Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Didoakan Gemuk, Niat Jahat Tifatul Terdeteksi

0
562

Tifatul Sembiring seenak jidat mengubah teks doa yang dia bacakan. Dengan berlindung pada niat baik, Tifatul seolah ingin dipuji, disanjung dan ditepuk tangan berkat doanya tersebut. Tifatul kemudian mengubah teks doa agar Jokowi yang kurus menjadi gemuk.

Di dalam teks doa yang tersebar di media, sebetulnya tak ada tertulis agar Jokowi yang kurus didoakan gemuk. Doa yang seharusnya sakral, Tifatul malah membuatnya menjadi lelucon. Sidang Tahunan MPR 2017, menjadi ternoda akibat doa politis Tifatul Sembiring itu.

Tifatul berniat baik dan secara spontan dalam doanya. Begitulah pembelaan diri Tifatul saat ditanya tentang doanya yang aneh itu. Pembelaan itu seolah-olah benar. Namun kalau ditelesuri dengan nalar waras, ternyata dalam doa tersebut ada udang di balik kerupuk.




Selain Tifatul terbukti tak paham tempat, waktu dan makna doa itu sendiri, Tifatul juga membuat lelucon doa. Tifatul tak paham bahwa doa yang dia tambah itu tak punya esensi, dan tak pantas diucapkan pada acara kenegaraan sekelas Sidang Tahunan MPR. Jokowi sendiri tidak pernah mengeluh dan mungkin ia tidak pernah ingin lagi menjadi gemuk. Lalu mengapa Tifatul dari PKS mendoakan agar Jokowi gemuk?

Jelas Tifatul ingin mengejek fisik Jokowi di muka umum. Inilah tembakan pertama Tifatul. Semua orang tahu bahwa Jokowi kurus. Dalam pandangan Tifatul, tubuh Jokowi yang kurus identik dengan sosok yang  lemah, tak berdaya dan tak punya kekuatan sama sekali. Itu berarti tubuh yang kurus dan yang lemah itu, tak cocok jadi Presiden. Presiden yang kurus tak punya kekuatan, tak punya energi untuk memimpin negara besar ini. Itulah ejekan mengerikan Tifatul.

Dalam kacamata Tifatul, mereka yang kurus bisa bermakna kekurangan asupan nutrisi, sistem imunnya tak berfungsi optimal, sehingga rentan terhadap penyakit. Jadi dalam ejekan Tifatul itu, Jokowi bisa berarti kekurangan nutrisi atau ada bagian pencernaannya yang tak berfungsi optimal. Beberapa penelitian memang mengungkapkan bahwa tubuh yang kurus namun insulinnya tinggi, beresiko tinggi terkena kanker usus.

Ejekan Tifatul kepada tubuh Jokowi yang kurus bisa juga dipahami sebagai sosok yang depresi. Apakah dalam kacamata Tifatul Jokowi sedang depresi? Di kalangan kaum bumi datar, anggapan itu bisa benar. Depresinya Jokowi bisa jadi karena ia terus membayangkan utang, kelangkaan garam atau tak sanggup lagi menjadi presiden.

Pandangan di atas bisa benar bagi mereka yang malas berpikir dengan nalar. Namun dalam pandangan kaum waras, kurusnya Jokowi selain karena dari sononya memang begitu, itu juga karena ia terus berperang melawan mafia pangan, mafia migas, dan ribuan mafia lainnya ditambah perang terbuka terhadap kaum radikal di negeri ini. Lalu, apa tembakan ke dua Tifatul dari doa kontroversialnya tersebut?

Tifatul memimpikan Jokowi gemuk. Alasanya jika Jokowi gemuk, maka kondisi itu identik dengan obesitas dan akrab dengan diabetes, kolesterol serta darah tinggi meski tak mutlak. Inilah niat jahat Tifatul yang terdeteksi. Artinya jika Jokowi gemuk, maka tubuhnya akan menjadi sarang penyakit diabetes, kolesterol dan darah tinggi. Dan kita pun paham jika seseorang telah mengidap penyakit seperti itu, maka kinerja seorang Jokowi akan turun drastis karena sibuk mengurusi tubuhnya yang gemuk. Jika demikian, maka mudahlah menekuk Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.

Jika Jokowi gemuk menurut isi doa Tifatul, maka Jokowi akan mempunyai tubuh yang buncit. Gara-gara tubuh Jokowi saat ini kurus, perutnya bebas lemak (tidak buncit), maka ia cenderung lebih aman dari risiko serangan jantung. Nah, jika Jokowi gemuk, perutnya berlemak, maka resiko penyakit jantung akan menghampiri Jokowi. Itulah niat jahat lain dari Tifatul yang terdeteksi.

Kemudian, jika Jokowi gemuk seperti Pak Mantan itu yang kemarin bernasehat ‘jangan cengeng’ padahal ia sendiri cengeng, maka pergerakannya lamban. Orang yang gemuk nan tambun akan membutuhkan lebih banyak kalori ketika beraktivitas. Gara-gara Jokowi saat ini kurus, maka ia lebih mudah bergerak ke seluruh penjuru negeri, dan bahkan ke penjuru dunia. Ia lebih mudah bergerak dari Aceh, terus ke Pontianak, terbang ke Papua, malamnya sudah ada di istana memimpin rapat 6 kali seminggu. Jokowi yang kurus ketika bergerak, hanya lebih sedikit membutuhkan kalori dibandingkan orang yang gemuk.

Jika Jokowi gemuk, maka bisa dipastikan pergerakannya lamban, tak bisa lagi leluasa pergi ke sana ke mari memantau proyek-proyek strategisnya. Jokowi yang gemuk, akan lebih banyak ongkang-ongkang kaki di istana belajar mengarang lagu, main gitar, atau membuat skenario mendapatkan Pustun-pustun ala Ahmad Fatanah dan Luthfi Ishaqq. Jika sibuk denga pustunnya, maka Jokowi akan tersandung. Bisa dipastikan Jokowi pada Pipres 2019 mendatang, akan keok dengan sendirinya. Itulah niat jahat Tifatul yang terdeteksi dari doanya.

Jadi, ketika Tifatul berdoa agar Jokowi yang kurus dibuat menjadi gemuk, Tifatul sedang menembak dua hal.  Pertama, ia mengejek Jokowi yang kurus, lemah dan tak kuat menjadi Presiden. Ke dua, jika doanya  terkabul lalu Jokowi tiba-tiba gemuk, gendut dan tambun, maka kinerjanya lamban. Dengan demikian mudah meng-KO-kannya pada Pilpres 2019 mendatang. Itulah niat jahat Tifatul yang terdeteksi. Jika demikian doa itu tak perlu diaminkan.








Leave a Reply