Kolom Daud Ginting: KEHILANGAN GADGET BAGAI MENGUNGSI DI RUMAH SENDIRI (Homeless)

0
384

Sudah merupakan hukum alam, siapapun yang kehilangan miliknya akan merasakan kesedihan mendalam, tersayat bahin dan terasa ada sesuatu yang tidak sempurna.

Ketika minggu lalu saya kehilangan telepon selular/ gadget, begitu tahu barang itu hilang, seketika pikiran panik, sedih, kesal bahkan untuk mengumpat pun mulut terasa disumbat benda besar. Semua serba salah, seharian uring-uringan, tidak semangat bahkan senyuman manis yang tersungging dari bibir orang terasa ledekan asam menerpa luka, pahit dan menyedihkan.

Demikianlah rasa tingginya intensitas keterganungan kita terhadap benda yang diberi nama handphone/ gadget, bila tidak menyentuh atau memegang handphone terasa ada sesuatu tidak terpenuhi -Tapi ironisnya kita tidak sadar telah ketergantungan dan maniak terhadap telepon selular ini- bahkan sudah bagaikan kebutuhan primer dan paling utama diatas kebutuhan lainnya.




Setelah sekian hari tidak memiliki gadget dan tidak mengutak-atik telepon pintar ini, jujur -Rasa ingin memiliki gadget baru daya tarik dan godaannya tetap lebih tinggi dibandingkan tekat atau upaya tidak memenuhi keinginan gadget- selain memang tidak memiliki dana untuk membeli, ada terbersit niat untuk menghindari diri dari ketergantungan terhadap alat komunikasi ini. Jika untuk sekedar komunikasi penting cukuplah memiliki handphone murah meriah, toh tujuan utamanya untuk komunikasi doang sebagaimana tujuan utamanya.

Namun untuk menentukan pilihan diantara dualitas opsi ini, butuh proses pergumulan pemikiran mendalam, menguras energi dan pertentangan bathin sehingga butuh proses cara berpikir meditatif kontemplatif sebagaimana pernah diungkapkan oleh Fenomenolog Heidegger. Yaitu tidak menekankan pada cara bagaimana kita dapat memahami atau mengetahui dunia atau orang lain, melainkan menekankan pada cara bagaimana dunia atau orang lain itu memberikan dirinya bagi kita sebagaimana adanya agar kita dapat memahami atau mengetahui sebagaimana adanya bukan berdasarkan persepsi kita sendiri (its manner of givenness).

Artinya, paling mendasar bukanlah dunia atau orang lain sebagaimana yang kita pahami, melainkan bagaimana dunia atau orang lain itu sebagaimana adanya di dalam dirinya. Membiarkan orang lain atau dunia menunjukkan apa adanya dirinya sangat dibutuhkan untuk mengatasi patologi “Krisis Berpikir” yang sedang marak melanda umat manusia dewasa ini.

Dalam kehidupan kita sehari-hari tidak jarang kita manusia mempergunakan ukuran atau cara berpikir yang dimilikinya untuk menjadi barometer menilai atau mengukur orang lain. Orang lain yang dianggap memiliki pola pikir atau prinsif yang tidak sesuai dengan kerangka pemikiran yang dimilikinya maka dianggap sebagai manusia asing, murtad, kafir bahkan dibenci, dikucilkan serta bila penting dibunuh.

Hidup di zaman moderen yang identik mengandalkan rasio menjadikan umat manusia pemborong kebenaran hanya berdasarkan kebenaran yang dianutnya sendiri, gampang menyalahkan orang lain, mengkambinghitamkan orang lain. Ironisnya orang tersebut tidak berkenan dikritik apalagi dipersalahkan padahal dia sendiri melakukan kesalahan dan mengalami penyimpangan cara berpikir, memutar balikkan fakta, melakukan kebohongan publik, bahkan memonopoli kebenaran menurut versinya sendiri tanpa berkenan mengakui keunggulan orang atau kebenaran orang lain, miskin apresiasi sehingga terkesan dan nampak secara kasat mata manusia seperti ini bersikap fundamentalis -Memonopoli Kebenaran- jauh dari rasa berempati, kasih sayang serta tidak memiliki sikap solidaritas apalagi subsidiaritas.

