Kolom Eko Kuntadhi: OBROLAN KAMBING MENJELANG KURBAN

2
974

Seekor kambing memeluk temannya. Wajahnya sayu. “Sampai sate memisahkan kita,” bisiknya parau. Temannya tersenyum. Dia hanya menjawab dengan menunjuk bulan yang malam itu terbit separuh. Mungkin hendak menenangkan hati yang sedikit galau.

“Lihat bulan itu. Sejak dulu dia setia hinggap di langit yang megah,” katanya berusaha mengalihkan pembicaraan. “Tataplah ke langit. Kita akan melihat sebentar lagi malaikat turun menjemput kita.”

“Kenapa Akang begitu, yakin?”

“Sebab hidup kita telah sedemikian berarti.”

“Maksud Akang?”

“Kita di sini. Manusia menyembelih kita untuk sebuah ritual ibadah. Mereka dapat pahala. Dapat balasan dari Tuhannya. Padahal mereka tidak mengorbankan apa-apa selain sedikit uangnya. Sementara kita harus mengorbankan nyawa. Mempersembahkan seluruh tubuh kita. Tapi manusia-manusia yang sombong itu merasa sudah berkurban.”




“Jadi pengurbanan kita lebih mulia?”

“Tidak juga. Kita tidak lebih mulia karena kita tidak bisa memilih antara kemuliaan dan keburukan. Dalam hidup kambing kemuliaan dan keburukan tidak ada bedanya. Tepatnya tidak ada yang mulia dari seekor kambing. Tidak ada yang buruk juga.”

“Jadi kita bebas melakukan apapun? Tanpa nilai? Tidak ada dosa dan pahala juga?”

“Iyalah. Bebas. Tuh, lihat. Di pojok sana. Padalah mereka sebentar lagi disembelih, masih sempat-sempatnya birahi.” Temannya menunjuk seekor kambing yang sedang berusaha menaiki kambing lainnya.

“Hihihhhihi… yang dinaiki itu kan, kambing cowok juga.”

“Nah, bahkan membedakan cewek dan cowok saja kita tidak mampu. Bagaimana mungkin kita bisa membedakan kemuliaan dan keburukan?”

“Tapi manusia ada juga yang suka indehoi di kandang kambing, kang?”

“Makanya dia suka mencampuradukkan antara kemuliaan dan keburukan. Persis kayak kambing.”

“Kalau kita tidak bisa membedakan kemuliaan dan keburukan. Tidak bisa membedakan apapun lantas apa gunanya Tuhan menghidupi kita?”

“Untuk manusia. Kita hidup dan mati untuk manusia. Itulah cara kita menyempurnakan kehidupan. Semua kita persembahkan untuk kebaikan manusia.”

“Kita sendiri dapat apa?”

“Ketika kamu bertanya akan dapat apa, kamu sudah bukan kambing lagi. Kamu sudah mirip manusia. Manusia itu berfikir tidak bisa lepas dari keuntungan dirinya. Semua yang dilakukan, selalu dipertanyakan bakal dapat apa. Bahkan untuk berbuat kebaikan saja mereka berfikir untuk dapat pahala.”

“Iya, sampai untuk berkurban saja mereka menghitung pahala dari setiap helai bulu dari tubuh kita. Padahal yang disembelih itu kita. Badan kita. Bukan mereka.”

“Nah, untuk itulah kita hidup. Agar manusia bisa dapat pahala.”

“Enak juga ya, jadi manusia. Dia mengorbankan kita. Tapi yang dapat pahala malah mereka. Kita tidak dapat apa-apa.”

“Tuhan Maha Adil.”

“Maksudmu?”

“Jika untuk menuju Tuhan manusia disibukkan dengan segala keputusan dan pilihan. Disibukkan dengan segala ibadah dan kebaikan. Kita tidak perlu begitu. Cukup disembelih saja. Nanti malaikat akan menjemput kita.”

“Jemputnya dengan bidadari?”

“Bidadari kambing? Kambing dibedakin, maksudnya? Hahahahahha…”

“Hahahahahah… bedak atau gincu gak ada bedanya buat kita, kang.”

“Nah, itu. Kita mah, disembelih, ya disembelih saja. Mati ya, mati saja. Ngapain mikir bidadari. Kita kalau ngaceng kapan saja bisa dekati cewek, tinggal naik. Tapi kita gak mikir dia kambing cantik atau jelek. Bagi kita setiap birahi datang, ya seperti menumpahkan sperma ke lubang yang baru. Itulah dunia kambing, bro…”

“Kang, jadi nanti kita akan dijemput malaikat?”




“Yups. Sebab kita sudah menyempurnakan kehidupan manusia. Untuk itulah tujuan hidup kita sesunggunya. Menyempurnakan manusia.”

Saat mereka sedang asyik ngobrol, tiba-tiba ada seseorang yang menyeret domba menuju kambing-kambing itu. Domba yang diseret berontak sekuat tenaga. Tapi orang-orang terus saja menyeret dan mendorongnya.

“Kang, kenapa domba itu tidak pasrah saja. Kenapa dia berontak seperti menolak dikurbankan?”

“Itu bukan domba, bro. Dia Srigala tapi berbulu Domba. Karena itulah dia kena sial sekarang. Harus menghadapi penjagalan, padahal seharusnya dia tidak termasuk hewan yang layak dikurbankan. Itulah hukuman setimpal bagi tukang fitnah. Pada akhirnya fitnah akan menusuk dirinya sendiri…”

Sambil terus berontak, Srigala berbulu Domba itu teriak seraya mengacungkan tangannya. “Saya tidak takut! Saya tidak takut!”













2 COMMENTS

  1. “Saya tidak takut! Saya tidak takut!”, kata srigala berbulu domba. Sang
    Srigala menambahkan: ‘saya bisa umroh dan tidak takut buron’.
    Srigala berbulu domba ini memang galak pada zamannya. Sayangnya perubahan zaman tak bisa dikendalikan oleh siapapun, termasuk oleh sang srigala. Zaman berubah, kesadaran manusia berubah, pasti juga manusia srigala. Hanya waktunya lebih panjang . . .

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.