Kolom Panji Asmoro Edan: MENANGKAL HOAX

0
385

Yang membuat saya membikin tulisan ini berangkat dari rasa keprihatinan karena pas saya lagi online di Fb dan melihat beranda diantara teman-teman rasanya ‘cukup rutin’ saya perhatikan menampilkan informasi yang menurut saya kurang berdasar, sebutan yang saya perhalus untuk berita hoax.

Berhubung tidak semuanya saya kenal secara pribadi, dan takut kalau seandainya saya beritahu malah menyinggung, mungkin dengan tulisan bisa membuka pemahaman baru dan menjadi wasilah bagi keselamatan berpikir siapa saja yang membacanya, karena akun saya terbuka bagi publik.

Bagi teman-teman yang mungkin suka memperhatikan, atau menyimak status yang saya tulis, saya juga pernah mengungkap contoh informasi palsu sebuah artikel dari salah satu media yang berjudul, “Manfaat Minum Sperma Bagi Kecerdasan Wanita”.

Hanya saja, saya sudah pasti tidak akan mampu mengupas informasi palsu yang setiap hari terus di produksi.

Saya hanya bisa berbagi pengetahuan, dan itupun tidak banyak. Meski hanya sedikit, semoga saja bermanfaat……




Memahami dan Menangkal Informasi Palsu

Informasi berperan penting dalam kemajuan peradaban manusia. Melalui informasi, berbagai peristiwa direkam dan diberitakan kembali secara luas. Rasanya tiada hari di era modern ini orang tidak bersentuhan dengan informasi.

Anda mungkin tidak menyadari, ketika Anda bangun pagi, lalu membuka akun-akun media sosial (Medsos) yang Anda miliki, menonton televisi atau membaca koran, Anda sudah bersentuhan dengan informasi itu.

Menurut Wilbur Schramm (pakar komunikasi Amerika Serikat), informasi adalah segala yang bisa menghilangkan ketidakpastian. Artinya setiap kabar yang Anda dengar, apa yang Anda baca atau apa yang Anda tonton haruslah mengandung kepastian. Bila tidak,maka itu bukanlah sebuah informasi.

Kalau dulu orang mesti membayar untuk memperoleh informasi tertentu, sekarang, dengan semakin majunya teknologi informasi (IT), beragam informasi bisa didapat secara cepat, dan bisa pula diperoleh secara gratis. Selain itu, informasi semakin mudah pula diproduksi.

Informasi cukup banyak memberi manfaat bagi manusia, misalnya: menambah wawasan, untuk megetahui sesuatu dan dapat ‘melihat’ berbagai peristiwa diseluruh belahan dunia tanpa perlu menjangkaunya secara langsung. Namun selain manfaat, informasi pun bisa disalahgunakan untuk tujuan negatif, propaganda dan fitnah contohnya.

Penggunaan informasi untuk tujuan destruktif (merusak) juga bukan sesuatu yang baru karena dari dahulu informasi sudah dipakai sebagai bagian strategi politik dan militer untuk menghancurkan lawan.

Penggunaan informasi palsu (hoax) yang bertujuan menyesatkan cara pandang orang terhadap nilai-nilai kemanusiaan misalnya, tentu saja harus dicegah. Yang lebih miris, kini tidak sedikit media yang dibuat dengan kesan berbasis agama, padahal kontennya sengaja diisi dengan informasi palsu.

Media dengan kesan berbasis agama sengaja dibuat karena dianggap cara yang paling efektif untuk mendapatkan kepercayaan. Padahal itu hanya sekedar permainan psikologis melalui informasi yang dikait-kaitkan dengan agama. Tujuannya tak lebih untuk memanfaatkan keyakinan individu atau segolongan orang agar percaya dengan informasi yang mereka berikan.

Pemerintah beserta beberapa kalangan independen memang telah berupaya mencegah maraknya informasi palsu. Cara mencegah penyebaran informasi palsu dan cara untuk mengetahui benar atau tidaknya sebuah informasi juga telah diberikan. Namun hingga kini tampaknya belum membuahkan hasil yang memadai untuk meredam beredarnya berita hoax.

Yang menjadi pertanyaan, “mengapa masih saja cukup banyak orang dengan mudah ‘termakan’ informasi hoax?”

Menurut saya pertanyaan itulah yang harus dievaluasi kembali guna dicari formulasi yang lebih tepat agar pengetahuan dan kesadaran orang untuk menyikapi sebuah informasi menjadi semakin tinggi.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka tentu perlu diketahui terlebih dahulu penyebabnya.

