Tersiar kabar, seorang dosen UIN Jakarta yang bercadar dipecat. Banyak respon pro dan kontra. Yang pro menganggap wajar, bukan saja karena kesan radikal tetapi juga kontraproduktif ketika dalam ruang belajar terhambat interaksi dosen dan mahasiswa baik secara verbal, vokal atau pun visual. Bagi yang kontra menganggap pakaian apapun hak pribadi yang perlu dihargai.

Namun, terlepas dari segala opini, sudah ada klarifikasi ternyata kasusnya bukan dipecat, tetapi mengundurkan diri. Cukup mencengangkan karena ada keterlibatan dengan ISIS.

Dan, pekan lalu, ada pertemuan Niqab Squad di Jakarta, komunitas perempuan bercadar indonesia. Dipelopori beberapa selebriti yang sudah melakukan ‘hijrah’. Antara lain Pipik Irawati, disainer Diana Nurlina, dan Indadari istri dari Saesar, si penari kocak yang ikut ‘hijrah’ dan baru saja come back menari lagi. Sejauh liputan pers, mereka merasa bercadar adalah panggilan jiwa untuk bisa merengkuh puncak takwa, dengan berpakaian tertutup sekujur badan.

Benarkah demikian? Pemahaman dan pengalaman spiritual setiap orang tentu berbeda. Saya lebih concern pada tinjauan sosialnya.

Fenomena cadar memang cukup marak. Kini di samping trend khimar berjuntai yang diklaim syar’i, tak sedikit pula perempuan bercadar dengan khas abaya hitam. Hanya menyisakan segaris celah untuk mata. Saat piknik di pantai, perempuan bercadar tetap dengan cadar hitamnya, lengkap berkaos kaki. Demikianlah, saudara kita di sini mulai banyak yang tertarik dengan cadar. Tetapi sebagian lain perpikiran hal ini seperti anomali antara kemajuan dan kemunduran peradaban.




Dalam sebuah forum online, berikut saya kutip beberapa respon atas keresahan itu:

“MAAF” jika tidak suka dengan yg bercadar cukup diam,, jangan mengolok…
Hijab itu wajib ibu pak,, HUKUM WAJIB apabila dilaksanakan dapat pahala ditinggalkan dapat dosa.(pelajaran agama islam anak SD),,
CADAR itu SUNNAH,, hukum SUNNAH dilaksanakan dapat pahala ditinggalkan tidak apa*(MASIH PELAJARAN AGAMA ISLAM SD)..
RASULULLAH SAW bersabda BARANG SIAPA MENGHIDUPKAN SUNNAHKU BERARTI DIA MENCINTAIKU, BARANGSIAPA MENCINTAIKU MAKA DISURGA BERSAMAKU (H.R. TIRMIDZI) anda islam????

Tapi lebih suka cara berpakaian orang yahudi… berpakaian tapi layaknya telanjang… lebih takut sama yg tutup aurat dari pada yg umbar aurat,,, yg bercadar kalian katakan Teroris,, extrim,,fanatik…terus yg pake “ROK MINI” kalian katakan apa “PELACUR”????
Yang berhijab secara sempurna saja belum tentu masuk surga pak, buk apalagi yg memang tidak menutup aurat,,, yg membuka aurat memperlihatkan kecantikan kepada siapa saja,,, membuat semua lawan jenisnya tertarik,,bernafsu melihatnya sedangkan yg tertutup kalian tidak sukai sementara mereka hanya ingin menjaga dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi lawan jenisnya…

MAAF LEBIH BAIK ANDA DIAM DARI PADA MENGOLOK,, ALLAH MAHA MELIHAT DAN MENDENGAR APA YG KALIAN PEROLOKKAN..setiap perkataan akan dipertanggung jawabkan diakherat kelak IBU PAK..jadi hati*lah dalam bertutur kata.. akan ada hari dimana kalian akan menyesali perkataan* kalian…
ALLAH KUASA MAKHLUK TAK KUASA..
semoga kalian diberi hidayah dan kepahaman agama…
Aamiin allahumma aamiin.
——-
yg pk cadar…. insya allah amaaannnn gak bakal ganggu mata suami suami ibu ibu…
jadi gk perlu dinyinyir..
nahhh apa ibu ibu merasa aman, kl suaminya mantengin paha paha mulusss… wajah wajah bening tanpa nodaa… melebihi kinclongnya ibu ibu sekaliannnn…?
——
Ayo yang bercadar… Belajar mengaji dulu yang bener… Dengan ulama yang bener… Yang bisa baca dan menafsirkan Al Qur’an dengan bener…
——-

