Kolom Asaaro Lahagu: AHOK MENANG DI PENJARA, JOKOWI DIGODA, NAJWA MEROKET

0
1090

Ahok di penjara. Apakah ia tamat? Sama sekali tidak. Sekalipun ia di penjara, namanya tetap diingat. Ide briliannya tentang jalan lingkar Semanggi, terbukti mengurangi kemacetan. Harga ide Ahok itu jelas amat mahal. Ia lebih mahal dari harga diri Habiburokhman yang nyasar di pusaran lingkar Semanggi, pusaran ide Ahok. Inilah yang saya maksud Ahok menang di penjara. Tubuhnya di penjara, tetapi ide briliannya mampu membuat nalar, otak dan logika Habiburokhman tumpul, tersesat dan akhirnya nyasar.

Ahok menang di penjara, ketika ia dipercaya administrasi di Mako Brimob. Orang jujur dan beretos kerja tinggi laku dimana-mana dan bahkan di penjara sekalipun. Ahok memang seorang administrator ulung. Ide hebatnya tentang pasukan biru, kuning, merah, putih di DKI semasa ia berkuasa, mampu membuat Jakarta berubah total. Hingga sekarang ide cemerlang Ahok itu, terus diingat masyarakat Jakarta yang mendukungnya. Itulah kemenangan ide Ahok.

Dua kemenangan terakhir Ahok yang sejati akan mengguncang nalar bumi datar. Pertama, kemenangan banding Ahok lewat Pemkot Jakarta Selatan, melawan gugatan warga Bukit Duri yang telah digusur di PTUN. Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta telah mengabulkan banding yang diajukan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan, atas perkara gugatan warga Bukit Duri dengan nomor 205/ G/ 2016/ PTUN. JKT. Artinya, penggusuran yang dilakukan Ahok pada bulan September 2016 lalu, sudah benar dan sah secara hukum (Kompas.com).

Ke dua, kemenangan Ahok terkait reklamasi Teluk Jakarta di MA. Putusan MA di tingkat kasasi yang menangani sengketa reklamasi di teluk Jakarta, lagi-lagi memenangi Pemrov DKI. Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta menang atas gugatan nelayan Jakarta di tingkat PTTUN. Artinya apa? Reklamasi Pulau G yang dikebut di era Ahok, sah secara hukum. Jadi, gagasan hebat Ahok tentang reklamasi, benar. Dengan demikian memoratorium tentang reklamasi yang digagas oleh Rizal Ramli harus dicabut (Merdeka.com). Itulah kemenangan Ahok, kemenangan ide yang cemerlang.

Kemenangan yang lebih hebat Ahok di penjara adalah sepak terjangnya yang membuat seantero Nusantara kembali mencintai NKRI. Menjelang perayaan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-72, saya melihat aura kecintaan kepada NKRI, bendera merah-putih dan gambar Garuda Pancasila, luar biasa menggebu.  Gara-gara Ahok, bendera hitam ISIS yang nyaris dipuja di negeri ini keluar semak, lalu kemudian digebuk. Hal itu membuat naluri kecintaan kepada NKRI kembali menggelora, bangkit membahana dengan spirit lagu “Tujuh Belas Agustus Tahun Empat Lima”.

Lalu, bagaimana dengan Jokowi?

Lewat Perppu yang membuat HTI tak berkutik dan UU Pemilu yang membuat Rhoma Irama, Yusril Ihzra Mahendar tak bisa seenak jidat lagi nyapres, kini Jokowi semakin berkibar. Jokowi bagaikan Raisa di bidangnya. Pesonanya mampu memabukkan lawan-lawannya. Filosofinya yang membangun sana-sini, tetap ndeso namun ber-ide cemerlang, mampu membuat lawan-lawannya terpincut.




