Dengan tertangkapnya Saracen, dengan terkuaknya Industri Hoax, ujaran kebencian dan isu sara, bagaikan puncak gunung es yang meleleh dahsyat.

Superioritas seorang Jonru yang selama ini langsung menyerang di titik paling penting dan bahkan sebagai lambang negara, yang selama ini seakan tidak tersentuh hukum, apakah momentum ini akan bisa menjerat seorang Jonru?

Yang patut disimak di sini adalah, harus diakui bahwa Jonru mempunyai basic seorang penulis. Dia bisa mengendalikan emosi untuk menyerang dengan cara halus, dingin, dan lemah lembut namun mengena. Dengan kecerdasannya pula, Meski dia kadang juga terjebak oleh berita hoax. Dia cepat-cepat akan segera mendelete postingan yang sudah terlanjur menyebar tidak terkendali bagaikan kapas yang ditiup angin.

Jonru selalu menulis dengan gaya framing. Para pengikutnya diajak untuk mengikuti pola pikirannya, diajak untuk lari dari kenyataan, diyakinkan agar para pengikutnya tidak usah repot mencari sember berita yang valid, membuat pasukannya di media sosial hilang nalarnya hilang kewarasannya.

Apakah hanya seorang Jonru kupingnya tidak bisa dijewer supaya kapok?

Di sinilah strategi ciamik seorang Pak Tito memberantas hate speech. Ketika bola liar dengan ujaran kebencian, melecehkan simbol-simbol negara, memfitnah dan bahkan ada diantara mereka ditengarai akan berbuat makar, satu per satu dibuat tidak berdaya. Satu per satu bisa dibungkam. Mereka mereka saat ini diyakini sedang gelisah jika kasusnya diangkat kembali.

Ada Ratna Sarumpaet, Ahmad Dani, Sri Bintang Pamungkas, dll. Padahal mereka jelas mempunyai akses ke para petinggi partai. Lha, ini cuman Jonru? Yang cari makan dari media sosial. Saya rasa tidak sulit agar jempolnya dibuat tidak berdaya. Dan, yang lebih penting, negeri ini bisa lebih kondusif, lebih damai, tidak ada fitnah. Tidak ada yang menjonru.

‘”Lalu bagaimana caranya agar bisa menjewer Jonru, Mas?”

Setiap manusia pasti mempunyai jejak. Bisa jejak digital. Bisa jejak jejak perbuatan kriminal yang selama ini bisa jadi tidak diproses hukum. Sebuah kesalahan, jika ditelusuri akan bisa dijerat. Agar bisa dijewer. Itu seringkali terjadi jika ada orang-orang yang ditengarai mengganggu dan “membahayakan” institusi atau bahkan negara. Seperti halnya kasus cicak buaya, tiba-tiba Kusno Duaji dilaporkan dengan kasus yang puluhan tahun silam.

Tengok saja, Jonru akan dijewer kupingnya!

Waaah… jika kuping dua-duanya dijewer, kalau molor kayak alien, dong?

Huzzszzzs…








Leave a Reply