Kemungkinan iya. Jonru akan menuai badai dari angin yang ditaburkan. Akan berdarah-darah. Akan menghadapi hidup diantara gelombang.

Awalnya, bisa jadi para pengikutnya memberi suport. Namun, dalam berjalannya waktu, Jonru akan tertatih, berjalan terseok. Dan akan terpekur dengan kesedihan dan penyesalan.

Gerindra sudah jelas akan cuci tangan. Itu secara eksplisit sudah disampaikan dengan tegas tidak akan mendukung atau membantu penyebar fitnah. Meski barangkali dalam hati mereka juga mengakui bahwa kemenangan Anis Sandi sedikit banyak adalah partisipasi aktif dari pendukungnya yang fanatik. Jika Gerinda berani mendukung Saracen, sama halnya mengolesi air comberan di wajahnya sendiri. Kalkulasi itu juga termasuk untuk membantu atau membuang Si Jonru.




Lalu, bagaimana dengan PKS? Toh Jonru sebagai kader “kinasih”nya. Itu jika masih berguna. Sebagaimana Si Buni Yani yang jelas-jelas dengan video editannya berhasil mendatangkan pasukan FPI dan mengurung Jakarta saja sekarang meraung-raung menangis pilu. Tentu juga tidak akan dianggap sama sekali. Tidak direwes. Hewes hewesss.

Jika balada Jonru bernasib sama persis dengan Buni Yani, entah siapa yang akan jualan sprai dan kurung bantal guling lagi. Kasihan keluarga dengan 3 anak yang semoga juga tidak nangis guling-guling.

“Sabar, ya, nande. Abi lagi dizolimi para kecebong,” itu kira-kira sedu sedannya.

Kira-kira apa sambil nyanyi lagu yang berjudul Lasam-lasam.¬†Atau malah sudah lupa dengan asal usulnya? Terlalu kau, pal ….

VIDEO. Di bawah ini redaksi mempersembahkan sebuah lagu Karo terkait anggapan orang-orang bahwa Jonru Ginting sebagai Suku Batak, padahal dia adalah dari Suku Karo. Kebetulan pula kedua penyanyi, Tiofanta Pinem dan Ramona Purba pernah terkenal di blantika musik Indonesia tanpa banyak diketahui mereka adalah dari Suku Karo. Kami sertakan juga sebuah link puisi tentang Jonru Ginting dari seorang penulis yang juga merga Ginting berjudul SANG KELANA GINTING (klik judul)








Leave a Reply