Ketika Tuhan menurunkan seorang tukang dalam sosok Jokowi untuk menjadi Presiden, perlahan namun pasti telah merubah wajah negeri ini menjadi lebih baik. Sebagaimana kita ketahui, keahlian tukang (tukang apa saja) adalah untuk memperbaiki, merenovasi, dan merestrukturisasi ulang apapun itu. Jokowi adalah tukang itu.

Tukang apapun juga, seringkali tidak berpikir tentang dirinya sendiri. Gak percaya? Tukang bangunan, misalnya, sering kali rumahnya malah pating gedhaglek, rumahnya dibiarkan apa adanya.

Tukang montir motor atau mobil, seringkali juga motor dan mobilnya keluaran tahun baheula. Tukang meubel juga demikian, seringkali juga isi rumahnya bukanlah produk meubel yang bagus. Dan tukang service elektronik, seringkali malah memakai barang-barang bekas yang dimodifikasi. Yang penting bisa dipakai dan memiliki daya guna.




“Masak iya gitu, Mas?”

“Ya, iyalah. Saya kan juga tukang service elektronik. Cuma bernasib baik, tidak dan belum pernah dituduh mencuri di tempat ibadah.”

Di sinilah barangkali filosofi seorang tukang yang melekat pada seorang Jokowi. Tentu kita masih ingat gebrakan-gebrakan Jokowi memperbaiki negeri ini yang antara lain, sbb:

  1. Lumpur Lapindo yang 8 tahun di jaman Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak kunjung usai, dalam dua bulan kepemimpinan Jokowi selesai ditukangi.
  2. Dweeling Time yang ditenggarai banyak mafia di sana, oleh Jokowi juga ditukangi. Selesai.
  3. Pengamanan kekayaan laut, hingga membuat gebrakan harga di Papua dengan TOL udaranya. Supaya harga-harga bisa ralatif sama dengan Indonesia lainnya, oleh Jokowi ditukangi.

Dan deretan panjang prestasi Jokowi lainnya yang tentu membuat lawan ketar ketir hingga seperti orang kenthir alias gila, yang terus berusaha menjegal dengan berbagai cara.

Seperti halnya kasus Pilkada DKI, mereka berhasil menumbangkan Ahok dengan cara-cara yang akan dicatat sejarah sebagai catatan kelam bangsa ini dalam berdemokrasi. Lalu, ketika di elit politik, Jokowi ternyata bisa menaklukkan dengan cara yang cerdas, dengan cara yang hebat dan mematikan, tentu lawan-lawan Jokowi semakin kalap. Semakin gelap mata.

“Jadi, apakah kegaduhan-kegaduhan di lapisan bawah, di masyarakat ditenggarai ada tangan-tangan yang sengaja mendiskreditkan, menyudutkan agar nama jokowi jelek, Mas?”

“Bisa jadi!”

Coba kita amati. Masyarakat bawah dibuat semakin radikal. Gampang tersulut emosi. Seperti halnya sahabat kita yang dituduh mencuri amplifier. Dan yang lagi hangat, adalah hanya soal patung.
.
“Padahal, masyarakat Tuban ora popo. Adem ayem ya, Mas?”

Itulah. Saya prediksikan, ke depan akan ada saja kegaduhan-kegaduhan di lapisan bawah menjelang Pilpres 2019 yang sengaja diciptakan.

“Yang sering gak habis pikir, sejak kegaduhan Pilkada DKI, kenapa Prabowo diam dan tidak pernah mengeluarkan statement supaya negeri ini tidak gadhuh? Jangan-jangan anu……..”

Huuzzzzzzzzz! Gak boleh suudzon. Gak boleh diucapkan. Itu melanggar UU ITE.

Sudah. Monggo disruput ,…..









Leave a Reply