Lihat saja Hary Tanoe yang selama bertahun-tahun benci (benar-benar cinta) kepada Jokowi. Terbukti, Hary Tanoe tak bisa menyembunyikan perasaan gundahnya yang selama ini terus bergetar-getar. Ia sebenarnya mengagumi habis Jakowi. Namun karena Jokowi tak meliriknya, akhirnya Hary Tanoe datang menggoda langsung. Hary Tanoe datang terus terang ‘melamar’ alias mendukung Jokowi menjadi Capres 2019.

Lalu, ada si Fahri Hamzah. Kelihatannya sosok ini sudah habis-habisan menyerang Jokowi selama bertahun-tahun. Tujuannya sebenarnya agar Jokowi sedkiti melirik Fahri Hamzah atau mau sedikit mencoleknya. Namun, karena tak digubris, akhirnya Fahri Hamzah sendiri yang datang menggoda Jokowi dengan pujiannya yang tumben-tumbenan

Hal yang lebih lucu adalah godaan yang datang dari Wakil Ketua Umum Gerinda, Arief Poyuono. Tadinya Poyuono mau menyerang Jokowi lewat pembusukkan PDIP dengan menyamakan partai itu sama dengan PKI. Namun, ketika ia tak dibela oleh Fadli Zon, Poyuono berbalik arah dan menggoda Jokowi dengan pujian setinggi langit. Kini Poyuono terus membongkar kebusukan Gerindra yang menutup mata atas prestasi cemerlang Jokowi.

Tentu saja, tak bisa dilupakan godaan spektakuler SBY ke Jokowi lewat Agus Yudhoyono. Jika Jokowi memberikan satu lirikan manis saja kepada Agus sebagai Wapresnya 2019, maka dukungan dari Demokrat sekaligus dari PAN datang bagai air bah. Getaran awal godaan itu terjadi ketika Agus menemui Jokowi untuk mendapatkan restu atas pendirian The Yudhoyono Institute. Ah, mengingat Yudhoyono Institute, saya ingat nama beken The mangkrak of Hambalang Institute. Atau The maling of Century. Sayang godaan gemulai SBY itu, pasti dengan mudah digagalkan oleh Mega, pengendali PDIP.

Ke depan, publik akan menunggu lagi siapa-siapa pihak yang menggoda Jokowi. Sambil menunggu godaan selanjutnya, perlu kita lirik godaan tulus dari Najwa Shihab. Sulit bagi Jokowi melupakan Najwa. Saya lihat Najwa ini adalah sosok wanita Indonesia yang cerdas. Jadi, tidak salah jika ia masuk dalam jajaran pemerintahan Jokowi. Najwa yang juga puteri ulama Quraish Shihab, adalah sosok pendukung NKRI tulen. Najwa sangat cocok dijadikan sebagai salah seorang ujung tombak penegak dasar Pancasila dan penenun hebat tali kebangsaan.

Saya yakin ke depan karir Najwa akan tetap meroket apalagi kalau dipoles Pakde Jokowi. Program Najwa di Mata Najwa, bisa menjadi acuan kecerdasan Najwa dalam berkomunikasi.




Kalaupun Najwa tak berhasil menggoda Jokowi, maka pintu-pintu karir lain di TV lain akan mampu membuat karirnya terus meroket. Selamat buat Najwa yang sudah mulai disebut-sebut kandidat Menteri Jokowi.

Jadi, ketika Ahok menang di penjara namun idenya melenggang bebas, Jokowi terus diserang, lalu gagal dan akhirnya berbalik digoda, Najwa Sihab simpatisan ke duanya, akan meroket. Sebaliknya, harga diri pihak lain yang terus nyinyir kepada Jokowi, terlihat terjun bebas. Sebut saja Ahmad Dhani, Amin Rais, Fahri Hamzah, Setya Novanto, Ratna Sarumpaet, Rizieq Shihab, Sambo, Arief Poyuono, dan seterusnya. Jika salah satu mereka dipenjara nantinya, maka bisa dipastikan nasibnya hancur lebur. Begitulah kura-kura.



Leave a Reply