Kolom Eko Kuntadhi: IBU KE DUA SAYA

0
334

Kemarin dulu (11 Agustus) adalah ulang tahun ke-120 seorang penulis besar yang karyanya pada suatu masa setia menemani saya. Pada saat SD buku-buku Enid Blyton adalah bacaan favorit yang selalu saya buru. Buku lain yang menjadi teman saya adalah petualangan Old Shatterhand karya Karl May, atau buku detektif kecil karya Alfred Hitchcock, komik Asterik, Smurf, Tintin, Lucky Luke juga komik lokal seperti karya RA Kosasih, Djair, Djan Mintareja atau Ganesh TH.

Novel-novel Lima Sekawan karya Enid Blyton adalah yang paling saya suka. Kisahnya mengenai empat orang anak bersepupu bersama seekor anjing bernama Timmy. Mereka kerap bertemu dengan berbagai petualangan menarik, dengan teka-teki besar yang menantang untuk dipecahkan. Selain serial Lima Sekawan, Enid juga mengarang serial Pasukan Mau Tahu dan Sapta Siaga.

Membaca serial petualangan Enid Blyton pikiran kecil saya seperti diajak tamasya menjadi detektif kecil. Aksi-aksi yang seru dan rasa kemanusiaan yang membuncah. Kadang mereka bertemu anak-anak dari pemain sirkus keliling. Atau bertemu dengan orang dewasa jahat yang harus ditaklukan.

Di Indonesia genre kisah sejenis juga saya temukan dalam buku karya Arswendo Atmowiloto. Serial Imung yang pernah dimuat di majalah Hai saya rasa mengambil inspirasi dari novel karya Enid Blyton ini. Imung adalah anak kampung yang tinggal di rumah orang kaya. Kakinya selalu korengan. Tetapi anak ini berani dan cerdas luar biasa. Bersama Anita, puteri majikannya, Imung kerap memecahkan teka-teki menarik. Kisahnya dirangkai seperti serial detektif.

Dalam cover novelnya, wajah Imung milik Arswendo ini mirip teman saya Irwan Wisanggeni. Sampai sekarang, meski sudah menjadi ahli akuntansi dan dosen di berbagai universitas, dia tetap menggunakan nama Imung Parang Jati. Saya rasa nickname yang dipakai teman saya itu paduan antara tokoh Arswendo dengan tokoh dalam novelnya Ayu Utami.

Selain serial petualangan saya juga menikmati serial Enid yang lainnya. Misalnya kisah mengenai kehidupan sekolah asrama St Claire di Inggris, baik putra maupun putri. Di Indonesia kita bisa menemukan kisah sejenis dari novel Lima Menara karya Ahmad Fuadi yang menceritakan kehidupan Pesantren.

Bagi saya Enid Blyton yang juga dikenal sebagai Marry Pollock adalah seorang ibu yang ikut membantu membesarkan anak seperti saya. Ada jutaan anak di seluruh dunia yang ikut menikmati kisahnya dan buku-bukunya menjadi teman yang menyertai mereka tumbuh. Novel karya Enid sudah diterjemahkan dalam 3400 bahasa dan terjual lebih dari 600 juta copy.

Sepanjang karir menulisnya dia telah menghasilkan 735 buku. Rata-rata dia menerbitkan 15 buku dalam setahun masa kepenulisannya.

Saya sendiri merasa beruntung dulu belum ada gadget canggih seperti sekarang. Hingga hari-hari kecil saya bisa dihabiskan di kamar dengan buku dan komik yang berserakan. Imajinasi saya dimanjakan oleh penulis semacam Enid Blyton dan Karl May.




Saya masih ingat, ketika SD dulu, sering pura-pura sakit dan akhirnya diijinkan mama tidak masuk sekolah. Sebabnya karena saya baru menemukan novel baru yang lebih merangsang rasa ingin tahu saya ketimbang pelajaran sekolah.

Kepada orang-orang besar seperti bu Enid inilah saya ingin berterimakasih. Dia adalah ibu ke dua saya dan mungkin juga ibu kedua dari jutaan anak di dunia yang setia menamani anak-anak dengan kisah-kisah kerennya.

“Kalau saya lebih suka baca kisah Petruk, mas,” ujar Bambang Kusnadi. “Kalau kamu, kang?,” tanyanya kepada Abu Kumkum.

“Aku suka beli buku Teka-teki silang. Tapi gak pernah selesai ngisinya,” jawab Abu Kumkum.

“Terus yang waktu SD baca Enny Arrow, siapa?”

“Itu mah Bang Denny Siregar,” jawab mereka kompak.









Leave a Reply