”Tidak apa-apa rupang Buddha turun, sing penting welas asihmu terhadap semua makhluk tidak ikut turun, semua makhluk hidup mendambakan kebahagiaan.”

“Apabila dengan turunnya patung Buddha bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain, maka bukankah doa khas umat Buddha yaitu “semoga semua makhluk hidup berbahagia” menjadi kenyataan?

Itu respon Bante Karma Zopa Gyatsho saat patung Buddha Amitabha di Tanjung Balai diturunkan di Bulan Oktober 2016. Padahal letaknya berada di dalam areal Vihara Tri Ratna.




Dan, kini, patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di areal Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban harus ditutup karena teriakan segelintir orang. Ketua Umum tempat Ibadah Tri Dharma Klentang Kwan Sing Bio Tuban, Gunawan, berkata “Kami hanya ingin Indonesia damai.”

Kado terpahit menjelang perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72 tahun. Ada orang yang hidupnya masih belum menerima keragaman.

Presiden Soekarno pernah berkata: “Kebhinekaan bukan jadi penyebab kita terbelah atau bahkan terpecah, melainkan menjadi alasan kuat untuk kita bersatu.”

Perbedaan bisa menjadi kekuatan jika dimaknai sebagai anugerah. Tapi bila perbedaan dimaknai sebagai persoalan, pelan-pelan negeri yang diperjuangkan kemerdekaannya oleh para pejuang-pejuang kita terdahulu akan hancur oleh para penikmat kemerdekaan.

Presiden Jokowi telah mengingatkan dalam pidatonya tanggal 1 Juni 2017 saat memperingati Hari Lahir Pancasila :

“Rumusan final tanggal 18 Agustus 1945 adalah jiwa besar para founding fathers kita, para ulama, para tokoh agama dan para pejuang kemerdekaan dari seluruh Nusantara sehingga kita bisa membangun kesepakatan yang mempersatukan kita.”

“Maka harus diingat bahwa kodrat bangsa Indonesia adalah kodrat keberagaman, takdir Tuhan untuk kita adalah keberagaman.”

VIDEO: Sebuah kelompok musik dari Suku Karo yang menyuarakan keberagaman (dalam Bahasa Indonesia)







Leave a Reply