Di acara peringatan 17 Agustus 2017, Prabowo menebak gaji wartawan dari wajahnya.

“Gaji kalian kecil, kan? Keliatan dari wajahnya,” ujar Prabowo.

 

Lelaki yang selalu setia menjadi calon dalam setiap Pilpres ini tampaknya seorang ahli membaca kerut wajah.

Sayang, saya cuma membaca beritanya. Bukan melihat tayangan langsung kejadian itu. Sebab saya juga penasaran wajah wartawan yang seperti apa yang dituding Prabowo dengan gaji kecil itu.

“Kalian jarang belanja di mall, kan? Jujur aja deh,” ujarnya lagi.

Statemen ini makin membuat saya penasaran. Saya makin bingung wajah wartawan yang seperti apa yang dilihat Prabowo tadi siang.

Saya membayangkan wajah-wajah memelas sang wartawan berhadapan dengan mantan jenderal ini. Wajah-wajah yang kuyu seperti pengungsi jaman perang. Sehingga sampai dituding begitu.

Ok, terus kalau gaji wartawan kecil, emamg Prabowo bisa bikin apa? Mau nambahin gaji wartawan seluruh Indonesia? Pakai duit siapa?

Atau mau membeli mereka hingga mempengaruhi isi beritanya? Atau mau mengiming-iming kalau dia terpilih jadi Presiden lantas gaji wartawan akan naik? Kalau begitu gak usah jadi Presiden. Jadi ketua PWI aja.

Kalau saya jadi wartawan, dituding dengan cara seperti itu pasti saya tersinggung. Wartawan adalah profesi. Perjumpaannya dengan Prabowo saat liputan adalah perjumpaan profesional. Antara jurnalis dan sumber berita. Betapa menyakitkan omongan itu disemburkan di hadapan publik.

Kalau wartawan menjawab sindirian itu: “Pak Prabowo mau jadi Presiden gak kepilih-kepilih, kan? Keliatan kerutan mukanya makin nambah.”

Nah, gak enak, kan?

Tapi saya bisa menebak wajah juga, lho. Kalau ketemu orang tertentu saya bisa langsung tahu.

“Kamu simpatisan PKS, kan? Keliatan dari noraknya…”

“Kamu anggota FPI, kan? Keliatan dari uratnya.”

“Kamu jomblo, kan? Keliatan dari resletingnya…”

“Kamu pemuja Prabowo, kan? Pantesan jarang jajan…”

FOTO HEADER: Wartawati Fahrun Nissa saat bertugas menyusuri hutan yang terbakar di Banyuasin (Foto: Melly/Okezone)











1 COMMENT

  1. “Kalian jarang belanja di mall, kan? Jujur aja deh,” ujarnya lagi.

    Orang jujur jarang belanja di mall . . . wow . . . apa yang belanja di mall lebih banyak orang tidak jujur?

    Terlihat semakin tidak waras atau tidak simpatik pernyataan pak Prabowo ini. Teringat juga Tifatul Sembiring minta kepada Tuhan supaya Jokowi jadi gemuk kayak koruptor biasa alias gemuk perut buncit he he he . . .

    Ngomong-ngomong soal perut buncit, kalau melihat seorang polisi opsir rendahan sudah perut buncit . . . ingin mengusulkan kepada presiden RI supaya seua polisi perut buncit dibebas tugaskan saja, supaya lebih cekatan menjalankan tugasnya. Tidak mungkin rasanya orang buncit jadi militer atau polisi. Sejak semula kan orang-orang ini kekar dan sehat ramping, mengapa lama-lama jadi buncit perut tak karuan? Bebas tugaskan saja!

    Pak Prabowo dalam menghadapi Jokowi masih sama cara lama, kritik dan tidak mau memuji perbuatan dan politik Jokowi yang sudah banyak bikin perubahan. Berlainan sedikit dengan SBY, mau datang ke istana, walaupun pulang cepat sebelum penurunan bendera sang saka merah putih. Dan juga tidak mau hadir di sidang MPR. Tetapi SBY ada perubahan (taktik).
    Pak Prabowo masih ‘kasihan’ sama wartawan yang gajinya kecil, tak berani belanja di mall. Apakah wartawan-wartawan ini akan bikin berita maki Jokowi karena gajinya kecil? Rasanya tidak juga.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.