Kolom Asaaro Lahagu: Sisi Psikologis Ringgo, Penghina Keji Jokowi dan Tito

0
987

Di profile facebook-nya, Ringgo Abdillah, berwajah gagah, garang, galak dan berani dengan tatapan mematikan. Ia juga tampil mengesankan polisi karena sedang memegang senapan. Dari gambar profile itu, ia terlihat cerdas dan berotak. Pakaiannya di profile itu juga sopan dan beradab.

Namun, setelah dibekuk, Ringgo yang nama aslinya Muhammad Farhan Balatif (18 tahun), ternyata bukanlah seorang politikus yang paham doktrin Machiavelli. Ringgo, hanyalah seorang pelajar di sebuah SMK di Medan. Ia tergolong anak muda yang sangat labil, belum cukup ilmu, mudah terpengaruh, gagap bicara dan hanya berani di tempat tersembunyi. Farhan Balatif yang memakai nama samara Ringgo, bisa dipastikan tumbuh di lingkungan fanatik, intoleran dan jauh dari nilai-nilai kebenaran universal.




Ringgo alias Farhan, mewakili kesuksesan kaum bumi datar di negeri ini dalam membunuh karakter Presiden Jokowi. Seorang teman saya yang tinggal di dekat masjid, menuturkan bahwa indoktrinasi itu benar-benar sedang berlangsung. Selesai ibadat di masjid, saluran pembesar di TOA dimatikan. Lalu diteruskan dengan pengajaran kebencian kepada Presiden Jokowi, TNI-Polri dan para menterinya. Dengan suara senyap, indoktrinasipun berlangsung yang isinya tak bisa direkam dari jauh.

Indoktrinasi yang disebarkan, diulang-ulang. Isinya itu-itu saja. Semuanya fitnah keji. Presiden Jokowi adalah seorang PKI, komunis, tukang utang, anti Islam, anti ulama dan mau menjual negeri ini kepada negara asing. Jokowi tak tahu apa-apa, membuat semua kita pengangguran dan terus menjadi miskin. Jokowi penghancur bangsa kita. Kira-kira begitu indoktrinasi masif yang diajarkan secara masif, terstruktur dan massal. Hasilnya jutaan orang yang percaya.

Anak muda yang terindoktrinasi itu semakin percaya ketika mereka melihat realita hidupnya sehari-hari. Isi hinaan itu, seolah sejalan dengan berita buruk dari kinerja sang Presiden. Sementara tak satupun kebaikan sang Presiden yang diceritakan. Kalaupun ada kebaikan yang diberitakan di media-media, itu dianggap hoax, tak benar, palsu, dan dianggap pencitraan dari media-media pendukung Jokowi. Dari gambaran itu bisa dibayangkan betapa sulitnya mengubah pandangan kaum bumi datar terhadap pemimpin negaranya saat ini.

Ringgo alias Farhan, juga termakan fitnah-fitnah keji semacam itu di lingkungannya. Ia pasti sudah termakan indoktrinasi fitnah dari teman-teman atau lingkungan dimana dia bergaul beberapa tahun. Kebencian Farhan yang sudah mulai mendarah daging itu meluap-luap. Ia jelas tidak punya cara nyata untuk menyampaikan rasa bencinya. Namun, karena ia seorang anak SMK, sudah belajar sedikit bagaimana mengedit gambar, maka iapun memutuskan untuk menghina Jokowi dan Kapolri Tito di media sosial.

Gambaran kecerdasan Farhan sebetulnya bisa diukur dari kemampuannya memprediksi efek buruk dan konsekuensi dari tindakannya. Ia hanya yakin bahwa dengan memakai gambar profile orang lain, nama orang lain dan memakai saluran internet pihak lain yang password-nya ia  bobol, kedoknya tidak mungkin diketahui oleh polisi. Ia juga sama sekali buta informasi bahwa sudah banyak orang yang ditangkap dengan kedok yang sama dengan dirinya.

Cowgirl dengan baju kotak-kotak. Foto: Pinterest.

