Jika disimak dengan seksama, setelah beberapa orang yang melakukan ujaran kebencian, bahkan dengan nekat mengedit foto yang tidak pantas terhadap Pak Jokowi dan institusi negara, ternyata mereka semua adalah orang biasa. Bahkan ternyata juga sama sekali tidak berafiliasi dengan partai politik tertentu.

Kenapa orang-orang seperti halnya si Sri, lalu ada Bpk Tua yang di Kepulauan Riau, yang terakhir si Ringgo Abdillah begitu membabi buta bahkan seperti orang sakit jiwa dan hilang ingatan hingga teramat sangat membenci Pak Jokowi dan Pak Tito? Ada apa? Kenapa mereka belum juga move on?

Tiga tahun hidup dalam kebencian memang akan membuat siapapun menjadi gelap mata. Bayangkan, partai oposisi (meski secara de jure perpolitikan di Indonesia tidak mengenal adanya oposisi), yang ada partai di luar pemerintah, mereka selalu menghasut. Mereka secara masif dan terus menerus melihat pemerintahan Pak Jokowi seperti orang mengintip dari lubang kunci. Mereka hanya melihat sesuatu yang tidak jelas namun saat bercerita dibumbui dengan opini yang dahsyat.

Apakah mereka pernah bercerita tentang 20an proyek prestisius yang diselesaikan oleh Pak Jokowi? Tidak pernah. Apakah mereka pernah menulis tentang kemajuan tentang harga-harga serta pesatnya pembangunan di Papua? Juga tidak. Apakah mereka pernah mengulas kinerja Ibu Susi hingga menyelamatkan uang negara Triliunan? Juga mboten. Apakah mereka menceritakan Petral, bahkan telah menaklukkan Freeport hingga pembangunan infrastruktur? Juga sama sekali tidak.

Ada 2 penulis haters Pak Jokowi yang dahsyat di media sosial yang selalu mengintip dari lubang kunci. Pertama, Nanik S Deyang dan yang ke dua Jonru. Beliau berdua yang memang mempunyai basik jurnalistik, dengan kecerdasannya, berhasil membangkitkan emosi. Pembaca dibuat terbuai. Pengikutnya dibuat semakin gila-gilaan untuk membenci Pak Jokowi.




Dalam sebuah narasinya, seorang Nanik mengatakan begini: “Masya Allah, apakah petani dan nelayan silahkan mati? Apakah hanya orang kaya yang akan menguasai?”

Tentu, bagi pengikutnya yang kurang akal akan semakin membuat darah mendidih. Orang-orang sekelas Sri hingga Ringgo Abdillah menjadi kalap. Dan akan selalu muncul manusia korban dari dasyatnya provokasi.

Apalagi jika 2019 nanti Pak Jokowi terpilih kembali. Rasanya bukan darah mereka saja yang mendidih, bisa jadi Rumah Sakit Jiwa tidak cukup menampung mereka hingga tumpang tindih.

Apa anda tidak sedih?









Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.