Perempuan terlahir menarik bagi lawan jenisnya, itu fitrah. Tetapi apakah perempuan tanpa cadar menjadi gangguan bagi laki-laki? Sebaliknya, apakah laki-laki dapat memangsa siapa saja yang dilihatnya? Pasti akan banyak protes dengan praduga ini. Karena sejak dahulu kala kita sudah punya tata nilai etika, moral dan susila. Tentu dalam penampilan keseharian perempuan ada sentuhan gaya dan estetika. Tapi itu tak lantas membuatnya jadi penggoda. Banyak hal lebih penting dalam kehidupan yang menjadi alasan terjadinya relasi antara laki-laki dan perempuan selain urusan goda-mengoda.

Mengapa banyak yang terkejut dengan perkembangan cadar di sini? Karena terlihat sebagai ekspresi beragama yang mencolok di luar budaya kita yang dipandang sudah elok. Tidak semua warga di negara Timur Tengah bercadar, tetapi semua tahu cadar adalah kultur Gurun Sahara. Bahkan dalam kajian antropologi cadar ternyata dikenal bukan sebagai khas tradisi Islam. Orang Yahudi dan Kristen ortodoks pun mereka biasa bercadar hitam.

Kaitannya dengan ekstrimisme, tentu ini hal yang berbeda. Namun tidak dapat dipungkiri, beberapa kasus penggerebegan tersangka teroris keluarganya bercadar. Ini bukan generalisasi, cadar sudah menjadi simbol totalitas spiritual. Tetapi di luar ketertutupan fisik, boleh jadi juga pemikiran tertutup dan sikap menarik diri dari relasi sosial rawan disusupi ideologi radikal.

Di suasana keluarga besar, cadar menciptakan keasingan tersendiri. Pola hubungan berubah. Kehangatan tatap muka saat silaturahmi tak sama lagi. Karena saat paman, uwak, sepupu, ipar, dan lainnya ada, justru saudara sendiri menutup mukanya. Batang hidung saja tidak nampak. Ketawa atau bersedih siapa yang tahu.

Yang bercadar sangat peduli pada dirinya, tapi kepedulian bahwa keluarga seperti merasa kehilangan dirinya mungkin ia abaikan. Demikian halnya dalam tegur sapa. Bagaimana dapat menyapa seperti biasa, bila saat baru ketemu tak ada yang tahu siapa di balik jubah itu. Lalu ketika obrolan berjalan, seperti dilanda penasaran. You can see me clearly, but i can’t see you at all. Sampai di sini ada komunikasi yang terhambat. Setidaknya, perlu upaya ekstra untuk bisa saling memahami timbal balik.

Apakah bagi perempuan Indonesia, cadar adalah bentuk pengekangan baru? Bagi yang menjalaninya dengan kerelaan keputusan besar bercadar bukan pengekangan, tapi kebebasan baru. Tetapi bagi yang concern pada strategi pemberdayaan, iya. Cadar sebagai pilihan jalan agama yang menjadi kekangan baru. Belum lama kita digugah pentingnya mendorong perempuan berkembang, habis gelap terbitlah terang.

Dibuat sistem relasi seimbang, di ruang-ruang pendidikan, di lapangan pekerjaan profesional, hingga di parlemen, agar demokrasi tidak pincang. Karakteristik cadar seakan membawa kembali masa silam, ketika akses wanita sangat terbatas pada ruang publik, dan semata menjadi penghuni bilik-bilik domestik.

Mohon maaf pada akhwat bercadar. Kita sedang perlu bertukar pandangan, untuk saling muhasabah. Supaya saat memikirkan akhirat kita tetap realistis pada kehidupan dunia. Kehidupan yang aman damai dan sejahtera di tanah air kita. Pakaian takwa bisa berbeda-beda, tapi ia sama-sama melahirkan kabaikan, bagi diri sendiri, keluarga, juga bagi sesama manusia. Di atas segalanya Allah tidak menilai wujud kita, tetapi Ia melihat hati-hati kita.

Wallahu a’lam











Leave a Reply