Memasuki Masjidil Haram, saya terpukau oleh cahaya yang mentereng. Gedung-gedung tinggi menjulang di sekelilingnya. Salah satunya adalah menara hotel yang di puncaknya ada jam maha besar, dengan tulisan Allah di atasnya.

Hotel ini berada persis di muka pagar Masjidil Haram. Gagah. Tinggi dan mewah. Dengan 8000 kamar, menjulang menembus langit. Ada pusat perbelanjaan di dalamnya. Plus berbagai fasilitas lain. Para jamaah umroh kelas VIP biasanya menginap di hotel ini.

Tapi orang ke Mekkah tentu bukan ingin menikmati kemewahan. Jika itu yang dicari, New York, Las Vegas atau Paris lebih cocok. Ada satu bangunan berbentuk kubus yang sebenarnya membetot seluruh umat Islam ke sana. Inilah kiblat sholat. Inilah pusat kegiatan umrah dan haji.




Memasuki Masjidil Haram saat ini, kita seperti berada dalam dua dunia : proses ritual dengan menapaktilasi sejarah para Nabi di satu sisi serta gemerlap kapitalisme di sisi yang lain.

Keduanya hadir, dan sayangnya, yang satu sedang mengalahkan yang lain. Kabah memang masih berdiri di tempatnya. Tapi petilasan lain yang mengandung makna sejarah telah dibuldozer. Kini umat Islam hanya bisa mendatangi Kabah. Selebihnya tinggal menikmati kemewahan ala kapitalisme.

Pusat-pusat belanja berdiri megah di seputar Masjidil Haram. Sepulang sholat jamaah, kita bisa shopping ke mall. Belanja segala macam barang. Betapa asyiknya. Kita dapat khusyuk beribadah, tanpa harus kehilangan hobi belanja. Memuaskan hasrat konsumtif.

Proyek pembangunan besar-besaran Masjidil Haram dan juga Masjid Nabawi telah membongkar ratusan tempat bersejarah yang dulu pernah menghiasi sejarah perjuangan Islam. Selain Kabah, kita akan bingung, dimanakah tempat bersejarah lainnya?

Rumah Ummu Hani, bibi Nabi, yang dari sana Nabi menjalankan Isra Miraj sudah dihancurkan. Demikian juga dengan kediaman Hamzah, sang pahlawan Uhud. Bukit Tuwa, tempat Nabi menginap sebelum menaklukan Mekkah kini dipenuhi bangunan.

Rumah di mana Nabi dilahirkan berubah jadi perpustakaan umum, dan akan dirobohkan demi proyek perluasan. Dan yang paling menyedihkan, rumah kediaman Saidah Khadijah istri Rasulullah, kabarnya telah berubah menjadi toilet umum.

Mengingat informasi ini, setiap ingin ke Masjidil Haram saya harus pastikan kondisi perut dan ginjal saya. Bukan apa-apa. Saya tidak mau menjadi orang yang ikut mengencingi lokasi dimana dulu Nabi tinggal. Lokasi dimana Rasul mulia pernah berkemul selimut ketika masa-masa awal penerima wahyu. Sementara saya tidak tahu persis dimana letaknya, diantara banyak toilet di sana.

Jamaah umroh dan haji saat ini, akan beribadah di tengah dentuman suara pembangunan. Dengan crane dan alat-alat berat di sekeliling kita. Crane yang juga pernah jatuh menimpa jamaah haji tahun lalu.

Bukan hanya Masjidil Haram, di Madinah proyek perluasan besar-besaran itu juga dilaksanakan. Makam Abdullah, ayah Nabi, telah dibongkar dan jasadnya dipindahkan ke pemakaman Baqi. Tanpa nisan pemberitahuan. Bahkan kabarnya, ada wacana untuk membongkar kubah makam kanjeng Nabi.

“Kita sudah kehilangan 98 persen tempat bersejarah di Makkah dan Madinah,” kata Direktur Eksekutif the Islamic Heritage Research Foundation, London, Inggris, Dr Irfan al-Alawi.

Menurutnya pembuldozeran itu akan terus dilakukan dengan alasan perluasan.

Pemerintah Saudi sendiri berargumen ini untuk memfasilitasi semakin banyaknya jemaah haji. Tapi tentu bukan hanya itu. Ideologi Wahabi yang kaku dan anti sejarah menjadi nafas pengeraknya. Sehingga semangat pembangunan, sekaligus menjadi pemberangusan lokasi-lokasi bersejarah.




Di pemakaman Mala, kubah makam Saidah Khadijah telah di bongkar. Di Baqi, makam kekuarga Nabi dibiarkan teronggok, beberapa tanpa nisan. Alasan mereka karena mengunjungi makam adalah bidah. Tapi raja-raja Bani Saud, kabarnya punya komplek pemakaman mewah. Sesuatu yang aneh.

Mengunjungi makam para penegak risalah, berdoa untuk penghuninya adalah sebuah ekspresi rasa cinta dan ucapan terimakasih. Juga sebagai napak tilas sejarah. Bukan untuk mempertuhankan makam –sebuah tudingan yang sering dilontarkan kaum Wahabi.

Sebab Islam bukan ujug-ujug datang dari langit. Islam berkembang dalam aroma kehidupan manusia pembawanya. Bergumul dalam sejarah masyarakat. Untuk itulah, kita merasa penting berziarah dan menapaktilasi tempat-tempat bersejarah tersebut. Agar kita dapat terus menerus merekonstruksi keimanan.

Ketika banyak arkeolog dunia sibuk mencari-cari situs sejarah, untuk mempertautkan masa kini dan masa lalu, di Mekkah dan Madinah ribuan lokasi penting perkembangan peradaban Islam sedang dihancurkan. Digantikan oleh gedung mewah, penuh cahaya dan sombong.

Lalu kita hanya bisa meresapi perjuangan Rasul dari lembaran buku-buku. Dari penulis masa lalu. Saat ingin melihat di mana rumah wanita perkasa yang paling awal beriman kepada Nabi yang kita dapati hanya kakus.

Mudah-mudahan kita tidak sampai hati ikut mengencinginya.









Leave a Reply