Pertama, menurut saya, meski zaman terus bergerak maju, ternyata tidak semua orang mampu memahami informasi yang ia terima, walaupun sebagian orang itu berlatar belakang pendidikan yang cukup.

Ke dua, masih banyak orang yang tidak mau berpikir kritis dan tidak berusaha mencari pembanding dengan informasi lain. Padahal dengan berpikir kritis dan mau berusaha mencari pembanding dengan informasi lain akan membuat seseorang terhindar dari jebakan informasi palsu atau tertipu dengan sumber bacaannya sendiri.

Informasi yang dikait-kaitkan dengan agama pun menjadi faktor lain yang membuat sebagian orang enggan berpikir kritis karena sudah terlebih dahulu mempercayainya. Ditambah lagi trik membuat informasi palsu kini sedemikian canggih sehingga semakin sulit bagi orang untuk membedakan antara kebenaran dan kepalsuan informasi itu sendiri.

Dengan sedikit pengalaman saya sebagai jurnalis, analis dan penulis, saya mencoba berbagi pemahaman, bagaimana agar Anda mampu menangkal informasi palsu melalui beberapa pendekatan.

Di sini saya hanya ingin menambahkan hal-hal lain yang mungkin belum terdapat dari apa yang sudah disampaikan sebelumnya di banyak media. Tujuannya agar orang semakin mampu menafsirkan sebagian atau keseluruhan, keabsahan atau ketidakabsahan informasi yang ia baca.




Berikut beberapa hal yang harus Anda pahami dan lakukan untuk menilai sebuah informasi itu benar atau palsu:

• Berpikir kritis

Berpikir kritis adalah satu hal terpenting yang harus Anda miliki sebelum menyimpulkan sebuah informasi. Dengan berpikir kritis maka Anda tidak begitu saja mau menerima segala bentuk informasi sebelum menelaah kebenarannya.

Dalam berpikir kritis diperlukan langkah mengevaluasi, merenungkan, menolak atau menerima, hingga sampai pada kesimpulan untuk meyakini informasi itu berdasarkan argumen Anda.

Selalulah menggunakan logika dan akal karena akan membuat Anda mampu menetapkan mana informasi yang benar, mana yang palsu, mana yang fakta atau mana yang merupakan pendapat dan kemudian Anda bisa menginterpretasikan terhadap hal itu.

• Bedakan antara Fakta dan Opini

Informasi bisa berisi fakta atau pun opini. Diantara keduanya tentu memiliki perbedaan. Secara ringkas fakta berisi informasi terhadap peristiwa yang benar-benar ada atau terjadi dan bisa dibuktikan kebenarannya.

Meski demikian, sebaiknya Anda tetap melakukan verifikasi agar didapat satu kebenaran yang utuh, bahwa fakta yang disajikan kedalam bentuk informasi itu tidak dikurangi atau dilebih-lebihkan dari peristiwa yang sesungguhnya.

Sedangkan opini sendiri menurut Onong Uchjana Effendy dan Rosady Ruslan memiliki beberapa jenis, yakni: Opini Individual, Opini Pribadi, Opini Kelompok, Opini Minoritas, Opini Mayoritas, Opini Massa, dan Opini Umum.

Dalam hal ini saya tidak membahas satu per satu masing-masing opini, tetapi saya simpulkan bahwa opini adalah satu sudut pandang yang bersifat relatif, dimana satu sudut pandang belum tentu dapat diterima oleh sudut pandang yang lain.



Tak jarang opini dibuat untuk menggiring penilaian orang untuk membenarkan sudut pandang tertentu. Karena itu untuk mengetahui kebenaran sebuah opini, ia harus diuji dan dibuktikan lebih lanjut.

Jika suatu opini setelah diuji dan dibuktikan ternyata benar, maka barulah opini itu dapat berubah menjadi sebuah fakta. Ketika opini menjadi fakta, ia baru bisa disebut sebagai suatu informasi yang benar.

• Perluas bacaan Anda

Secara empiris sudah terbukti cukup banyak manfaat dari membaca, diantaranya: menjaga kemampuan memori otak, menghilangkan stress, membuat otak tetap aktif dan tajam, bisa terhindar dari penyakit Alzheimer dan mencegah kepikunan dini.

Terkait bagaimana mengetahui sebuah informasi itu adalah hoax, maka itu juga tak lepas dari banyak atau sedikitnya materi bacaan Anda.

