Tidak dipungkiri, Sejak Pilpres 2014 dan Pilkada DKI, situasi negeri ini terasa panas oleh sebuah hal yang mestinya kita semua tidak menginginkan. Isu Sara yang tentu saja sangat membahayakan keutuhan dan keberagaman yang bisa berdampak sangat buruk.

Tidak dipungkiri pula, sejak ada seseorang yang punya hobby nyapres terlihat rukun dengan Partai Sapi, ada hal yang membuat miris. Sungguh sangat mengkawatirkan dengan nilai-nilai Kebhinnekaan. Nyaris Hoax, isu SARA, ujaran kebencian begitu vulgar dan cetho welo welo menyebar di Media Online atau media Sosial.

Islam yang selama ini indah, Islam yang selama ini dibawa oleh para wali dan kyai NU terasa menyejukkan. Adhem. Saling menjaga, saling asah, asih dan asuh, saling mengedepankan tepo seliro, dan menjadikan negeri ini indah bagaikan pelangi diantara gerimis, oleh mereka agama ini ditunjukkan dengan berbeda. Dengan suka marah. Dengan suka bilang kofar kafir. Bahkan di beberapa daerah disertai Persekusi. Ancaman nyata. Itupun dengan kekerasan.

Yang lebih miris lagi, ujaran kebencian bukan lagi hanya disuarakan di ruang-ruang publik. Namun secara kasat mata, ujaran kebencian terhadap pemerintah sudah masuk di ruang tempat ibadah. Tempat yang mestinya sakral, suci, dan Religius.




Kenapa hal ini bisa terjadi?

Kalau mau disimak, setelah partai yang mengusung dakwah semakin tidak diminati, dan itu terbukti perolehan suaranya  di Pilpres 2014 semakin terjun bebas, mereka tentu harus berjibaku. Mereka memaksimalkan mesin perang mereka dengan senjata pamungkasnya yaitu agama.

Emosi dari para yang mengaku orang mempunyai agama disulut. Dikobarkan. Dibuat menggelora dengan iming-iming surga.

Organisasi yang nampak rukun dan mensupport kebenaran universal juga tidak luput diserang. Dihabisi. Dibuat bulan-bulanan. NU yang jelas berkiprah sejak kemerdekaan dihabisi dengan cara sadis. Kyai Said dihajar tidak ada habisnya.

Ketika partai yang berambisi ketemu manusia berambisi, maka muncullah para petualang yang ingin memanfaatkan situasi ini untuk mengeruk keuntungan. Muncullah Saracen. Orang-orang yang cerdas namun berhati culas.

Yang jadi soal, kenapa masih banyak orang yang bisa dibodohi? Seorang temen, Bpk Ali Ahmadi menyimpulkan begini:

“Kadang saya suka putus asa sampe ngomong: Salah sendiri gampang terpesona oleh simbol-simbol fisik. Orang dewasa itu mestinya sudah bisa meraba mana penipu mana pejuang. Gejalanya bisa diamati. Omongan dan akhlak sesuai atau tidak. Kalau masih selalu tertipu, ya, berarti memang dia memilih untuk bodoh.”

Mempertaruhkan Kebhinnekaan tentu harus ditebus dengan mahal. Banyak negeri di Timur Tengah menjadi perang karena ambisi. Dan Agama hanya diperalat.

Apakah kita mau bodoh?












Leave a Reply