Saat itu, tahun 1991, ketika cabang olahraga bulu tangkis masih menjadi favorit, bangsa ini dikejutkan oleh seorang perempuan mungil bernama Susi Susanti. Perempuan pertama yang memaksa pemain China yang lebih tinggi bertekuk lutut di ajang bergengsi All England.

Detik-detik penyerahan piala, yang langsung diserahkan oleh Ratu Elisabeth, Sang Saka Merah Putih perlahan naik diiringi lagu Indonesia Raya. Semua tidak bertanya Susi Susanti agamanya apa, suku apa, suka makan babi atau tidak, keturunan dari mana. Tidak ada. Tidak ada yang menanyakan itu! Semua bangga dengan Susi Susanti sebagai seorang Indonesia.

Semua hening. Semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Saat itu, semua berlinang air mata. Rasa haru, bangga dan bahagia berkecamuk jadi satu.

Saat itu, seorang Susi Susanti terus berlari ke semua sisi lapangan. Mengejar. Memukul. Bahkan, ketika bola-bola sulit harus merentangkan kaki di posisi lurus hingga menyentuh lantai. Meski itu sangat bahaya dan bisa cidera fatal.

Lalu, ketika kemarin atlit wushu putri Lindwell Kwok berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan menyabet emas, dan Sang Saka Merah Putih berkibar, juga diiringi lagu Indonesia Raya, siapa yang tidak bangga? Seperti halnya seorang Susi, apakah Lindwell Kwok juga ada yang menanyakan agamaya apa? Sukunya apa? Keturunan dari mana? Juga tidak ada. Semua bangga bahwa ada anak negeri yang berjuang demi nasionalisme dan Sang Saka Merah Putih berkibar.

Tentu, raihan prestasi ukurannya relatif. Seorang pendaki gunung tatkala menaklukkan gunung yang didaki dan menancapkan Merah Putih, itu adalah prestasi. Seorang pemain sepakbola yang berjuan keras bersama teamnya, itu adalah prestasi. Bahkan ketika sekelompok pemuda berhasil menaklukkan panjat pinang. Ketika sampai di puncak bersukacita sambil mengibarkan bendera. Itu adalah prestasi. Semuanya mempunyai nasionalisme yang tidak diragukan.

Dalam hal apapun, prestasi tentu butuh proses panjang. Butuh perjuangan, butuh latihan, butuh ilmu dan tidak pantang menyerah.




Namun akhir-akhir ini, yang terjadi di negeri ini ketika muncul seorang Pak Jokowi dan Pak Ahok, kenapa tiba-tiba prestasi dan nasionalisme sepertinya dikesampingkan? Kenapa hanya untuk sebuah kekuasaan yang tidak abadi harus dengan cara-cara menjijikkan dengan mempolitisir ayat dan mayat? Kenapa yang sok agamis, teriak-teriak yang paling bener, seakan malah tidak nasionalis. Bahkan di beberapa daerah Sang Saka Merah Putih dilecehkan?

Jika diperhatikan, kita semua bisa membedakan, mana tokoh agama yang materialistik dan hobby selangkangan dengan tokoh agama yang adem dan menyejukkan. Jika diamati, kita bisa menilai mana tokoh politik yang suka bikin gaduh dan politikus yang bekerja untuk rakyat.

Kita bisa tahu, siapa yang tidak mempunyai nasionalisme, yang mau merusak negeri ini dengan mereka-mereka yang mempunyai nasionalisme serta hormat terhadap Merah Putih.

Lalu, Ormas yang suka bikin gaduh, yang suka marah-marah, apakah termasuk? Pastinya, iya.

Lalu apakah Si Amin, Risik, Fadli, Fachri, Dani, juga termasuk? Kayaknya.

“Termasuk apa, Mas?”

Enaknya apa?







Leave a Reply