Padahal sebagai makluk sosial, yang memang butuh interaksi dengan sesama umat manusia maka setiap orang harus mampu dialogis, yaitu mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang lain, dan mau memahami apa yang menjadi kerangka berpikir orang lain walau tidak selamanya harus ikut larut menganut apa yang dianut atau yang dipikirkan orang lain, itulah essensi dialog, mau mengerti apa yang menjadi kerangka berpikir orang lain tanpa harus setuju dan menerima tanpa reserve pendapat orang lain. Sehingga dalam memutuskan kesepakatan juga adakalanya kita sepakat untuk tidak sepakat.




Gejala atau fenomena apakah yang sedang terjadi sehingga umat manusia dewasa ini sangat nampak egoistis dan mau menang sendiri serta sulit memberi apresiasi terhadap orang lain?

Itulah penyimpangan cara berpikir manusia moderen, karena hidup modernitas hanya mengandalkan akal atau rasio (Otak Kiri) akhirnya mengabaikan kemampuan belahan otak kanan yang memiliki kemampuan berempati, yaitu merasakan persis apa yang dirasakan orang lain. Bukan sekedar bersimpati dan memberi apresiasi semu, absurd dan hambar karena nampak sekedar pencitraan belaka.

Untuk bisa mencapai titik kesempurnaan hidup dan menjadikan manusia seutuhnya dan sesuai dengan eksistensuinya sebagaimana semestinya kemanusiannya maka dibutuhkan proses kemauan tidak melulu mengutamakan sikap keakuan, egois dan mau menang sendiri, dibutuhkan kerelaan mengendalikan diri dan membiarkan diri sendiri apa adanya tanpa memaksakan diri sebagaimana trend yang salah.

Manusia moderen itu identik dengan antroposentris, yaitu kehidupan yang berpusat kepada kemampuan manusia, segala sesuatu diukur berdasarkan kemampuan rasio manusia, manusia lah dianggap subjek dan segala sesuatu terutama alam semesta dianggap sebagai objek yang dapat dieksploitasi dan dikuasai manusia dengan kemampuan rasionalitasnya. Betapa sombongnya manusia seakan pemilik dan penguasa alam semesta padahal ada sesuatu kekuatan besar diluar diri manusia.

Banyak hal yang terjadi di luar kemampuan otak manusia menyadarinya, berarti ada sesuatu hal yang memiliki kekuatan di luar diri manusia itu sendiri, sehingga tidak layak dan tidak panas kita memonopoli kebenaran.

Kemajuan rasio manusia moderen memang mampu menemukan teknologi canggih, namun harus disadari bahwa tenologi itu diciftakan untuk membantu meringankan kehidupan manusia, tetapi teknologi itu bukan kehidupan itu sendiri, kehidupan lah yang mempergunakan teknologi, dan teknologi dipergunakan untuk sempurnakan kehidupan, bukan berarti hidup sempurna tergantung kepada teknologi.

Kehilangan gadget yang kualami menjadi momentum bagiku untuk merenung bahwa aku hidup bukan tergantung kepada gadget, tapi seandainya suatu saat aku mampu membeli gadget baru akan kujadikan gadget itu alat membantu kehidupanku, bukan sebaliknya hidupku tergantung terhadap gadget.

Hmmmmmm…… menenangkan diri sendiri sambil bermenung diri karena kehilangan sesuatu ternyata berbuah inspirasi heheheehe………

Iseng di siang hari ini semoga menjadi wacana yang kurangkai bermanfaat yea….. kehilangan sesuatu itu mengingatkanku kembali kepada sebuah ungkapan yang mengatakan “Besarnya arti sesuatu baru terasa ketika sesuatu itu tidak ada disamping kita”

SEPI…… Tapi Tetap Selamat Berpikir Merdeka !!






Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.