Kolom Daud Ginting: BREAKDOWN PARADIGM

0
553

Modernitas anak kandung antroposentris mengandalkan rasionalitas mencapai puncak keberhasilan, dan dengan kemajuan teknologi canggih mestinya membantu meringankan hidup manusia. Tetapi, kemajuan zaman yang menjadikan manusia sebagai subjek atau penguasa, pengeksploitasi alam dengan ilmu pengetahuannya justru menjadikan manusia teralienasi, merasa asing terhadap dirinya, asing terhadap sesama dan terasa tersingkir dari alam.

Bahkan modernisasi dan kemajuan teknologi menempatkan umat manusia bagaikan orang menumpang tinggal di rumahnya sendiri (homeless), bahkan ada merasa nomaden. Modernitas adakalanya membuat seseorang hidup dalam penuh ketidakpastian (uncertainty).

Anthony Giddens dalam bukunya The Third Way membuat metafora kehidupan zaman modern bagaikan “Juggernaut”, truk besar meluncur tanpa kendali, yaitu kehidupan modern diselimuti ketidakpastian terus menerus di mana pun kita berada.

The world we live on today is not one subject to right human mastery,” kata Giddens.

Berkat kemajuan ilmu pengetahuan membidani lahirnya teknologi canggih. Ilmu kimia membantu manusia menghasilkan reaktor nuklir. Itu kemajuan spektakuler, namun jika ada orang gila hendak meledakkannya, maka tidak terbayangkan bagaimana efeknya terhadap manusia dan alam semesta.




Ilmu pengetahuan bisnis juga maju pesat berkat kemerdekaan berpikir, perusahaan maju pesat menggurita menjadi konglomerasi multinasional kolporasi tanpa mengenal batas negara. Banyak orang kaya raya berlimpah ruang harta atau asset, namun hanya karena suatu issue miring menerpa bursa efek maka tiba-tiba terjadi kebangkrutan dan menghancurkan perekonomian suatu negara.

Kemajuan ilmu pengetahuan mampu melakukan rekayasa genetika tumbuhan, memproduksi bibit yang dapat panen dalam waktu singkat, tetapi tanaman sangat tergantung kepada herbisida, pestisida dan pupuk yang harganya mencekik leher petani, sementara harga jual di serahkan ke mekanisme pasar yang tak sepi dari invisible hand. Petani pun merana, bagaikan hidup segan mati tak mau diatas lahan pertaniannya sendiri.

Sekali lagi, “Hidup zaman moderen ternyata penuh dengan ketidakpastian dan berada di tepi jurang ancaman yang setiap saat boleh jadi menghempaskan kehidupan dari ada menjadi tiada, bahkan menjadi musnah tanpa bekas, syukur jika hanya mati suri”.

Dalam kehidupan personal kita sehari-hari teramat sering kita kecewa, jatuh mental, tersiksa bathin bahkan menjurus sakit jiwa karena tidak mampu menerima kenyataan tidak sesuai dengan harapan dan kenyataan. Sebagai orang yang berilmu pengetahuan mumpuni secara rasionalitas kita telah merencanakan sesuatu secara matang, sesuai dengan metodologi ilmu pengetahuan, sistematis, terencana dan terukur namun ketika dieksekusi hasilnya jauh dari harapan, bahkan hasil akhirnya tidak dapat diterima secara logika, di luar jangkauan pemahaman orang berpengetahuan institusi pendidikan tinggi.

Kecewa, dan merasa terasing dari realitas kehidupan. Tidak mustahil kegagalan itu menimbulkan “Paradigma Paralisis” atau kebekuan kerangka berpikir, mandul berpikir jernih, menyalahkan pihak lain dan cenderung negative thinking.

Kehidupan zaman moderen ternyata menghadapkan kita ke suatu kondisi “Tidak selamanya kenyataan atau realita sebagaimana mesti yang kita inginkan”.

Kita sering kecewa… !!!

Di tengah dilema ketidakpastian atmosfir kehidupan yang tengah melanda umat manusia dibawah kolong langit zaman moderen ini menarik menyimak paparan Platon tentang “ARETE”, Hidup sukses menurut Platon.

Arete merupakan istilah Filsafat Yunani yang mengupas bagaimana manusia bisa meraih “Excellence” dalam hidupnya, atau dalam bahasa Indonesia menguraikan bagaimana manusia meraih kebahagiaan dengan cara meraih “Keutamaan” atau bagaimana menjadikan diri kita “manusia utama” melalui mendalami bagaimana kita bisa mengoptimalkan jiwa kita, khususnya rasio kita supaya berkatnya kita bisa mencapai kebahagiaan.




Menurut Platon, Semua orang hidup ingin mencari kebahagian dan berpikir bila sukses hidupnya otomatis kebahagian akan datang. Kehidupan sehari-sehari menawarkan banyak citra kesuksesan, misalnya jabatan terhormat, harta, reputasi dan keterkenalan, dengan memiliki citra itu dianggap cara paling cocok menampilkan citra diri elegan dan terhormat serta terpandang dimata orang lain, dan menganggap dengan sendirinya akan memperoleh kebahagiaan dengan memiliki citra demikian.

Banyak pihak justru menjejali alam bawah sadar kita resep-resep kesuksesan instan, pragmatis dan ilmu dianggap memiliki implikasi praktis, orang yang berpendidikan tinggi atau orang yang memiliki ilmu tetapi tidak memiliki uang dianggap tidak berharga bahkan dianggap sebagai orang gagal atau pecundang. Alias tidak perlu “content” yang penting menghasilkan uang atau tidak ?

Masyarakat takluk di bawah simbol-simbol kesuksesan material, hanya memberi rasa hormat kepada orang yang memiliki jabatan dan orang kaya materi. Hanya memberikan sambutan prima kepada tamu memiliki mobil mewah dan memandang sebelah mata kepada tamu pejalan kaki, dan pastinya akan mengabaikan tamu tak diundang.




Kesuksesan dengan nama terkenal, memiliki harta melimpah menjadi idaman banyak orang, padahal kebahagian tidak selamanya harus karena nama terkenal dan harta melimpah, reputasi juga tidak identik dengan kebahagian. Itu semua hanya “KESUKSESAN IMAGINER”.

Benjamin Franklin suatu ketika berkata “Success has ruined many man”, kesuksesan telah menghancurkan banyak orang. Kesuksesan yang direduksi pada uang dan status membuat orang terbenam dalam ketidakbahagiaan.

Untuk belajar sukses ala Platon manusia harus memiliki hasrat untuk mencari tahu yang dilandasi oleh pengetahuan akan diri sendiri, dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu maka kita akan mampu mengetahui segala sesuatu dengan bijaksana.

Diri sejati manusia adalah jiwanya dan bagian yang paling penting dalam diri manusia adalah rasio. Manusia dan hidupnya adalah bentukan dia sendiri, manusia dalam hidup dihadapkan pada pilihan-pilihan bebas yang di orientasikan kepada kebaikan.

Namun karena yang “baik” itu tidak selalu benar-benar baik maka untuk hidup sukses dan optimal maka jiwa manusia harus menundukkan diri pada pencerahan rasio, itulah hidup berkeutamaan dan penghayatan (Eros) harus dikendalikan dan di “Disiplin” kan sehingga dengan pencerahan hati maka hidup sukses adalah “MERAWAT JIWA”

Maka “Bukalah pintu hatimu !!!”













Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.