Kolom Andi Safiah: IGNORANT NATION

1
498

Ada sebuah bangsa yang alamnya begitu lengkap, keindahannya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, semua manusia di penjuru planet ini tertarik untuk sekedar mampir sekaligus membuktikan langsung, bukan terjebak pada “katanya” yang biasanya menipu dan menyesatkan imagi.

Namun, walaupun bangsa tersebut dikaruniai dengan alam yang begitu indah, ada hal yang sedikit rumit terjadi dalam dinamika kehidupan manusianya. Mereka terjebak dalam ilusi keindahan visual yang sengaja diciptakan oleh ajaran yang sejak lama menyesatkan pikiran waras manusia di manapun ajaran ini bercokol.

Imaginasi palsu yang dicekokin dalam alam kesadaran manusianya telah sukses memutuskan hubungan mesranya dengan alam nyata dengan keindahan yang komplit. Terjebaknya mereka bukan tanpa alasan, dan alasan yang paling utama adalah “merawat virus ketakutan”. Padahal, dulu kala, mereka tidak pernah khawatir dengan apapun, apalagi sekedar takut pada hal-hal yang tidak jelas.

Inilah problem serius yang perlu dijawab oleh mereka yang secara tidak sengaja terlahir dalam dunia yang penuh dengan keindahan alam yang sangat nyata, real, bukan sekedar khayalan kosong.

Mimpi-mimpi palsu yang ditawarkan oleh sebuah ajaran yang jauh di sono. Jika mereka tau faktanya maka menangislah kalian sekeras-kerasnya, karena ternyata di tempat asal ajaran ini muncul, jangankan sungai, air pun harus diambil dan diolah dari laut. Mereka tidak punya sumber mata air murni yang muncrat langsung dari perut bumi, sementara kita memiliki semua itu tanpa harus lelah berpikir. Dia ada dan tersedia secara gratis di depan mata kita.

Lalu, mengapa kita masih begitu bodoh dan mau dibodohi oleh ajaran yang hanya melahirkan halusinasi bahkan delusi yang luar biasa?

Kita sudah lama dicap goblok, makanya secara tidak sadar kita ditipu selama ratusan tahun, bahkan ribuan tahun lamanya. Kita bahkan secara tolol mau mengorbankan apa saja untuk melengkapi tipu daya mereka dengan berkunjung ke tanah tandus nan gersang. Bahkan dengan harga yang begitu mahal, padahal kita punya semuanya. Kita punya laut yang begitu luas. Kita punya gunung yang begitu indah. Kita punya sungai di mana airnya mengalir sejak ribuan atau bahkan jutaan tahun lamanya. Kita punya segalanya.

Lalu, mengapa kita harus jauh-jauh mengambil mata air yang cuman di label suci? Di sini mata air pegunungan jauh lebih segar. Kita bisa langsung menikmatinya secara instant dan jika bicara unsur mineralnya air pegunungan yang kita punya jauh lebih lengkap.

Berhentilah bersikap tolol. Sadarlah bahwa bangsa ini bukan bangsa yang tolol. Bangsa ini mewarisi semua yang dunia mau. Tapi kita begitu tololnya mau dibodohi dengan menukar kenyataan serius dengan ilusi, mau mengganti air pegunungan murni dengan air hasil extrak dari laut yang dilabel suci. Benar kan kita begitu tolol?

Ingat, bangsa yang kaya alamnya tapi tolol manusianya akan sangat mudah diperdaya oleh bangsa yang alamnya miskin namun manusianya cerdas-cerdas. Dan, yang terjadi saat ini adalah demikian. Karena ketololan kita maka kita begitu mudah diperdaya oleh bangsa yang seukuran upil. Lagi-lagi karena mereka menyadari kelemahan serius yang mereka punya, tapi kita sampai saat ini justru hanya memakan jargon-jargon besar-tapi isinya nihils.

Jika ingin maju, maka dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Nelson Mandela: “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”

Artinya simple, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk merubah ketololan menjadi kecerdasan. Tapi ingat, bukan model edukasi ala agama yang jelas menabrak apa yang disebut kemajuan sekaligus kecerdasan, karena dalam agama menjadi manusia tolol bin idiot memang menjadi tujuan utamanya.

Jadi, jangan mau tolol, karena bangsa ini sudah begitu lama dibuat tolol oleh ajaran agama. Sudah saatnya otak diaktifkan dan terhubunglah dengan kenyataan alamiah di sekitarmu, agar kamu segera menyadari bahwa saya sedang hidup di atas bumi yang indah, lengkap dan mewah.

Berhentilah menjadi bangsa budak, apalagi diperbudak oleh dogma agama.

#Itusaja!










1 COMMENT

  1. “Bangsa ini mewarisi semua yang dunia mau. Tapi kita begitu tololnya mau dibodohi dengan menukar kenyataan serius dengan ilusi, mau mengganti air pegunungan murni dengan air hasil extrak dari laut yang dilabel suci. Benar kan kita begitu tolol?”

    Air bersih dari pegunungan dan alam indah mau diganti dengan air suci ilusi?
    Wow, . . . Dan bayarnya mahal pula. Kapan kapoknya bangsa ini ya?
    Dilusi lain, front pembela islam yang cari bidan anak Tuhan Jesus, dibilang pula front pembela keberagaman oleh seorang cagub.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.