Mari kita flash back sebentar. Pada seorang intelektual ternama, menjadi pimpinan pusat organisasi Islam terbesar di Indonesia selama 7 tahun. Tulisannya tentang Masyarakat Madani dan Civil Society sangat populer, menjadi narasumber pencerah di banyak tempat, diakui dunia mendapat Award perdamaian Ramon Magsaysay. Dia mengabdi sebagai pendidik hingga tak kenal uzur meski usia sudah lebih 80. Dalam buaian pesona dunia, ia memilih hidup zuhud, bepergian naik sepeda, kereta, atau mobil sederhana. Anda tentu tahu, siapakah ia?

Saat politik kekuasaan DKI memuncak, tiba-tiba orang marah padanya. Karena keyakinannya bahwa perkataan gubernur “jangan mau diboongin PAKE Almaidah 51…” itu konteksnya bukan mencela agama. Tetapi orang menudingnya bagian dari manusia “hubbuddunia”. Bahkan ada teriakan agar ia menanggalkan gelar Buya yang biasa tersemat di namanya, karena katanya ilmu agamanya tak seberapa. Lalu mereka membandingkan dengan pandangan Buya Hamka tentang penista agama. Perbandingan yang tidak nyambung hulu hilirnya.




Oh saudaraku sayang. Bukalah mata agar semua nampak jernih dan nyata. Tersadarkah sekarang bagaimana yang sesungguhnya penista agama itu? Surat Alma’un: mereka yang tidak peduli pada kaum lemah, yang ibadah tapi lalai dan riya. Penista agama itu umat Islam sendiri. Yang rakus pada kekayaan dan kekuasaan. Politisi korup dan pengusaha kotor. Bukannya peduli memperjuangkan kesusahan saudaranya, justru malah menipu dan korbannya umat islam sendiri. Penista agama sesungguhnya adalah yang menikam dari dalam. Pada konteks ini, mungkin saja ada ustadz berkata: “Jangan mau diboongin pake Albaqoroh 196…”, ayat haji dan umroh. Paham kan maksudnya?

Dan semoga ini membuka pemahaman kita, bahwa gerakan aksi-aksi selama ini bukan bergerak sendiri. Masih percaya aksi bela agama MURNI? Ini kenyataan pahit bagi yang selama ini merasa sudah mati-matian aksi ikut bela ulama, bela agama. Anda dibohongi pake aksi bela-belaan yang sebetulnya digerakkan oleh agen POLITIK. Jika saja memang ADA aksi gerakan murni bela agama, mengapa tidak ada jutaan orang turun demo korupsi dana Alquran, mengapa tidak ada aksi atas sesama insan seagama korban First Travel yang puluhan ribu jumlahnya. Semua merasa ini penistaan. Kenapa tidak ada demonya, karena tidak ada agen politik yang melihat isu ini menarik dan seksi.

Sangat mungkin kejernihan pemikiran kita terkontaminasi oleh kelompok pencuci otak semacam Saracen yang terbukti dahsyat bekerja di sosial media. Kelompok tercela yang sengaja membuat ujaran kebecian dan fitnah membara. Mereka dibentuk untuk menciptakan virus kecemasan, kekacauan dan instabilitas di negeri kita. Dan cyber army menganggap menshare produk hoaxnya adalah ibadah. Karena nampak meyakinkan dan menggugah. Oh, no way, dear! Alquran memerintahkan tabayyun. Karena diantara kabar yang sampai dapat sesat dan menyesatkan. Menimbulkan perpecahan.

Menghadapi agenda kotor ini, kita sesungguhnya punya filter agama dan akal sehat. Keduanya menolak ujaran dengki. Apa namanya jika bukan dengki, ketika manusia zuhud seperti Buya Syafi’i Maarif dihina ‘hubbuddunya’. Padahal sangat mudah melihat bedanya. Apakah ia haus kekuasaan dan harta. Tudingan sering berbalik pada diri penudingnya. Dan inilah kontaminasi. Virus kebencian sudah tersebar menjadi penyakit hati. Dengki membuat orang menutup mata hati dan mengunci pikiran. Hasud melenyapkan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.

Sungguh bersyukur kita diberi waktu untuk berfikir ulang. Membaca dan memahami kenyataan yang berkembang. Dilarang menelan bulat-bulat hidangan. Makanan pun hanya nikmat dan bergizi setelah dikunyah bercampur enzim di lidah! Bersiaplah menerima jika ada kebenaran di luar diri kita. Allah memerintahkan membuka cakrawala pikiran untuk menyerap ilmu dan kearifan. Dan sebaik-baik teman adalah yang menunjukanmu pada kebaikan. Siapa yang mau berteman dengan Anniesa dan Andika yang hedon dan nyata “hubbuddunya” nggak ketulungan? Atau bergandeng tangan dengan Saracen penyebar propaganda kepalsuan?

Salam hangat









Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.