EMMY F. PURBA. PARAPAT. Selain geosite/ geoarea yang ada di kawasan Danau Toba, Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung diharapkan dapat menjadi bagian dari Geopark yang ada di Sumut. Sebagaimana hal tersebut diungkapkan oleh Kadis Lingkungan Hidup Provsu (Hidayati) di hadapan Wagubsu (Nurhajizah Marpaung), saat dua orang anggota Pos SAR Danau Toba (Herlan Sultan Abdul Albar dan Ardika Ermansyah Putra) menemuinya di Pesanggrahan Bung Karno (Parapat) belum lama ini.

“Agar Geopark kita bisa diakui oleh UNESCO, mereka sebenarnya meminta kita agar mempunyai 20 geosite/ geoarea. Tapi yang kita masukkan hanya 16 geosite/ geoarea. Tapi, bisa saja nanti kita masukkan juga Gunung Sibayak dan Sinabung ini menjadi geosite/ geoarea yang kita miliki,” sebut Hidayati.

Wagubsu menanggapi positif hal tersebut. Ia pun meminta Hidayati agar segera meresponnya dan dapat melibatkan SAR dalam Tim Geopark Toba.

“Bagus itu masukkannya. Segeralah dilakukan, Bu Ida. Dan kawan-kawan dari SAR ini juga harus kita libatkan dalam Tim. Apalagi ternyata mereka sudah punya Pos sendiri yang bertugas mengawasi seluruh kawasan Danau Toba ini,” sebut Nurhajizah.

Lebih jauh dikatakan oleh Hidayati, pihaknya belum memasukkan kawasan Sibayak dan Sinabung menjadi bagian dari geopark yang ada di Sumut. Hidayati menyampaikan pihaknya akan menelaah untuk merekomendasikan Gunung Sibayak dan Sinabung menjadi bagian dari geopark yang ada di Sumut. Akan tetapi, katanya, karena kondisi Gunung Sinabung masih sering terjadi erupsi, maka Gunung Sibayak untuk lebih dulu di masukkan menjadi geosite/geoarea.

“Sibayak nanti akan kita masukkan menjadi bagian dari geopark yang kita miliki, sehingga nantinya dari 16 geosite/geoarea yang ada bertambah 1 lagi menjadi 17 geosite/geoarea yang kita miliki saat ini. Setelah Sinabung berhenti erupsi, itupun akan kita jadikan sebagai geosite/geoarea. Kedua gunung ini nantinya merupakan bagian dari geosite/ geoarea Haranggaol,” ungkap Hidayati yang juga menjabat sebagai Sekretaris Tim Percepatan Geopark Toba.

Sebelumnya, Herlan Sultan Abdul Albar mengatakan kepada Hidayati bahwa saat ini kondisi Sibayak sangat-sangat memprihatinkan. Dari hasil pengamatan yang dilakukannya saat melakukan rescue terhadap turis Jerman yang hilang pada bulan Juni lalu, banyak sampah yang berserakan di kawasan Gunung Sibayak.

“Selain masalah sampah, di Sibayak itu juga tidak ada petunjuk-petunjuk jalan ataupun papan peringatan. Sehingga orang awam yang baru pertama sekali mendaki ke sana bisa dipastikan akan nyasar jika hanya naik sendiri dan tidak bertemu dengan pendaki lainnya, seperti kasus hilangnya turis Jerman kemarin itu,” sebut Albar.

Oleh karenanya, mereka berniat untuk membenahi kondisi Gunung Sibayak. Untuk itu, Albar pun mengharapkan bantuan dari pemerintah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup agar dapat membantunya dalam membenahi kondisi Gunung Sibayak.

“Setelah melakukan pencarian turis Jerman kemarin, saya berniat untuk bisa membenahi kondisi Sibayak. Tapi untuk hal itu, tentu tidak mungkin saya lakukan sendiri, makanya saya berharap kepada Ibu selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provsu bisa membantunya. Selain itu juga, saya akan menggandeng teman-teman dari penggiat alam lainnya, seperti anak-anak pencinta alam yang ada di Sumut. Agar kita bisa sama-sama membenahi kondisi Sibayak, terutama anak-anak pencinta alam. Sebab mereka inilah yang sering main di Sibayak,” ungkap Albar.

Menyahuti hal tersebut, Hidayati pun merespon positif apa yang disampaikan oleh Albar. Oleh karenanya, Hidayati meminta agar mereka bisa segera membuat konsep untuk pembenahan Gunung Sibayak.

“Nah, inikan kita masih sebatas sharing, jadi ke depannya kalian buatlah konsepnya seperti apa. Setelah itu kita akan bertemu lagi dan membahas konsep yang kalian buat itu. Sehingga kita bisa sama-sama membenahi kondisi Sibayak, dan Sibayak pun akan kita masukkan menjadi bagian dari geosite/ geoarea Haranggaol yang merupakan bagian dari Geopark Kaldera Toba,” pungkas Hidayati.








Leave a Reply