kristen dimasukkan ke Karo untuk menjinakkan orang Karo supaya berhenti melawan penjajah. Tetapi orang Karo lebih percaya kepada perjuangannya daripada agama yang dimasukkan Belanda. Kuda tunggangan satu ini sangat seret jalannya di Karo. Bisa dikatakan penyebaran agama Kisten di Karo berjalan seperti siput. Buktinya masih kita lihat sampai kekuasaan Orba, barulah orang Karo ‘terpaksa’ memeluk agama secara lebih merata, karena tekanan pemerintahan diktator Soeharto tentunya. Tekanan ini sangat dirasakan oleh orang Karo yang nasionalis Soekarnois itu, dan dibenci oleh diktator militer Orba.

Orang Karo punya agama sendiri ‘Pemena’ namanya yang sudah ada sejak terbentuknya kultur/ budaya Karo lebih dari 7000 tahun lalu. Kultur dan budaya Karo dan juga Gayo termasuk alah satu dari kultur tertua di dunia (penemuan arkeologi USU 2012) di Dataran Tinggi Gayo.

Jadi, politik ‘kuda tunggangan’ ini memang bentuk taktik dan strategi politik yang sudah ada sejak penjajahan. Selalu dipakai dimana ada perjuangan politik yang tajam dan masih ada umat (agama) yang bisa diadu-domba dengan upah nasi bungkus dengan lauk-pauk yang bisa merangsang seperti di atas, seperti halnya ‘jatuhkan Jokowi’, atau ‘penjarakan Ahok’. Ahok dengan alasan mantap ‘penoda agama’, Jokowi dengan ‘orang komunis’nya atau ‘ndesonya’.

Kalau dulu itu penunggang kudanya di Karo adalah penjajah Belanda, tetapi sekarang siapakah penunggang kudanya yang sesungguhnya?

Kalau dulu di Karo dimana Belanda menggunakan agama untuk meredam permusuhan antara Belanda dan orang Karo supaya orang Karo tidak melawan penjajahan atau ‘pak turut’ saja sama orang Belanda penjajah itu. Dengan begitu, mereka bisa melanggengkan kekuasaan penjajah. Tetapi sekarang, penunggang kuda agama ini bukan meredam permusuhan, tetapi malah menghasut dan meningkatkan permusuhan antara berbagai golongan di Indonesia.

Penunggang kuda baru ini adalah perekayasa ‘divide and conquer’ seluruh dunia, yang kegiatannya terutama ditempatkan di negeri-negeri atau daerah-daerah kaya SDA, seperti Irak, Syria, Konggo, dan juga Indonesia seperti teror 3 juta 1965 demi menguasai SDA Papua selama 50 tahun, dan sudah mengeruk triliunan dolar dari situ tanpa suara.

Jadi, penunggang kuda satu ini bertujuan terutama untuk mengumpulkan duit, duit, duit, dan kekuasaan, kekuasaan . . .  Kekuasaan untuk cari duit, dan duit untuk memperbesar kekuasaan, dan seterusnya untuk memperbesar duit lagi, kekuasaan lagi dst. Atau dengan istilah internasional yang sudah lebih lazim yaitu ‘Greed and Power’. Orang-orang nasionalis tipe Jokowi (presiden) adalah penghalang utama bagi Greed and Power. Di USA adalah presiden Trump sebagai sasaran utama Greed and Power yang disana disebut ‘deep state’.

Deep state ini punya 3 alat utama dalam perjuangannya yaitu, terorisme, narkoba dan korupsi. Mengenai terorisme (‘gun-running’) prof Ottawa University Chossudovsky bilang: “Terrorism is made in USA. The Global War on Terrorism is a Fabrication, A Big Lie,” kata Prof Chossudovsky dari Canada itu.

Afbeeldingsresultaat voor gambar penunggang kudaIni dikatakan oleh Chossudovsky 2015, ketika Obama masih jadi presiden. Inilah yang pertama mau ditutupi dan dirahasiakan oleh semua penguasa (presiden) USA sebelum Trump, dan sampai sekarang mau dirahasiakan, terutama menutupi terror-based industry (industri senjata milik neolib, deep state). Dengan terorisme, senjata laku bagi pelaku teror sendiri dan terutama bagi negara yang membiayai perang untuk melawan terorisme.

Dalam kegiatan narkoba dunia bahkan agen CIA sudah terbukti sangat aktif di dalamnya.

Mengenai korupsi bagaimana taktik ini diterapkan di Indonesia, sudah banyak sekali pengalaman rakyat Indonesia. Korupsi adalah inherent dalam ekonomi neolib.
Dari banyak analisa ahli dunia, terlihat ‘that a deep state can only exist within weak and corrupt infrastructure?

Hal ini terjadi pada era semua presiden Indonesia sebelumnya setelah Soekarno. Kita masih menunggu era Jokowi, hasil terakhir setelah 5 tahun atau 10 tahun, setelah lengser seperti SBY dengan Hambalangnya atau Soeharto dengan Freeportnya dan menggundulkan hutannya. Ketegasan Jokowi melawan terorisme, narkoba dan korupsi bisa menjadi pedoman tepat menilai masa depan bangsa ini.









Leave a Reply