Kolom Ray Bambino: REVOLUSI MENTAL

1
239

Apakah mendukung Jokowi harus selalu mengamini setiap kebijakannya? Jika ya, artinya anda bukan pendukungnya akan tetapi pemujanya, dan ini menjerumuskan Jokowi yang pada gilirannya berdampak terhadap terpuruknya bangsa ini.


Sikap kritis yang terukur secara cermat harus selalu ada. Saya yakin beliau pun tidak suka dengan sikap atau orang yang “Asal Bapak Senang”. Cukup Soeharto saja yang suka dengan yang demikian. Namun, oleh karena berpikir kritis itu merupakan proses terorganisir yang melibatkan aktivitas mental yang mencakup kemampuan untuk merumuskan masalah dan memberikan argumen, maka tidaklah dikenal oleh orang-orang yang bermental terjajah, karena orang yang bermental terjajah selalu merapatkan diri pada penguasa secara tanpa syarat.

Saya pernah dengar pidato Jokowi yang menurut saya cukup baik: “Saya memiliki keyakinan yang sama dgn Bung Karno bahwa jalan perubahan yang ingin kita wujudkan pasti dihadapkan pada bertahannya mentalitas lama (mental terjajah).”

Revolusi Mental yang dimaksud Jokowi adalah “merobek” mentalitas lama itu menjadi mental juang dalam keragaman membangun Indonesia Raya yang tidak anti terhadap kritik.

#Salam “Berpikir Gila”








1 COMMENT

  1. ‘Revolusi Mental yang dimaksud Jokowi adalah “merobek” mentalitas lama itu menjadi mental juang dalam keragaman membangun Indonesia Raya yang tidak anti terhadap kritik.’ (RB).

    ‘kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan’, sudah terbiasa kita dengar dari milis Karo. Dalam kritik atau debat ada kontradiksi, perjuangan antara pendapat atau pemikiran yang bertentangan. Dengan ‘mentalitas penjajah’ atau sekarang artinya memihak penguasa saja secara membabi buta, dengan sendirinya menyingkirkan kontradiksi, menyingkirkan kemungkinan perubahan tadi, menghilangkan kemungkinan kemajuan atau perkembangan dalam soal yang dipertentangkan, karena kontradiksi itulah yang jadi tenaga penggerak perubahannya. Contohnya ialah kontradiksi antara SBY dan Anas telah bikin korupsi ‘rumah hantu’ jadi terang benderang karena semua soal dibongkar oleh masing-masing pihak. Kalau tidak ada kontradiksi diatas meja, rumah hantu itu akan tetap tinggal rumah hantu, tidak ada yang mengetahui juga.

    Contoh lainnya lagi ialah kontradiksi antara Wiranto dan Prabowo soal siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya aktivis 1997/98. Semuanya sudah semakin jelas bagi publik Indonesia.

    ‘tidak anti terhadap kritik’, itulah kuncinya didalam diskusi atau debat untuk mencari solusi soal, menemukan pemikiran yang relatif lebih benar pada saat tertentu. Untuk bikin orang tidak anti terhadap keritik memang butuh beberapa persyaratan.
    Pertama orang harus keluar dari zona amannya (comfort zone) seperti keluar dari mentalitas penjajah itu.
    Kedua ialah berani membuka kesalahan lama. Inilah yang paling berat,, karena disini butuh kejujuran. Seperti contoh diatas mengakui terus terang korupsi gedung hantu itu, atau mengakui terus terang penculikan dan pembunuhan para aktivis itu.

    Tetapi keberanian seperti ini sungguh sangat jarang. Dan memang sangat sukar atau tidak mungkin, terutama di Indonesia dengan contoh konkret diatas. Pada hal kalau pembesar-pembesar negeri itu bersedia suka rela memaparkannnya diatas meja kepada publik, mirakel akan terjadi, keindahan pencerahan luar biasa yang pasti akan punya pengaruh luar biasa pula atas perkembangan mentalitas publik dan pemimpinya, artinya REVOLUSI MENTAL.

    MUG

Leave a Reply