Selama 1 Dasawarsa, tahun ini merupakan tahun di mana Korea Utara (Korut) diketahui paling banyak melakukan uji coba nuklir dibanding negara-negara pemilik nuklir lainnya.

Menurut laporan intelijen AS, Korut telah mengujicoba perangkat nuklirnya sebanyak 5 kali, sekaligus mengembangkan hulu ledak nuklir yang cukup kecil yang bisa disesuaikan dengan roket. Uji tembak rudal balistik Korut mulai dari jarak menengah hingga antarbenua.

Apa yang dilakukan Korut membuat suasana Semenanjung Korea memanas. ‘Aroma’ perang seperti merebak ke Korea Selatan (Korsel) dan Jepang. Sikap China dan Rusia sebagai sekutu Korut yang tidak bereaksi sempat memunculkan spekulasi terjadinya perang.

Suasana semakin memanas ketika Amerika Serikat (AS) mengirim kapal induknya dan memperkuat basis militer Korsel dengan menempatkan sejumlah antirudal di negara ginseng itu.

Kekhawatiran terjadinya perang nuklir melanda seluruh dunia. Para pengamat pun rajin menuliskan penilaiannya di media massa terkait krisis keamanan di Semenanjung Korea. Tapi benarkah Korut akan menjadi pemicu terjadinya perang nuklir yang bakal melibatkan negara-negara pemilik nuklir lainnya? Sebuah analisa menarik dari Marshall Connelly (Analis Kebijakan dan Politik) di catholic.org baru-baru ini, mungkin patut dicermati.

 

 

Connelly membuat ulasan yang berbeda dengan pengamat lainnya tentang kemungkinan terjadinya perang nuklir akibat unjuk kekuatan militer yang dilakukan Korut. Dari catatan Connelly, menurut perhitungan baru Badan Intelijen Pertahanan AS, terdapat sekitar 14.995 senjata nuklir di seluruh dunia pada Juli 2017. Dari jumlah itu, Korut ditaksir memiliki sekitar 60 senjata nuklir. Angka ini bertentangan dengan survei Swedia yang mengklaim Korut hanya memiliki 10-20 senjata pemusnah massal.

Ada dugaan Korut menyempurnakan teknologi roketnya yang bisa menjangkau AS. Tujuannya adalah untuk mengancam AS agar mengurangi aliansi dengan Korsel dan untuk mencegah negara tersebut menyerang wilayah Korut serta upaya membuat perubahan rezim.

Meskipun tidak ada tanda-tanda bahwa AS bermaksud untuk menyerang Korut, negara tersebut tidak mau mengambil risiko setelah melihat bagaimana intervensi AS di Timur Tengah.

Sementara Korut tengah mengembangkan senjata mereka, Presiden Trump telah memerintahkan program modernisasi senilai $ 1 triliun untuk gudang senjata nuklir Amerika. Apa yang dimaksud dengan ini tidak pasti.

Berdasarkan peta kekuatan nuklir dunia, Rusia diketahui masih memiliki senjata nuklir paling banyak dari negara manapun, yaitu 7.000. AS memiliki 6.800, dan Prancis berada di tempat ke tiga dengan 300. China berada di urutan ke empat dengan 270. Selanjutnya Inggris dengan 215, Pakistan dengan 140, India dengan 130, Israel dengan 80, dan Korea Utara dengan 60 rudal nukir.

Satu senjata nuklir bisa menghancurkan seluruh kota hanya dalam hitungan detik. Dan hulu ledak nuklir dapat dipasang pada rudal jarak jauh yang dapat mengantarkan mereka ke titik manapun di bumi dalam waktu kurang dari 30 menit.

Dari 14.995 senjata nuklir, hanya sekitar 6.000 yang dipasang dan siap digunakan dalam waktu singkat. Mayoritas senjata siap pakai berada di bawah kendali AS atau Rusia. Selama AS dan Rusia tidak saling menembaki, dunia aman dari pemusnahan oleh nuklir dalam skala penuh.

Menurut Connelly, ada 2 penyebab kemungkinan nuklir diluncurkan. Pertama, eskalasi ketegangan yang tidak terkendali yang membuat salah perhitungan terhadap ancaman politik, sehingga membuat seorang kepala negara pemilik nuklir memerintahkan perwira militernya yang setia untuk menembakkan nuklir tanpa pertanyaan.

Ke dua, adanya kerusakan teknis yang menyebabkan terjadinya peluncuran senjata nuklir secara tidak disengaja. Ini justru jauh lebih menakutkan dibanding penyebab pertama karena tidak ada pihak lain yang bisa memastikan peluncuran yang terjadi karena faktor ketidaksengajaan atau memang faktor disengaja.

Connelly berpendapat, selama ada senjata nuklir, selalu akan ada godaan pemilik nuklir untuk menggunakannya. AS sendiri sudah menggunakannya dua kali di tahun 1945.

Selama era perang dingin, untung saja Rusia mampu menahan diri untuk tidak meluncurkan rudal nuklir dari pangkalan militer mereka di Kuba ke wilayah AS. Tindakan yang pasti menyulut terjadinya perang dunia ke-3 saat itu.

Connelly mengutip penyair Yunani kuno, Homer yang menganalogikan sifat manusia dengan pedang: “Pedang itu sendiri menghasut kekerasan”. Artinya, cepat atau lambat, senjata nuklir akan digunakan lagi.

Negara-negara pemilik nuklir tahu betul dampak nuklir bagi kerusakan bumi yang bisa berlangsung selama ribuan tahun. Karena itulah semua negara pemilik nuklir dengan kesadaran mampu menahan diri untuk tidak menggunakannya dalam konflik bersenjata.




Yang justru mengkhawatirkan adalah perang nuklir skala kecil, yang terbatas pada konflik regional antara India dan Pakistan. Jika itu terjadi, bukan hanya nyawa ratusan juta orang di masing-masing negara yang akan musnah, tetapi dampaknya akan mengancam kehidupan miliaran orang lainnya yang tinggal di planet bumi ini.

Pemicu yang paling mungkin menjadi penyebabnya adalah konflik berlatar ideologi agama selain faktor teritori. Sebagaimana diketahui, gesekan-gesekan kecil diantara kedua negara sudah kerap terjadi dan sering tidak terlepas dari konflik yang berlatar agama. Ini yang membuat hubungan kedua negara bertetangga itu seperti api dalam sekam.

Terlebih ideologi agama masih dipandang hal yang sangat sensitif bagi banyak orang di dunia. Dan orang mau bertindak irasional hingga mau ‘mengorbankan’ kesadaran berpikirnya demi agama.

Saya juga berharap jangan sampai terjadi perang nuklir antara kedua negara itu, karena bukan saja mereka yang hancur, kita pun tidak tahu apakah negara kita turut “menikmati” bencana dari sebaran debu radio aktif seandainya kedua negara itu berperang menggunakan nuklir.

Perang adalah kegilaan yang merusak, sayangnya manusia justru selalu berusaha menemukan cara baru melalui teknologi untuk membuat perang semakin efisien. Dan sayangnya lagi, faktor ideologi agama sering menjadi pemicu yang membuat orang saling berperang.






Leave a Reply