Kolom M.U. Ginting: PRABOWO SEMAKIN KESEPIAN

0
856

Menurut Letjen Sintong Panjaitan, Prabowo berbeda setelah menjadi menantu Soeharto. Dulu Prabowo selalu berbicara strategi militer, persenjataan dan semua hal soal tentara. Tapi semenjak jadi menantu Soeharto, Prabowo selalu berbicara politik dan kekuasaan (merdeka com).

Sintong ngomong apa adanya. Kekuasaan Presiden Soeharto dimanfaatkan oleh Prabowo sebagai menantunya. Terakhir ketika terbongkar surat pemberhentian Prabowo, banyak penjelasan dari ex jenderal termasuk Wiranto yang menjelaskan bedanya ‘pemberhentian’  dan ‘pemecatan’ dari dinas militer, karena Prabowo dan pengikutnya hanya mengakui bahwa Prabowo tidak pernah dipecat alias ‘pemberhentian’ bukan ‘pemecatan’. Bahwa penculikan aktivis yang dilakukan Prabowo katanya adalah atas perintah ‘atasan’, dan atasan itu akhirnya Prabowo mengaku adalah Presiden Soeharto sendiri.




Presiden Soeharto sudah tidak ada, Prabowo terpaksa sendiri dan malah semakin ditinggalkan oleh ‘sekutunya’, terakhir Hary Tanoe dari Partai Perindo. Partai ini sangat kecil, tetapi efeknya atas pemilih Prabowo tentu bisa lebih besar. Ini tentu membikin lebih ‘rame’ Pilpres 2019 dengan ambang batas PT (presidential threshold) 20%. Prabowo harus cari partner bikin batas 20% tercapai. Jokowi bisa dikatakan sudah aman dalam hal PT ini, karena sudah cukup banyak partai yang mendukung.

Pertemuan terakhir antara Hambalang (Prabowo) dan Cikeas (SBY) sepertinya keharusan bagi kedua belah pihak untuk melihat kemungkinan yang ‘masih mungkin’ bagi keduanya, melihat perubahan tiba-tiba yang selalu ada di depan mata. Perubahan tiba-tiba ini tentu tidak lepas dari perbuatan dan sikap yang lalu-lalu, yang selama ini belum muncul ke permukaan. Ini akan selalu terjadi, selama kegelapan lama masih tersimpan dan selalu ada kesempatan terbuka atau membukakan dirinya di atas meja publik.

Perubahan dari kegelapan ke keterbukaan adalah ciri utama era keterbukaan dan transparansi. Ini adalah arus sejarah, tidak tergantung dari kehendak perorangan dan tidak bisa dikendalikan oleh perorangan. Banyak yang masih harus ‘gelap’ di Pihak Cikeas dan juga di Pihak Hambalang seperti ‘pemecatan’ atau ‘pemberhentian’ Prabowo. Kegelapan kalau datang di permukaan, bikin mata publik terbuka dan memastikan pemilih untuk tidak memilih yang gelap. 

Hambalang butuh 20%, begitu juga Cikeas, untuk bisa maju ke Pilpres. Paling ideal dan mungkin ialah menyatukan keduanya. Artinya Prabowo jadi Calon Presiden dan Cikeas (anak SBY) jadi Cawapresnya. Kalau keduanya bikin Capres/ Wapres sendiri, butuh setidaknya 40%. Dari mana suaranya kalau di pihak Jokowi sudah bisa lebih dari 60%? Atau antara Hambalang dan Cikeas rebutan 20% lebih dulu untuk meloloskan salah satu?

Bayangan skenario ini bikin Pilpres 2019 memang akan sangat menarik.

Kepastian Jokowi ialah, karena dia adalah contoh perubahan dan perkembangan zaman, mewakili yang bakal menang dalam kontradiksi pokok dunia; antara keadilan dan ketidakadilan, antara kejujuran dan ketidakjujuran, tergambar dalam perjuangan kepentingan nasional kontra kepentingan internasional neolib atau deep state.









Leave a Reply