Sekarang tiba-tiba mempolitisir isu Rohingya untuk membuat gaduh negeri sendiri. Mereka tiba-tiba sok merasa bersaudara. Padahal, saat Pilkada DKI, mereka mengancam orang-orang pakai ayat. Bahkan mayat juga diancam. Padahal masih sama-sama satu golongan. Agamanya sama. Nabinya sama. Kitabnya juga sama.

Tiba-tiba sok perhatian Rohingya. Lalu menyalahkan Presiden. Padahal, Presiden sudah bersikap dan bergerak. Presiden tidak banyak ngomong memerintahkan menteri luar negeri. Malah pihak Myanmar hanya mau menerima perwakilan pemerintah Indonesia untuk berdialog. Negara lain ditolak.

Tiba-tiba membuat Tagar #save_Rohingya. Masif dan gencar mencari sumbangan. Padahal, sudah ada PBB. Sudah ada negara-negara ASEAN. Jika bercermin dari tragedi Alepo SURIAH, ternyata bantuan itu konon malah salah sasaran.

Tiba-tiba tragedi Rohingya dibuat isu betapa Jokowi seakan berdiam diri. Foto dan video hoax gencar dilakukan. Lagi-lagi dibungkus agama. Lagi-lagi mencari sensasi. Dan, ujungnya, masalah politik dalam negeri.

Tiba-tiba merasa berbicara kemanusiaan dengan tragedi Rohingya. Padahal, ketika ada tukang service yang juga dibakar masa tanpa ampun, bengis, kejam dan tidak berperikemanusiaan, mereka tidak seheboh ini. Mereka bungkam. Pura-pura tuli.Pura-pura buta.

Ketika kasus First Travel yang jelas menistakan agama, melecehkan sendi-sendi fundamental akhlak manusia beragama, mereka malah tidak berkomentar. Pada nyungsep. Malah negara yang diminta harus nomboki.

Tiba-tiba merasa superior. Padahal faktanya tidak sama sekali. Terbukti partai yang diusung perolehannya makin jeblok. Semakin tidak diminati.

Candi Borobudur sebagai warisan budaya yang adiluhung, tiba-tiba menjadi sasaran. Boro-boro bisa mbangun. Eehhhh… malah dijadikan kambing hitam.

Begitu lantang bersuara tentang Rohingya, hingga lupa bahwa fitnah, hoax, ujaran kebencian dan isu SARA seperti halnya yang dilakukan oleh SARACEN dan yang dilakukan oleh Jonru Ginting adalah juga sangat membahayakan keutuhan dan nilai-nilai luhur bangsa ini yaitu Berbhineka Tunggal Ika.








Leave a Reply