Ketika Ringgo alias Farhan merasa aman-aman saja dan menurutnya sukses mengelabui polisi, tak bisa menangkapnya, ia semakin menjadi-jadi. Hinaan demi hinaan keluar dari pikirannya dan menuliskan di status facebooknya.

Seminggu berlalu, namun belum ada satu pun polisi ciduk gue. Ada apa dengan institusi kepolisian?” tulis Ringgo di statusnya bertanggal 16 Juli 2017 itu.

“Nama gue sudah masuk Google tapi belum masuk penjara,” unggah Ringgo mengejek polisi.

“Setiap omongan yang keluar adalah omong kosong. Hei Polisi, gue gak takut sama ancaman loe… loe Cuma bisa gertak aja…”  ungkap Ringgo dalam statusnya yang lain.

Ejekan Ringgo Abdilah itu menjadi-jadi ketika gambar-gambar hinaannya kepada Presiden Jokowi dan Kapolri Tito Karnavian tak langsung direspon polisi. Iapun mengggunakan nalar pendeknya dan intuisinya bahwa ternyata polisi tak bisa melacak siapa dirinya sebenarnya. Gambar Presiden Jokowipun diinjaknya sebagai ekspresi kebenciannya. Dari situ bisa diketahui bahwa daya nalar Ringgo sangat pendek.

Ringgo, yang baru berumur 18 tahun, baru pelajar, jelas tidak tahu dan kurang paham bahwa polisi punya kemampuan melacak siapapun yang menyebarkan ujaran kebencian di dunia maya. Polisi punya teknologi khusus untuk itu. Kendatipun seseorang memakain profile orang lain, memakai computer orang lain sekalipun, mengaploadnya di tempat tersembunyi, gonta-ganti laptop atau gadget, gonta-ganti nomor provider internet, tetap saja polisi mampu melacak beberadaan pengumbar ujaran kebencian.

Jelas polisi selangkah dua langkah lebih pintar dari penjahat. Hanya secuil informasi saja, maka sosok penjahat, pembuat hoax, ataupun peng-upload ujaran kebencian dapat dilacak. Bagi polisi, tidak ada kesulitan apapun untuk melacak si Ringgo alias Farhan itu. Hanya saja, sumber daya di kepolisian terbatas untuk mengusut ribuan kasus kejahatan dunia maya. Oleh karena itu, polisi menetapkan skala prioritas, terutama akun-akun facebook yang sudah keterlaluan hinaan kejinya. Ringgo pun karena sudah keterlaluan, masuk dalam skala prioritas untuk dibekuk.

Ketika Ringgo pada akhirnya dibekuk [Sabtu,19/8], ternyata sosoknya tidak segarang hinaan-hinaannya. Ia hanyalah anak sekolahan bermuka polos, yang darah dagingnya sudah disusupi kebencian luar biasa kepada pemimpin negaranya. Ringgo alias Farhan, saat ditangkap, tak bisa berkutik. Ia seolah  harimau jantan yang garang, bengis dan kebal hukum di dunia lain. Namun setelah kedoknya dikuak, Ringgo tak ubahnya seekor kecoa yang terbalik di atas air parit, merintih-rintih ketakutan.

Setelah ditangkap, akhirnya sosok Ringgo sekaligus sisi psikologisnya dapat diketahui. Ia adalah seorang anak muda labil, berhasrat garang, bermuka dua, suka berkedok, berani di tempat tersembunyi, berotak pas-pasan, tak bisa memprediksi efek perbuatannya, tak mampu berpikir panjang, amat mudah terpengaruh, menulis apa yang ada di dalam hatinya tanpa sensor, suka popularitas, melihat dirinya amat hebat, tak jujur, dan merendahkan orang lain.

Kini Ringgo sudah ditangkap dan untuk sementara mendekam di tahanan dan selanjutnya melanjutkan hidupnya di penjara. Masih ada jutaan Ringgo yang mengumbar kebencian dengan dendam kesumat di republik ini. Namun sekurang-kurangnya dengan penangkapan Ringgo alias Farhan kemarin, kini berkurang satu Ringgo di belantara sosial media. Begitulah kura-kura.






Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.