Semakin luas bacaan Anda, maka semakin banyak Anda punya informasi pembanding untuk mengetahui tingkat validitas dan kebenaran diantara keduanya. Hal itu juga dapat mengungkapkan kesalahan asumsi dalam pemikiran Anda sendiri.

Sebagai contoh, misalnya Anda membaca sebuah buku atau artikel di internet yang berjudul “Pengakuan Ilmuwan NASA Bumi Itu Datar”.

Ketika Anda tidak pernah melakukan komparasi dengan bacaan lain, mungkin Anda tidak akan memahami bahwa itu hanya lelucon yang dibuat seakademis mungkin. Apalagi sebelumnya Anda sudah terpengaruh dengan informasi sejenis, maka yang terjadi bisa saja Anda ‘sujud syukur’ dengan kebohongan yang Anda baca. Padahal sains adalah bidang ilmu terkait kepastian yang harus dibuktikan melalui serangkaian pengujian oleh ilmuwan terkait.

• Tanya semuanya

Jangan mudah menerima atau percaya begitu saja setiap informasi secara membabi buta. Periksalah setiap teks yang bias, mengandung prasangka, salah langkah dalam logika, ketidakakuratan, tidak adanya nara sumber dan referensi, berisi konflik kepentingan, serta kedangkalan isi.

Penipuan ilustrasi (gambar / foto) juga harus Anda perhatikan karena trik ini cukup sering dipakai, dimana foto dari peristiwa lain ditampilkan seolah-olah itu adalah bukti dokumentasi dari peristiwa yang baru saja terjadi.

Tanyakan diri Anda juga dengan standar penilaian yang sama terhadap informasi yang Anda baca. Kalau Anda masih belum yakin dengan penilaian sendiri, maka tanyalah kepada siapa pun yang menurut Anda berkompeten atau yang lebih memahami informasi itu.

• Menggunakan literatur

Literatur merupakan hasil pemikiran akademis yang dituangkan baik kedalam buku, jurnal atau artikel ilmiah.

Selain menjadi rujukan (referensi) dari sebuah pemikiran baru, salah satu tujuan menggunakan tinjauan literatur adalah untuk melihat gambaran lain dari sebuah informasi.

Literatur baik Anda gunakan untuk membandingkan sebuah informasi karena di dalam literatur sendiri sudah berisi argumentasi ilmiah berdasarkan aspek empiris, kajian teoritis dan penelitian yang diakui secara akademis.

Menggunakan literatur sebagai referensi dapat memperkuat validitas informasi yang Anda baca. Selain literatur, sumber dari media massa yang kredibel dan terpercaya juga dapat Anda jadikan referensi karena sebuah media yang baik pastinya akan melakukan serangkaian proses yang ketat sebelum menyajikan informasinya kehadapan publik, selain untuk menjaga reputasi dan kepercayaan pembaca dari media itu sendiri.

• Terbuka dengan informasi lain

Adakalanya seseorang tidak mau menerima informasi selain informasi yang ia sukai. Padahal belum tentu informasi yang disukai berisi kebenaran.

Anda harus terbuka dengan segala bentuk informasi lain meski informasi itu tidak Anda sukai.Terbuka dengan segala informasi dapat mengubah pemikiran Anda pada suatu topik. Semakin banyak Anda membaca, mungkin semakin banyak kompleksitas yang Anda temui. Tetapi semakin dalam Anda menggali maka semakin membuat pemikiran Anda lebih objektif dan realistis memandang berbagai hal.

Dengan demikian Anda dapat menyimpulkan kebenaran atau kepalsuan informasi dan meletakkannya pada proposisi yang sesuai.

Itulah hal-hal yang dapat saya tambahkan mengenai cara menangkal informasi hoax, sehingga diharapkan Anda mampu memisah dan memilah mana informasi yang mengandung kebenaran, dan mana yang palsu.




Melalui beberapa cara menangkal hoax di atas, selain bisa meminimalisir kemungkinan Anda menjadi korban dari informasi itu sendiri, Anda pun akan tetap menjadi orang yang selalu ‘waras’ ditengah ‘kegilaan’ informasi yang bisa dengan mudah menjungkirbalikkan persepsi Anda terhadap berbagai hal.

Ingatlah selalu pada sebuah pepatah umum, “Siapa yang menguasai informasi, maka dia akan menguasai dunia!”

Artinya, ketika Anda tidak melek terhadap informasi, maka Andalah orang yang akan dikuasai oleh orang-orang yang ada dibelakang informasi itu.


Leave a Reply