Oleh: Ibrani Colia

 

Hidup di ladang dengan segala keterbatasan… Sepi tapi tenang. Hanya sekali-sekali berinteraksi dengan warga desa. Tapi bukan kami hidup tak bergaul dan bersosial.

Syukur jaman sudah maju sehingga penerangan kami sudah memadai dengan adanya lampu tenaga matahari. Pun demikian, kami tidak terlepas dari yang namanya kayu bakar untuk menanak nasi, memasak air untuk mandi. Terlebih menghangatkan badan saat hujan seperti ini.

Saat hujan seperti ini, perut serasa agak lapar. Kira-kira apa yang bisa dimakan, ya? Tinggal di ladang bukan seperti tinggal di restoran. Begitu makanan dipesan, sesaat kemudian pesananpun datang.

Tinggal di ladang…. apa yang bisa dijadikan makanan, itulah yang diolah. Jagung? Belum berbuah. Yang ada biji nangka. Mau digoreng, minyak sudah habis. Melihat bara api yang baik ini, tidak ada salahnya memasak di bara.

Dan ternyata aromanya wangi, legit. Pokoknya memang enak. Apalagi saat dingin di musim hujan.

Dari gubuk ladang ini ingin kusampaikan, walaupun kami tinggal di ladang, tapi hidup kami tenteram.

Salam, bujur ras mejuah-juah…











Leave a Reply