Kolom Ganggas Yusmoro: AKANKAH RADIKALISME MENGUASAI NEGERI?

0
345

Keberhasilan Anis Sandi di Pilkada DKI jelas merupakan buah “manis” dari pertarungan seru dan melelahkan. Sebuah keberhasilan yang harus ditebus dengan duka lara. Sebuah suksesi yang telah menelan korban pilu tentang keharmonisan dari nilai-nilai Humanisme yang akan menjadi catatan sejarah kelam sekaligus hitam di Bumi Pertiwi ini terkait demokrasi.

Dari pihak Anis Sandi, apakah mereka mau menyadari bahwa kemenangan itu telah melukai dan mencabik-cabik jalinan tenun kebangsaan? Ternyata mereka sama sekali tidak merasakan hal itu. Cara-cara mereka dianggap hal lumrah.

“Itu adalah sebagian dari strategi!” Itu teriak mereka lantang.

Terbukti. Setelah dinyatakan menang oleh KPU, mereka yang selama ini merasa tersisih oleh kebijakan Ahok kini merasa plong. Bersukacita hingga kawasan Kali Jodo tiba-tiba kembali marak dibangun di bawah jembatan. Juga, para PKL Tanah Abang meluapkan kegembiraan itu dengan kembali berjualan di pinggir jalan. Mereka lupa bahwa Anis Sandi dilantik bulan Oktober nanti.




Namun, satu hal yang menjadi catatan adalah bahwa Eforia dengan membangun tempat maksiat di kawasan Kali Jodo, PKl kembali marak berjualan di pinggir jalan, serta redanya isu Sara di Pilkada DKI adalah bukti bahwa strategi mereka sudah berhasil menjungkirbalikkan rasionalitas.

Meski 2019 masih cukup lama, meski kontestasi Pilpres 2 tahun lagi, Hawa panas dari isu SARA sudah mulai menyengat. Gelombang hoax dan serangan fitnah serta ujaran kebencian sudah masif digaungkan. Prabowo sudah “memberi” sinyal genderang perang untuk melawan tanding dengan Jokowi, sudah semakin nyata.

Ujug-ujug, kita semua dikejutkan oleh gebrakan Polisi menangkap orang-orang Saracen. para tengkulak hoax, para petualang penebar kebencian, para penjaja konten SARA. Bahkan juga disinyalir banyak politikus yang menggunakan jasa penebar konten SARA dengan imbalan rupiah yang luar biasa.




Fakta lain, konon, team IT pemenangan Anis Sandi juga akan diboyong ke Pilkada Jawa Barat. Apa artinya? Jelas, isu SARA, ujaran kebencian tentu sebagai amunisi untuk menjegal siapa saja lawan. Jika seperti halnya di DKI, tentu ngeri membayangkan apa yang akan terjadi di Jawa Barat nanti.

Rasanya, jika menjelang 2019 nanti isu SARA tidak diawasi, tidak ditindak tegas, tidak ditanggapi secara cepat dan tepat, negeri ini akan kembali hingar bingar seperti halnya Pilkada DKI.

Jika radikalisme menguasai negeri ini, rasa-rasanya yang dipertaruhkan adalah tergerusnya nilai kebhinnekaan.

Apa mau begitu?

Jika tidak, menangkan Jokowi kembali!





Leave a Reply