Kolom Nisa Alwis: IQRO! 

0
398

Artinya “bacalah”, dorongan untuk terus belajar karena kehidupan dunia tidak pernah berhenti bergerak, terus berkembang. Mengapa ayat pertama itu IQRO, bukan ‘ihfadz’ (hafalkan), atau ‘isma’ (dengarkan)?

IQRO, adalah pesan penting. Ayat pertama yang fenomenal dalam kitab suci. Kalimat pembuka kala al-Qur’an turun ke bumi.

Malaikat menyampaikannya pada seorang manusia, Muhammad, yang mulia akhlaknya. Lelaki ini jauh sebelum diangkat menjadi Rasul sudah mendapat gelar ‘al-Amin’, orang yang dipercaya. Masyarakat memandang dirinya layaknya seorang pemimpin. Pemimpin yang integritas moralnya teruji: siddik (berpegang pada prinsip nilai yang baik dan benar), amanah (konsisten, tidak berkhianat), tabligh (berani menyampaikan nilai-nilai kebenaran meski banyak tantangan), fatonah (bijaksana).

Ia pribadi yang cerdas dan kuat. Sehingga mampu melahirkan kesepakatan damai di tengah keragaman suku-suku Arab yang kerap bertikai. Akan tetapi, Muhammad belum sempurna, ia tak kenal tulis dan baca.

Lalu, di gua Hiro kala itu, tempat yang sunyi dimana Muhammad melakukan muhasabah diri, Jibril turun menyerupai manusia bersih rupawan. Mendekap lelaki yang khusyu mencari petunjuk Tuhan. Allah mengutus Jibril menemuinya, menjadikannya Rasul, kekasih pilihan.




Iqro,” ucap Jibril.

Ma ana biqori, aku tidak pandai membaca,” ujar Muhammad.

Ia terpana dan menggigil. Lalu mengalunlah surat al-‘Alaq yang indah. Surat Qur’an pertama yang tercatat dalam sejarah.

“Membaca” adalah bagian dari amanat beragama untuk mencerdaskan manusia. Agar umat mengisi diri dan membangun peradaban dengan pengetahuan-pengetahuan yang Allah hamparkan di alam raya, untuk lalu memanfaatkan dan mensyukurinya. Dalam konteks kegiatan pendidikan dan da’wah, janganlah terpaku pada prinsip “sami’na wa atho’na“. Hanya menghafal, mendengarkan, namun mengabaikan membaca.

Membaca dalam artian mendorong daya pikir kritis dan analitis, yang juga bagian dari pencarian sumber keimanan. Bila muncul keingintahuan dapat dicari jawaban dari beberapa referensi, atau bertanya pada beberapa guru/ ulama lain yang punya kompetensi. Bagaikan kita bisa bertanya ke beberapa dokter sebagai second opinion dalam mendiagnosa gejala suatu penyakit.

Membaca, membuka jendela dunia.
Salam literasi Indonesia













Leave a Reply